Logo BPS
BPS REPUBLIK INDONESIA

Berita Statistik BPS Republik Indonesia

November 2016 terjadi inflasi 0,47 Persen

November 2016 terjadi inflasi 0,47 Persen

2016-12-01

Pada November 2016 terjadi inflasi sebesar 0,47 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 126,18. Dari 82 kota IHK, 78 kota mengalami inflasi dan 4 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Manado 2,86 persen dengan IHK 127,58 dan terendah terjadi di Singkawang 0,05 persen dengan IHK 124,51. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Bau-Bau 1,54 persen dengan IHK 128,12 dan terendah terjadi di Kendari 0,22 persen dengan IHK 121,52. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan 1,66 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,25 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,16 persen; kelompok kesehatan 0,30 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,02 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,07 persen. Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, yaitu kelompok sandang 0,01 persen. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–November) 2016 sebesar 2,59 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (November 2016 terhadap November 2015) sebesar 3,58 persen.Komponen inti pada November 2016 mengalami inflasi sebesar 0,15 persen; tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–November) 2016 sebesar 2,84 persen; dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (November 2016 terhadap November 2015) sebesar 3,07 persen.

Download PDF
Oktober 2016 Rupiah Terdepresiasi 0,44 Persen Terhadap Dolar Amerika

Oktober 2016 Rupiah Terdepresiasi 0,44 Persen Terhadap Dolar Amerika

2016-11-15

Rupiah terdepresiasi 0,44 persen terhadap dolar Amerika pada Oktober 2016. Level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Amerika terjadi pada minggu ketiga Oktober 2016 yang mencapai Rp13.008,52 per dolar Amerika. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang mencapai Rp13.300,00 per dolar Amerika pada minggu pertama Oktober 2016.Rupiah terdepresiasi 0,48 persen terhadap dolar Australia pada Oktober 2016. Level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Australia terjadi pada minggu ketiga Oktober 2016 yang mencapai Rp9.942,27 per dolar Australia. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Sulawesi Barat yang mencapai Rp10.045,50 per dolar Australia pada minggu ketiga Oktober 2016.Rupiah terapresiasi 2,99 persen terhadap yen Jepang pada Oktober 2016. Level tertinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap yen Jepang terjadi pada minggu keempat Oktober 2016 yang mencapai Rp124,32 per yen Jepang. Sedangkan menurut provinsi, level tertinggi kurs tengah terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang mencapai Rp117,50 per yen Jepang pada minggu keempat Oktober 2016.Rupiah terapresiasi 2,40 persen terhadap euro pada Oktober 2016. Level tertinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap euro terjadi pada minggu keempat Oktober 2016 yang mencapai Rp14.154,05. Sedangkan menurut provinsi, level tertinggi kurs tengah terjadi di Provinsi Sumatera Barat yang mencapai Rp13.950,00 per euro pada minggu keempat Oktober 2016.

Download PDF
Upah nominal harian buruh tani nasional Oktober 2016 naik sebesar 0,28%

Upah nominal harian buruh tani nasional Oktober 2016 naik sebesar 0,28%

2016-11-15

Upah nominal harian buruh tani nasional pada Oktober 2016 naik sebesar 0,28 persen dibanding upah buruh tani September 2016, yaitu dari Rp48.235,00 menjadi Rp48.368,00 per hari. Upah riil mengalami kenaikan sebesar 0,24 persen. Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Oktober 2016 naik 0,70 persen dibanding upah September 2016, yaitu dari Rp82.480,00 menjadi Rp83.057,00 per hari. Upah riil mengalami kenaikan sebesar 0,56 persen.

Download PDF
Ekspor Indonesia Oktober 2016 mencapai US$12,68 miliar dan impor Oktober 2016 mencapai US$11,47 miliar

Ekspor Indonesia Oktober 2016 mencapai US$12,68 miliar dan impor Oktober 2016 mencapai US$11,47 miliar

2016-11-15

EKSPORNilai ekspor Indonesia Oktober 2016 mencapai US$12,68 miliar atau meningkat 0,88 persen dibanding ekspor September 2016. Demikian juga dibanding Oktober 2015 meningkat 4,60 persen.Ekspor nonmigas Oktober 2016 mencapai US$11,65 miliar, naik 1,22 persen dibanding September 2016, sementara dibanding ekspor Oktober 2015 naik 8,43 persen.Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia JanuariOktober 2016 mencapai US$117,09 miliar atau menurun 8,04 persen dibanding periode yang sama tahun 2015, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$106,37 miliar atau menurun 4,65 persen.Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Oktober 2016 terhadap September 2016 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$287,1 juta (19,02 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$158,8 juta (37,28 persen).Ekspor nonmigas ke Tiongkok Oktober 2016 mencapai angka terbesar yaitu US$1,68 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,30 miliar dan Jepang US$1,14 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 35,37 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,22 miliar.Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan JanuariOktober 2016 turun 2,59 persen dibanding periode yang sama tahun 2015, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 14,30 persen, demikian juga ekspor hasil pertanian turun 13,81 persen.Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada JanuariOktober 2016 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$21,06 miliar (17,98 persen), diikuti Jawa Timur US$15,34 miliar (13,10 persen) dan Kalimantan Timur US$11,20 miliar (9,57 persen).IMPORNilai impor Indonesia Oktober 2016 mencapai US$11,47 miliar atau naik 1,55 persen apabila dibandingkan September 2016, demikian pula jika dibandingkan Oktober 2015 naik 3,27 persen. Impor nonmigas Oktober 2016 mencapai US$9,94 miliar atau naik 4,27 persen jika dibandingkan September 2016. Demikian pula apabila dibandingkan Oktober 2015 naik 6,33 persen. Impor migas Oktober 2016 mencapai US$1,53 miliar atau turun 13,13 persen jika dibandingkan September 2016, demikian pula apabila dibandingkan Oktober 2015 turun 12,97 persen.Secara kumulatif nilai impor Januari–Oktober 2016 mencapai US$110,17 miliar atau turun 7,50 persen dibanding periode yang sama tahun 2015. Kumulatif nilai impor terdiri dari impor migas US$15,30 miliar (turun 27,73 persen) dan nonmigas US$94,86 miliar (turun 3,12 persen).Peningkatan impor nonmigas terbesar Oktober 2016 adalah golongan mesin dan peralatan listrik US$80,9 juta (6,25 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan serealia US$53,8 juta (22,19 persen) Tiga negara asal barang impor nonmigas terbesar Januari–Oktober 2016 adalah Tiongkok dengan nilai US$24,48 miliar (25,80 persen), Jepang US$10,64 miliar (11,21 persen), dan Thailand US$7,30 miliar (7,69 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai pangsa pasar 21,77 persen, sementara dari Uni Eropa 9,19 persen. Nilai impor golongan bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari–Oktober 2016 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing sebesar 8,60 persen dan 11,80 persen. Sebaliknya impor golongan barang konsumsi meningkat 13,75 persen.

Download PDF
Ekonomi Indonesia triwulan III 2016 tumbuh 5,02 persen, melambat dibanding triwulan II 2016

Ekonomi Indonesia triwulan III 2016 tumbuh 5,02 persen, melambat dibanding triwulan II 2016

2016-11-07

Perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan III-2016 mencapai Rp3.216,8 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.428,7 triliun. Ekonomi Indonesia triwulan III-2016 terhadap triwulan III-2015 (y-on-y) tumbuh 5,02 persen, melambat dibanding triwulan II-2016 yang tumbuh 5,19 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 9,20 persen. Dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi LNPRT sebesar 6,65 persen diikuti oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga dan Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto.Ekonomi Indonesia triwulan III-2016 terhadap triwulan sebelumnya (q-to-q) tumbuh 3,20 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 5,34 persen, sedangkan dari sisi Pengeluaran pada Komponen Pengeluaran Konsumsi LNPRT sebesar 4,26 persen dan Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga sebesar 3,48 persen. Ekonomi Indonesia sampai dengan triwulan III-2016 (c-to-c) tumbuh 5,04 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha kecuali Pertambangan dan Penggalian yang mengalami penurunan sebesar 0,24 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran terutama didorong oleh Komponen LNPRT yang tumbuh 6,59 persen dan Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang tumbuh 5,01 persen. Struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan III-2016 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 58,40 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 22,02 persen, dan Pulau Kalimantan 7,72 persen.

Download PDF
Kondisi Bisnis dan Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan III-2016 Meningkat

Kondisi Bisnis dan Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan III-2016 Meningkat

2016-11-07

A. Penjelasan UmumIndeks Tendensi Bisnis (ITB) adalah indikator perkembangan ekonomi usaha terkini yang datanya diperoleh dari Survei Tendensi Bisnis (STB) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik bekerja sama dengan Bank Indonesia. STB dilakukan setiap triwulan di beberapa kota besar terpilih di seluruh provinsi di Indonesia. Jumlah sampel STB triwulan III-2016 sebesar 5.074 perusahaan besar dan sedang, dengan responden pimpinan perusahaan. ITB merupakan indeks yang menggambarkan kondisi bisnis dan perekonomian pada triwulan berjalan dan perkiraan pada triwulan mendatang.B. Kondisi Bisnis Triwulan III-2016Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada triwulan III-2016 sebesar 107,89, berarti kondisi bisnis meningkat dari triwulan sebelumnya. Namun tingkat optimisme pelaku bisnis lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan II-2016 (nilai ITB sebesar 110,24).Peningkatan kondisi bisnis pada triwulan III-2016 terjadi pada semua lapangan usaha. Peningkatan tertinggi terjadi pada lapangan usaha Konstruksi dengan nilai ITB sebesar 111,74. Sementara itu, peningkatan kondisi bisnis terendah terjadi pada lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian dengan nilai ITB sebesar 102,26. Kondisi bisnis pada triwulan III-2016 meningkat karena adanya peningkatan pendapatan usaha dengan nilai indeks sebesar 110,35, kapasitas produksi/usaha dengan nilai indeks sebesar 108,37, dan rata-rata jumlah jam kerja dengan nilai indeks sebesar 105,35.C. Prospek Bisnis Triwulan IV-2016Nilai ITB pada triwulan IV-2016 diprediksi sebesar 106,29 berarti kondisi bisnis diperkirakan akan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun, tingkat optimisme pelaku bisnis diperkirakan lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan III-2016 (nilai ITB sebesar 107,89).Kondisi bisnis di semua lapangan usaha pada triwulan IV-2016 diperkirakan mengalami peningkatan, kecuali lapangan usaha Pertanian, Kehutanan & Perikanan (nilai ITB sebesar 98,45). Peningkatan kondisi bisnis tertinggi diperkirakan terjadi pada lapangan usaha Konstruksi dengan nilai ITB sebesar 112,56, dan peningkatan terendah diperkirakan terjadi pada lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian dengan capaian ITB sebesar 100,60.

Download PDF
Agustus 2016: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,61 Persen

Agustus 2016: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,61 Persen

2016-11-07

KEADAAN KETENAGAKERJAAN AGUSTUS 2016 DIBANDING AGUSTUS 2015 Pada Agustus 2016, jumlah angkatan kerja sebesar 125,44 juta orang naik sebanyak 3,06 juta orang dibandingkan Agustus 2015. Jumlah penduduk bekerja meningkat sebanyak 3,59 juta orang. Jumlah penganggur turun sebanyak 530 ribu orang. Hampir semua sektor mengalami kenaikan penyerapan tenaga kerja, kecuali Sektor Konstruksi turun sebanyak 230 ribu orang (2,80 persen). Kenaikan jumlah tenaga kerja terutama di Sektor Jasa Kemasyarakatan sebanyak 1,52 juta orang (8,47 persen), Sektor Perdagangan sebanyak 1,01 juta orang (3,93 persen), dan Sektor Transportasi, Pergudangan, dan Komunikasi sebanyak 500 ribu orang (9,78 persen). Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mengalami peningkatan sebesar 0,58 persen poin. TPT mengalami penurunan sebesar 0,57 persen poin.

Download PDF
Pertumbuhan produksi IBS naik 5,07 persen dan IMK naik 5,75 persen pada triwulan III tahun 2016 dari triwulan III tahun 2015

Pertumbuhan produksi IBS naik 5,07 persen dan IMK naik 5,75 persen pada triwulan III tahun 2016 dari triwulan III tahun 2015

2016-11-01

Industri Manufaktur Besar dan SedangPertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan III tahun 2016 naik sebesar 5,07 persen (y-on-y) terhadap triwulan III tahun 2015. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional, naik 11,26 persen, industri makanan, naik 7,70 persen dan industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, naik 7,28 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri karet, barang dari karet dan plastik, turun 12,58 persen, industri pengolahan lainnya, turun 9,83 persen dan industri tekstil, turun 8,96 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan III tahun 2016 naik sebesar 0,89 persen (q-to-q) terhadap triwulan II tahun 2016. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan terbesar adalah industri komputer, barang elektronik dan optik, naik 6,77 persen, industri barang galian bukan logam, naik 3,89 persen dan industri makanan, naik 3,21 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya, turun 8,97 persen, jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan, turun 7,91 persen dan industri logam dasar, turun 7,62 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan III tahun 2016 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Aceh naik 15,55 persen, Provinsi Riau dan Provinsi DKI Jakarta, masing-masing naik 10,48 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Sulawesi Barat turun 7,03 persen, Provinsi Papua Barat turun 4,93 persen, dan Provinsi Bali turun 3,53 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan III tahun 2016 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Jambi naik 13,45 persen, Provinsi Aceh naik 10,10 persen, dan Provinsi Sumatera Utara naik 8,38 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Jawa Tengah turun 5,04 persen, Provinsi Sumatera Barat turun 4,11 persen, dan Provinsi Bengkulu turun 2,91 persen.Industri Manufaktur Mikro dan KecilPertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan III-2016 naik sebesar 5,75 persen (y-on-y) terhadap triwulan III-2015. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri komputer, barang elektronika dan optik sebesar 34,11 persen, industri percetakan dan reproduksi media rekaman (20,84 persen), serta industri kertas dan barang dari kertas sebesar 19,05 persen. Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah barang logam bukan mesin dan peralatannya turun 12,40 persen, jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatannya turun 7,90 persen, serta industri karet, barang dari karet dan plastik turun 2,20 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan III-2016 turun sebesar 2,06 persen (q-to-q) terhadap triwulan II-2016. Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi terbesar adalah jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatannya turun 8,91 persen, industri peralatan listrik turun 8,66 persen, serta industri kendaraan bermotor turun 8,20 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan pertumbuhan terbesar adalah Industri pengolahan tembakau naik 12,36 persen, industri farmasi, obat dan obat tradisional naik 8,73 persen, serta industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia naik 6,70 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan III-2016 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Barat naik 30,69 persen, Provinsi Maluku Utara naik 24,87 persen, dan Provinsi Maluku naik 22,93 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung turun 15,08 persen, Provinsi Jawa Barat turun 4,32 persen, dan Provinsi Kepulauan Riau turun 3,92 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan III-2016 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Barat naik 8,87 persen, Provinsi Sulawesi Utara naik 8,25 persen, dan Provinsi Maluku naik 6,33 persen, Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung turun 14,41 persen, Provinsi Kepulauan Riau turun 11,38 persen, dan Provinsi Jawa Barat turun 9,02 persen.

Download PDF
Triwulan III - 2016 Harga Produsen Mengalami Inflasi 0.91 Persen

Triwulan III - 2016 Harga Produsen Mengalami Inflasi 0.91 Persen

2016-11-01

Indeks Harga Produsen (IHP) triwulan III-2016 naik 0,91 persen terhadap triwulan II-2016 (q-to-q) dan naik 1,84 persen terhadap triwulan III-2015 (y-on-y).IHP Sektor Pertanian triwulan III-2016 naik 1,06 persen terhadap triwulan II-2016 (q-to-q) dan naik 1,94 persen terhadap triwulan III-2015 (y-on-y).IHP Sektor Pertambangan dan Penggalian triwulan III-2016 naik 3,97 persen dibandingkan triwulan II-2016 (q-to-q) dan naik 1,83 persen terhadap triwulan III-2015 (y-on-y).IHP Sektor Industri Pengolahan triwulan III-2016 naik 0,49 persen terhadap triwulan II-2016 (q-to-q), demikian pula terhadap triwulan III-2015 (y-on-y) naik 1,81 persen.IHP Sektor Akomodasi, Makanan dan Minuman triwulan III-2016 naik 0,35 persen terhadap triwulan II-2016 (q-to-q) dan naik 1,03 persen terhadap triwulan III-2015 (y-on-y).IHP Sektor Angkutan Penumpang triwulan III-2016 naik 4,38 persen terhadap triwulan II-2016 (q-to-q) demikian pula terhadap triwulan III-2015 (y-on-y) naik 3,50 persen.

Download PDF
Nilai Tukar Petani (NTP) Oktober 2016 Sebesar 101,71 Atau Turun 0,30 Persen

Nilai Tukar Petani (NTP) Oktober 2016 Sebesar 101,71 Atau Turun 0,30 Persen

2016-11-01

NTP nasional Oktober 2016 sebesar 101,71 atau turun 0,30 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun sebesar 0,22 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik sebesar 0,07 persen.Pada Oktober 2016, NTP Provinsi Sulawesi Utara mengalami penurunan terbesar (1,34 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Sulawesi Barat mengalami kenaikan tertinggi (1,09 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya.Pada Oktober 2016 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,04 persen disebabkan oleh naiknya enam dari tujuh indeks kelompok konsumsi rumah tangga. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Oktober 2016 sebesar 110,26 atau turun 0,40 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.

Download PDF