Logo BPS
BPS REPUBLIK INDONESIA

Berita Statistik BPS Republik Indonesia

Upah nominal harian buruh tani nasional Juli 2016 naik sebesar 0,18%

Upah nominal harian buruh tani nasional Juli 2016 naik sebesar 0,18%

2016-08-15

Upah nominal harian buruh tani nasional pada Juli 2016 naik sebesar 0,18 persen dibanding upah buruh tani Juni 2016, yaitu dari Rp47.898,00 menjadi Rp47.985,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,57 persenUpah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Juli 2016 naik 0,14 persen dibanding upah Juni 2016, yaitu dari Rp82.028,00 menjadi Rp82.143,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,55 persen

Download PDF
Ekspor Juli 2016 Mencapai US$9,51 Miliar dan Impor Juli 2016 sebesar US$8,92 Miliar

Ekspor Juli 2016 Mencapai US$9,51 Miliar dan Impor Juli 2016 sebesar US$8,92 Miliar

2016-08-15

EKSPORNilai ekspor Indonesia Juli 2016 mencapai US$9,51 miliar atau menurun 26,67 persen dibanding ekspor Juni 2016. Demikian juga dibanding Juli 2015 menurun 17,02 persen.Ekspor nonmigas Juli 2016 mencapai US$8,52 miliar, turun 27,75 persen dibanding Juni 2016, demikian juga dibanding ekspor Juli 2015 turun 15,22 persen.Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari?Juli 2016 mencapai US$79,08 miliar atau menurun 12,02 persen dibanding periode yang sama tahun 2015, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$71,59 miliar atau menurun 8,78 persen.Penurunan terbesar ekspor nonmigas Juli 2016 terhadap Juni 2016 terjadi pada perhiasan/permata sebesar US$290,0 juta (45,14 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada benda-benda dari besi dan baja sebesar US$125,3 juta (130,82 persen).Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat Juli 2016 mencapai angka terbesar yaitu US$0,99 miliar, disusul Tiongkok US$0,92 miliar dan Jepang US$0,82 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 32,04 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$0,95 miliar.Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari?Juli 2016 turun 5,58 persen dibanding periode yang sama tahun 2015, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 23,89 persen, demikian juga ekspor hasil pertanian turun 21,32 persen.Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari?Juli 2016 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$14,28 miliar (18,06 persen), diikuti Jawa Timur US$10,97 miliar (13,88 persen) dan Kalimantan Timur U$7,69 miliar (9,72 persen). IMPORNilai impor Indonesia Juli 2016 mencapai US$8,92 miliar atau turun 26,28 persen apabila dibandingkan Juni 2016. Demikian pula jika dibandingkan Juli 2015 turun 11,56 persen.Impor nonmigas Juli 2016 mencapai US$7,44 miliar atau turun 27,91 persen jika dibandingkan Juni 2016. Demikian pula apabila dibandingkan Juli 2015 turun 4,43 persen.Impor migas Juli 2016 mencapai US$1,47 miliar atau turun 16,84 persen jika dibandingkan Juni 2016. Demikian pula apabila dibandingkan Juli 2015 turun 35,77 persen.Secara kumulatif nilai impor Januari–Juli 2016 mencapai US$74,91 miliar atau turun 10,85 persen dibanding periode yang sama tahun 2015. Kumulatif nilai impor terdiri dari impor migas US$10,17 miliar (turun 33,90 persen) dan nonmigas US$64,74 miliar (turun 5,69 persen).Peningkatan impor nonmigas terbesar Juli 2016 adalah golongan kapal laut dan bangunan terapung US$57,1 juta (119,71 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan mesin dan peralatan mekanik US$578,9 miliar (30,52 persen)Tiga negara asal barang impor nonmigas terbesar Januari–Juli 2016 adalah Tiongkok dengan nilai US$16,75 miliar (25,87 persen), Jepang US$7,18 miliar (11,09 persen), dan Thailand US$5,11 miliar (7,89 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai pangsa pasar 22,10 persen, sementara dari Uni Eropa 9,33 persen.Nilai impor golongan bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari–Juli 2016 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing sebesar 12,12 persen dan 15,16 persen. Sebaliknya impor golongan barang konsumsi meningkat 12,31 persen.

Download PDF
Ekonomi Indonesia triwulan II 2016 Tumbuh 5,18 Persen Meningkat dibandingkan Triwulan I 2016

Ekonomi Indonesia triwulan II 2016 Tumbuh 5,18 Persen Meningkat dibandingkan Triwulan I 2016

2016-08-05

Perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2016 mencapai Rp3.086,6 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.353,2 triliun. Ekonomi Indonesia triwulan II-2016 terhadap triwulan II-2015 (y-on-y) tumbuh 5,18 persen, meningkat dibanding triwulan II-2015 sebesar 4,66 persen dan triwulan I-2016 sebesar 4,91 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai Jasa Keuangan dan Asuransi yang tumbuh 13,51 persen. Dari sisi pengeluaran didukung oleh hampir semua komponen dengan pertumbuhan tertinggi dicapai Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga yang tumbuh 6,72 persen. Ekonomi Indonesia triwulan II-2016 terhadap triwulan sebelumnya tumbuh 4,02 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 11,90 persen, sedangkan dari sisi Pengeluaran pada Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 36,16 persen.Pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I-2016 (c-to-c) tumbuh 5,04 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha kecuali Pertambangan dan Penggalian yang mengalami penurunan sebesar 1,01 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran didorong oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga yang tumbuh 6,56 persen.Struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan II-2016 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 58,81 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 22,02 persen, dan Pulau Kalimantan 7,61 persen.

Download PDF
Kondisi Bisnis dan Kondisi Ekonomi Konsumen Meningkat

Kondisi Bisnis dan Kondisi Ekonomi Konsumen Meningkat

2016-08-05

Penjelasan Umum Indeks Tendensi Bisnis (ITB) adalah indikator perkembangan ekonomi usaha terkini yang datanya diperoleh dari Survei Tendensi Bisnis (STB) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik bekerja sama dengan Bank Indonesia. STB dilakukan setiap triwulan di beberapa kota besar terpilih di seluruh provinsi di Indonesia. Jumlah sampel STB triwulan II-2016 sebesar 4.138 perusahaan besar dan sedang, dengan responden pimpinan perusahaan. ITB merupakan indeks yang menggambarkan kondisi bisnis dan perekonomian pada triwulan berjalan dan perkiraan pada triwulan mendatang. Kondisi Bisnis Triwulan II-2016 Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada triwulan II-2016 sebesar 110,24, berarti kondisi bisnis meningkat dari triwulan sebelumnya. Pelaku bisnis lebih optimis jika dibandingkan dengan triwulan I-2016 (nilai ITB sebesar 99,46).  Optimisme pelaku bisnis pada triwulan II-2016 terjadi pada semua lapangan usaha, kecuali lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian yang mengalami penurunan (nilai ITB sebesar 96,59). Peningkatan tertinggi terjadi pada lapangan usaha Informasi dan Komunikasi (nilai ITB sebesar 118,37), sedangkan peningkatan kondisi bisnis terendah terjadi pada lapangan usaha Konstruksi (nilai ITB sebesar 105,50).  Kondisi bisnis pada triwulan II-2016 meningkat karena adanya peningkatan pendapatan usaha (nilai indeks sebesar 114,70), kapasitas produksi/usaha (nilai indeks sebesar 113,09), maupun rata-rata jumlah jam kerja (nilai indeks sebesar 104,95). Prospek Bisnis Triwulan III-2016 Nilai ITB pada triwulan III-2016 diprediksi sebesar 109,06 berarti kondisi bisnis diperkirakan akan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Tingkat optimisme pelaku bisnis diperkirakan lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan II-2016 (nilai ITB sebesar 110,24). Kondisi bisnis di semua lapangan usaha pada triwulan III-2016 diperkirakan mengalami peningkatan, kecuali lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian (nilai ITB sebesar 98,39). Peningkatan kondisi bisnis tertinggi diperkirakan terjadi pada lapangan usaha Informasi dan Komunikasi (nilai ITB sebesar 119,58), dan peningkatan terendah diperkirakan terjadi pada lapangan usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (nilai ITB sebesar 106,17).

Download PDF
Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Nasional 2015 relatif tetap jika dibandingkan dengan IDI 2014

Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Nasional 2015 relatif tetap jika dibandingkan dengan IDI 2014

2016-08-03

Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) 2015 mencapai angka 72,82 dalam skala 0 sampai 100. Angka ini relatif tetap dibandingkan dengan angka IDI 2014 yang sebesar 73,04. Capaian kinerja demokrasi Indonesia tersebut masih berada pada kategori “sedang”. Klasifikasi tingkat demokrasi dikelompokkan menjadi tiga kategori: yakni “baik” (indeks > 80), “sedang” (indeks 60 – 80), dan “buruk” (indeks < 60).Perubahan dari 2014–2015 dipengaruhi tiga aspek demokrasi yakni (1) Kebebasan Sipil turun 2,32 poin (dari 82,62 menjadi 80,30), (2) Hak-Hak Politik yang naik 6,91 poin (dari 63,72 menjadi 70,63), dan (3) Lembaga-lembaga Demokrasi yang turun 8,94 poin (dari 75,81 menjadi 66,87). Metodologi penghitungan IDI menggunakan 4 sumber data yaitu : (1) review surat kabar lokal, (2) review dokumen (Perda, Pergub, dll), (3) Focus Group Discussion (FGD), dan (4) wawancara mendalam. Perlu diketahui, mulai periode 2015 diterapkan 2 indikator baru komponen dari variabel “Peran Birokrasi Pemerintah Daerah”, sebagai langkah penyempurnaan agar lebih sensitif pada situasi lapangan yang terkini. Seandainya indikator lama dipertahankan, maka sebetulnya nilai IDI 2015 mencapai 73,12, yang berarti mengalami sedikit kenaikan dari capaian 2014 (sebesar 73,04).

Download PDF
Pertumbuhan Produksi IBS Naik 5,54 Persen dan IMK Naik 6,56 Persen pada  Triwulan II-2016 dari Triwulan II-2015

Pertumbuhan Produksi IBS Naik 5,54 Persen dan IMK Naik 6,56 Persen pada Triwulan II-2016 dari Triwulan II-2015

2016-08-01

INDUSTRI MANUFAKTUR BESAR DAN SEDANG (IBS)Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II-2016 naik sebesar 5,54 persen (y-on-y) terhadap triwulan II-2015. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional, naik 12,21 persen, industri alat angkutan lainnya, naik 8,92 persen dan industri mesin dan perlengkapan ytdl, naik 7,01 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri karet, barang dari karet dan plastik, turun 11,33 persen, industri peralatan listrik, turun 9,86 persen dan industri pengolahan lainnya, turun 7,68 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II-2016 naik sebesar 3,54 persen (q-to-q) terhadap triwulan I-2016. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan terbesar adalah industri makanan, naik 10,39 persen, jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan, naik 10,32 persen dan industri kertas dan barang dari kertas, naik 7,86 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri tekstil, turun 7,12 persen, industri logam dasar, turun 4,59 persen dan industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya, turun 4,33 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II-2016 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Riau, naik 18,08 persen, Provinsi Sumatera Barat, naik 16,95 persen dan Provinsi D.K.I Jakarta, naik 12,94 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Papua Barat, turun 13,64 persen, Provinsi Jambi, turun 6,76 persen dan Provinsi Bali, turun 5,89 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II-2016 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Riau, naik 15,62 persen, Provinsi Sumatera Barat, naik 10,81 persen dan Provinsi Aceh, naik 9,98 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Sulawesi Barat, turun 6,90 persen, Provinsi Papua Barat, turun 5,74 persen dan Provinsi Papua, turun 3,66 persen.INDUSTRI MANUFAKTUR MIKRO DAN KECIL (IMK)Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan II-2016 naik sebesar 6,56 persen (y-on-y) terhadap triwulan II-2015. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri pengolahan tembakau sebesar 24,43 persen, industri komputer, barang elektronika dan optik (21,98 persen), serta industri percetakan dan reproduksi media rekaman sebesar 21,09 persen. Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri barang logam bukan mesin dan peralatannya turun 13,65 persen, jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatannya turun 6,67 persen, serta Industri pengolahan lainnya turun 2,84 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan II-2016 naik sebesar 5,74 persen (q-to-q) terhadap triwulan I-2016. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan produksi adalah Industri tekstil naik 11,78 persen, Industri pengolahan tembakau naik 11,67 persen, serta industri peralatan listrik dan industri pakaian jadi naik sebesar 10,17 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah industri mesin dan perlengkapan YTDL (yang tidak termasuk dalam lainnya) turun 6,49 persen, Industri farmasi, obat dan obat tradisional turun 3,54 persen, serta industri karet, barang dari karet dan plastik turun 1,37 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan II-2016 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Utara naik 30,29 persen, Provinsi Kalimantan Timur naik 26,09 persen, dan Provinsi Maluku Utara naik 22,44 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung turun 7,26 persen, Provinsi Kalimantan Tengah turun 6,32 persen, dan Provinsi Riau turun 3,13 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan II-2016 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Selatan naik 11,40 persen, Provinsi Kalimantan Timur naik 10,31 persen, dan Provinsi Jawa Barat naik 9,92 persen, Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Kalimantan Tengah turun 1,32 persen dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung turun 1,21 persen.

Download PDF
Triwulan II-2016 Harga Produsen Mengalami Inflasi 0,18%

Triwulan II-2016 Harga Produsen Mengalami Inflasi 0,18%

2016-08-01

Indeks Harga Produsen (IHP) triwulan II-2016 naik 0,18 persen terhadap triwulan I-2016 (q-to-q) dan naik 1,19 persen terhadap triwulan II-2015 (y-on-y).IHP Sektor Pertanian triwulan II-2016 turun 2,09 persen terhadap triwulan I-2016 (q-to-q), namun terhadap triwulan II-2015 (y-on-y) naik 3,14 persen.IHP Sektor Pertambangan dan Penggalian triwulan II-2016 naik 6,59 persen dibandingkan triwulan I-2016 (q-to-q), sedangkan terhadap triwulan II-2015 (y-on-y) turun 11,34 persen.IHP Sektor Industri Pengolahan triwulan II-2016 naik 0,10 persen terhadap triwulan I-2016 (q-to-q), demikian pula terhadap triwulan II-2015 (y-on-y) naik 2,45 persen. IHP Sektor Akomodasi, Makanan dan Minuman triwulan II-2016 naik 0,23 persen terhadap triwulan I-2016 (q-to-q) dan naik 0,95 persen terhadap triwulan II-2015 (y-on-y).IHP Sektor Angkutan Penumpang triwulan II-2016 naik 0,54 persen terhadap triwulan I-2016 (q-to-q) demikian pula terhadap triwulan II-2015 (y-on-y) naik 1,84 persen

Download PDF
Nilai Tukar Petani (NTP) Juli 2016 Sebesar 101,39 atau Turun 0,08 Persen

Nilai Tukar Petani (NTP) Juli 2016 Sebesar 101,39 atau Turun 0,08 Persen

2016-08-01

NTP nasional Juli 2016 sebesar 101,39 atau turun 0,08 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,48 persen, lebih kecil dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,56 persen.Pada Juli 2016, NTP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami penurunan terbesar (1,67 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi DI Yogyakarta mengalami kenaikan tertinggi (0,71 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Pada Juli 2016 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,76 persen disebabkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok penyusun IKRT terutama indeks kelompok bahan makanan.Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Juli 2016 sebesar 110,02 atau naik 0,36 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.

Download PDF
Jumlah Kunjungan Wisman ke Indonesia Juni 2016 Mencapai 857,7 Ribu Kunjungan

Jumlah Kunjungan Wisman ke Indonesia Juni 2016 Mencapai 857,7 Ribu Kunjungan

2016-08-01

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia Juni 2016 turun 1,69 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari 872,4 ribu kunjungan menjadi 857,7 ribu kunjungan. Begitu pula, jika dibandingkan dengan Mei 2016, mengalami penurunan sebesar 6,29 persen.Selama Semester I (Januari–Juni) 2016, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 5,29 juta kunjungan atau naik 5,88 persen dibandingkan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah 5,00 juta kunjungan.Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 27 provinsi pada Juni 2016 mencapai rata-rata 48,63 persen atau turun 5,51 poin dibandingkan dengan TPK Juni 2015 yang tercatat sebesar 54,14 persen. Begitu pula, jika dibanding TPK Mei 2016, TPK hotel berbintang pada Juni 2016 turun 6,83 poin.Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 27 provinsi selama Juni 2016 tercatat sebesar 1,84 hari, terjadi penurunan 0,36 poin jika dibandingkan keadaan Juni 2015.

Download PDF
Juli 2016 harga grosir naik 1,04%

Juli 2016 harga grosir naik 1,04%

2016-08-01

Pada Juli 2016 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen naik sebesar 1,04 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB tertinggi terjadi pada Sektor Pertanian sebesar 2,45 persen.IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Juli 2016 naik sebesar 0,02 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga komoditas batu hias dan batu bangunan sebesar 0,46 persen, tanah urug 0,36 persen, perlengkapan listrik 0,32 persen, kaca lembaran 0,30 persen, dan batu split 0,28 persen.IHPB Bahan Baku, Barang Konsumsi, dan Barang Modal pada Juni 2016 masing-masing mengalami kenaikan sebesar 0,82 persen, 1,75 persen, dan 0,16 persen terhadap bulan sebelumnya.

Download PDF