Berita Statistik BPS Republik Indonesia
Desember 2016 harga grosir naik 0,56%
2017-01-03
Pada Desember 2016 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen naik sebesar 0,56 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB tertinggi terjadi pada Sektor Pertambangan dan Penggalian sebesar 0,97 persen.IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Desember 2016 naik sebesar 0,15 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga komoditas batu bata sebesar 0,83 persen, besi lainnya 0,80 persen, genteng dan atap lainnya 0,54 persen, batako 0,54 persen, dan bak dan tangki 0,52 persen.IHPB Bahan Baku, Barang Konsumsi, dan Barang Modal pada November 2016 masing-masing mengalami kenaikan sebesar 0,39 persen, 0,50 persen, dan 0,08 persen terhadap bulan sebelumnya.
Download PDFDesember 2016 Inflasi 0,42 Persen
2017-01-03
Pada Desember 2016 terjadi inflasi sebesar 0,42 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 126,71. Dari 82 kota IHK, 78 kota mengalami inflasi dan 4 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Lhokseumawe sebesar 2,25 persen dengan IHK sebesar 124,94 dan terendah terjadi di Padangsidimpuan dan Tembilahan masing-masing sebesar 0,02 persen dengan IHK masing-masing sebesar 125,36 dan 129,89. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Manado sebesar 1,52 persen dengan IHK sebesar 125,64 dan terendah terjadi di Tegal sebesar 0,09 persen dengan IHK sebesar 122,49.Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 0,50 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,45 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,18 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,32 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,05 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,12 persen. Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, yaitu kelompok sandang sebesar 0,46 persen.Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Desember) 2016 dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Desember 2016 terhadap Desember 2015) masing-masing sebesar 3,02 persen.Komponen inti pada Desember 2016 mengalami inflasi sebesar 0,23 persen; tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–Desember) 2016 dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Desember 2016 terhadap Desember 2015) masing-masing sebesar 3,07 persen.
Download PDFIndeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) Indonesia tahun 2015 sebesar 4,83 pada skala 0 - 10
2016-12-15
Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) merupakan suatu ukuran standar yang dapat menggambarkan tingkat pembangunan teknologi informasi dan komunikasi suatu wilayah.IP-TIK disusun oleh 11 indikator yang dikombinasikan menjadi suatu ukuran standar pembangunan TIK suatu wilayah. Semakin tinggi nilai indeks menunjukkan pembangunan TIK suatu wilayah semakin pesat, demikian pula sebaliknya, semakin rendah nilai indeks menunjukkan pembangunan TIK di suatu wilayah relatif masih lambat.Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) berguna untuk membandingkan pembangunan TIK antarwaktu dan antarwilayah. IP-TIK dapat menunjukkan kesenjangan digital serta potensi pembangunan dan pengembangan TIK.Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) Indonesia tahun 2012 sebesar 4,24; tahun 2013 sebesar 4,50; tahun 2014 sebesar 4,59; dan pada tahun 2015 sebesar 4,83 pada skala 0 - 10.
Download PDFPerdagangan Komoditas Strategis 2016
2016-12-15
A. Pola Distribusi Perdagangan Distribusi perdagangan beras, minyak goreng, gula pasir, dan telur ayam ras dari produsen sampai ke konsumen akhir melibatkan dua hingga delapan fungsi kelembagaan usaha perdagangan. Pola utama distribusi perdagangan di Indonesia untuk komoditas: Beras: Produsen -> Distributor -> Agen -> Pedagang Eceran -> Konsumen Akhir. Minyak goreng: Produsen -> Distributor -> Pedagang Eceran -> Konsumen Akhir. Gula pasir: Produsen -> Distributor -> Pedagang Grosir -> Pedagang Eceran -> Konsumen Akhir. Telur ayam ras: Produsen -> Distributor -> Pedagang Eceran -> Konsumen Akhir. Persentase penjualan beras pada pola utama distribusi perdagangan tahun 2016 lebih kecil dibandingkan tahun 2015. Potensi pola terpanjang distribusi perdagangan beras, minyak goreng, gula pasir, dan telur ayam ras terjadi di Provinsi DKI Jakarta. Potensi pola terpendek distribusi perdagangan beras dan telur ayam ras terjadi di Provinsi Aceh, gula pasir di Provinsi Jambi, dan minyak goreng di Provinsi Bengkulu.B. Peta Distribusi Perdagangan Provinsi Kalimantan Utara merupakan provinsi yang memiliki ketergantungan beras terbesar dari luar provinsi dengan persentase 99,76 persen. Sedangkan Provinsi Kalimantan Timur untuk minyak goreng mencapai 98,22 persen, Provinsi Kalimantan Selatan untuk gula pasir mencapai 97,24 persen, dan Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk telur ayam ras mencapai 97,57 persen. Provinsi Sulawesi Tengah merupakan provinsi yang mendistribusikan beras dan telur ayam ras ke luar provinsi dengan persentase terbesar, yaitu 84,77 persen dan 30,67 persen. Provinsi Jambi untuk minyak goreng mencapai 94,18 persen dan DKI Jakarta untuk gula pasir mencapai 30,25 persen. Jaringan perdagangan beras terluas adalah di Provinsi Sulawesi Selatan, minyak goreng dan gula pasir di Provinsi DKI Jakarta, dan telur ayam ras di Provinsi Gorontalo.C. Margin Perdagangan dan Pengangkutan (MPP) Rata-rata rasio MPP beras secara nasional berdasarkan Survei Poldis 2016 sebesar 10,57 persen, minyak goreng 9,79 persen, gula pasir 9,25 persen, dan telur ayam ras 8,76 persen
Download PDFNovember 2016, Rupiah Terdepresiasi 3,90 Persen Terhadap Dolar Amerika
2016-12-15
Rupiah terdepresiasi 3,90 persen terhadap dolar Amerika pada November 2016. Level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Amerika terjadi pada minggu kelima November 2016 yang mencapai Rp13.500,32 per dolar Amerika. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Banten yang mencapai Rp13.627,88 per dolar Amerika pada minggu keempat November 2016.Rupiah terdepresiasi 1,48 persen terhadap dolar Australia pada November 2016. Level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Australia terjadi pada minggu kelima November 2016 yang mencapai Rp10.081,47 per dolar Australia. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Maluku yang mencapai Rp10.340,50 per dolar Australia pada minggu kelima November 2016.Rupiah terapresiasi 3,19 persen terhadap yen Jepang pada November 2016. Level tertinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap yen Jepang terjadi pada minggu kelima November 2016 yang mencapai Rp120,35 per yen Jepang. Sedangkan menurut provinsi, level tertinggi kurs tengah terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang mencapai Rp113,50 per yen Jepang pada minggu kelima November 2016.Rupiah terdepresiasi 1,62 persen terhadap euro pada November 2016. Level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap euro terjadi pada minggu kedua November 2016 yang mencapai Rp14.532,64 per euro. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah yang mencapai Rp14.881,50 per euro pada minggu kedua November 2016.
Download PDFUpah Nominal Harian Buruh Tani Nasional November 2016 Naik Sebesar 0,31 Persen
2016-12-15
Upah nominal harian buruh tani nasional pada November 2016 naik sebesar 0,31 persen dibanding upah buruh tani Oktober 2016, yaitu dari Rp48.368,00 menjadi Rp48.517,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,55 persen Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada November 2016 naik 0,03 persen dibanding upah Oktober 2016, yaitu dari Rp83.057,00 menjadi Rp83.082,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,44 persen
Download PDFEkspor Indonesia November 2016 mencapai US$13,50 miliar dan impor November 2016 mencapai US$12,66 miliar
2016-12-15
EKSPORNilai ekspor Indonesia November 2016 mencapai US$13,50 miliar atau meningkat 5,91 persen dibanding ekspor Oktober 2016. Demikian juga dibanding November 2015 meningkat 21,34 persen.Ekspor nonmigas November 2016 mencapai US$12,39 miliar, naik 6,04 persen dibanding Oktober 2016, sementara dibanding ekspor November 2015 naik 28,75 persen.Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari?November 2016 mencapai US$130,65 miliar atau menurun 5,63 persen dibanding periode yang sama tahun 2015, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$118,80 miliar atau menurun 1,96 persen.Peningkatan terbesar ekspor nonmigas November 2016 terhadap Oktober 2016 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$366,1 juta (20,37 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada besi dan baja sebesar US$67,8 juta (30,57 persen).Ekspor nonmigas ke Tiongkok November 2016 mencapai angka terbesar yaitu US$1,81 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,33 miliar dan Jepang US$1,30 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 35,84 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,34 miliar.Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari?November 2016 turun 0,28 persen dibanding periode yang sama tahun 2015, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 9,75 persen, demikian juga ekspor hasil pertanian turun 10,48 persen.Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari?November 2016 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$23,43 miliar (17,93 persen), diikuti Jawa Timur US$16,91 miliar (12,94 persen) dan Kalimantan Timur US$12,57 miliar (9,62 persen). IMPORNilai impor Indonesia November 2016 mencapai US$12,66 miliar atau naik 10,00 persen apabila dibandingkan Oktober 2016, demikian pula jika dibandingkan November 2015 naik 9,88 persen. Impor nonmigas November 2016 mencapai US$10,90 miliar atau naik 9,39 persen jika dibandingkan Oktober 2016. Demikian pula apabila dibandingkan November 2015 naik 10,31 persen. Impor migas November 2016 mencapai US$1,76 miliar atau naik 13,89 persen jika dibandingkan Oktober 2016, demikian pula apabila dibandingkan November 2015 naik 7,27 persen.Secara kumulatif nilai impor Januari–November 2016 mencapai US$122,86 miliar atau turun 5,94 persen dibanding periode yang sama tahun 2015. Kumulatif nilai impor terdiri dari impor migas US$17,07 miliar (turun 25,17 persen) dan nonmigas US$105,79 miliar (turun 1,87 persen).Peningkatan impor nonmigas terbesar November 2016 adalah golongan mesin dan peralatan listrik US$210,3 juta (15,23 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan kapal laut dan bangunan terapung US$55,8 juta (40,97 persen) Tiga negara asal barang impor nonmigas terbesar Januari–November 2016 adalah Tiongkok dengan nilai US$27,55 miliar (26,04 persen), Jepang US$11,84 miliar (11,20 persen), dan Thailand US$7,95 miliar (7,52 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai pangsa pasar 21,57 persen, sementara dari Uni Eropa 9,18 persen. Nilai impor golongan bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari–November 2016 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing sebesar 6,77 persen dan 10,57 persen. Sebaliknya impor golongan barang konsumsi meningkat 13,07 persen.
Download PDFNilai Tukar Petani (NTP) November 2016 Sebesar 101,31 Atau Turun 0,40 Persen
2016-12-01
NTP nasional November 2016 sebesar 101,31 atau turun 0,40 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,27 persen, lebih kecil dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,67 persen.Pada November 2016, NTP Provinsi Jawa Timur mengalami penurunan terbesar (1,14 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Kalimantan Barat mengalami kenaikan tertinggi (1,77 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya.Pada November 2016 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,87 persen disebabkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok konsumsi rumah tangga. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional November 2016 sebesar 110,33 atau naik 0,07 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.
Download PDFJumlah Kunjungan Wisman Oktober 2016 Mencapai 1,04 Juta Kunjungan
2016-12-01
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia Oktober 2016 naik 18,55 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari 877,8 ribu kunjungan menjadi 1,04 juta kunjungan. Begitu pula, jika dibandingkan dengan September 2016, mengalami kenaikan sebesar 3,38 persen. Secara kumulatif, (Januari–Oktober) 2016, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 9,40 juta kunjungan atau naik 9,54 persen dibandingkan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah 8,78 juta kunjungan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 27 provinsi pada Oktober 2016 mencapai rata-rata 56,13 persen atau turun 0,47 poin dibandingkan dengan TPK Oktober 2015 yang tercatat sebesar 56,60 persen. Sementara itu, jika dibanding TPK September 2016, TPK hotel berbintang pada Oktober 2016 naik 1,97 poin. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 27 provinsi selama Oktober 2016 tercatat sebesar 1,81 hari, terjadi penurunan 0,11 poin jika dibandingkan keadaan Oktober 2015.
Download PDFNovember 2016 harga grosir naik 0,24%
2016-12-01
Pada November 2016 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen naik sebesar 0,24 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB tertinggi terjadi pada Sektor Pertanian sebesar 0,62 persen.IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada November 2016 naik sebesar 0,17 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga komoditas tanah urug sebesar 2,13 persen, batu bata 1,94 persen, kerikil dan sirtu alam 1,04 persen, batu split 0,51 persen, dan kloset, wastafel, dan sejenisnya 0,49 persen.IHPB Barang Konsumsi dan Barang Modal pada Oktober 2016 masing-masing mengalami kenaikan sebesar 0,05 persen dan 0,24 persen terhadap bulan sebelumnya, sedangkan IHPB Bahan Baku mengalami penurunan sebesar 0,05 persen terhadap bulan sebelumnya
Download PDF