Berita Statistik BPS Republik Indonesia
Inflasi Bulan Februari 2007 0,62 persen.
2007-03-01
Pada bulan Februari 2007 terjadi inflasi 0,62 persen. Dari 45 kota tercatat 31 kota mengalami inflasi dan 14 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jayapura 1,76 persen dan inflasi terendah di Lhokseumawe dan Sibolga masing-masing 0,01 persen. Sedangkan deflasi terbesar terjadi di Gorontalo 3,62 persen, dan deflasi terkecil di Bengkulu 0,02 persen. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada semua kelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok bahan makanan 0,84 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,65 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,80 persen, kelompok sandang 0,56 persen, kelompok kesehatan 0,64 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,23 persen, dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,03 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari - Februari) 2007 sebesar 1,67 persen, sedangkan laju inflasi year on year (Februari 2007 terhadap Februari 2006) sebesar 6,30 persen. Inflasi komponen inti pada bulan Februari 2007 sebesar 0,56 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari - Februari) 2007 sebesar 1,30 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti year on year (Februari 2007 terhadap Februari 2006) sebesar 5,98 persen.
Download PDFITB Pada Triwulan IV-2006 Sebesar 107,43. ITK Triwulan IV-2006 di Jabotabek Sebesar 106,96.
2007-02-16
Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada Triwulan IV-2006 sebesar 107,43, mengindikasikan kondisi bisnis pada Triwulan IV-2006 secara umum lebih baik dibandingkan Triwulan III-2006. Kondisi bisnis membaik karena adanya peningkatan pendapatan usaha, yang disebabkan peningkatan kapasitas produksi dan jumlah jam kerja. Peningkatan pendapatan usaha yang paling tinggi terjadi di sektor Lembaga Keuangan, Sewa Bangunan, dan Jasa Perusahaan. Peningkatan jumlah tenaga kerja tertinggi terjadi pada sektor konstruksi. Nilai indeks tertinggi sebesar 115,35 terjadi pada sektor konstruksi, yang berarti sektor tersebut mengalami peningkatan bisnis yang paling tinggi diantara sektor lainnya. Sebaliknya, sektor Pertanian mengalami penurunan bisnis tertinggi dengan nilai indeks sebesar 95,13. Dilihat dari perubahan besarannya, nilai ITB menurun 1,29 poin, dari 108,72 pada Triwulan III-2006 menjadi 107,43 pada Triwulan IV-2006, yang menunjukkan tingkat kepercayaan pengusaha terhadap kondisi bisnis pada Triwulan IV-2006 sedikit berkurang. Sebagian besar sektor menunjukkan perubahan besaran yang negatif, kecuali sektor Konstruksi, Perdagangan/Hotel/ Restoran, dan Transportasi/Komunikasi yang positif. Penurunan nilai ITB terbesar terjadi pada sektor industri (11,71 poin), sedangkan peningkatan ITB terbesar terjadi pada sektor Konstruksi (7,58 poin). Nilai ITB Triwulan I-2007 diperkirakan sebesar 108,79. Secara umum, berarti kondisi bisnis pada Triwulan I-2007 diperkirakan akan membaik dibandingkan triwulan IV-2006. Kondisi bisnis di semua sektor diperkirakan akan meningkat, kecuali sektor Pertambangan/Penggalian dan Lembaga Keuangan/Persewaan/Jasa Perusahaan. Sektor Konstruksi diperkirakan akan mengalami peningkatan tertinggi. Dilihat dari perubahan besarannya, nilai perkiraan ITB Triwulan I-2007 meningkat 1,36 poin dibandingkan nilai ITB Triwulan IV-2006, yang mengindikasikan tingkat kepercayaan pengusaha terhadap kondisi bisnis pada Triwulan I-2007 semakin meningkat. Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan IV-2006 di Jabotabek sebesar 106,96 yang berarti kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan IV-2006 di Jabotabek lebih baik dibandingkan dengan kondisi triwulan sebelumnya. Peningkatan nilai ITK terjadi karena peningkatan pendapatan rumah tangga dan peningkatan konsumsi beberapa komoditi pokok. Peningkatan konsumsi yang tinggi terjadi pada biaya perumahan (listrik dan air), transportasi, dan pendidikan, sementara penurunan konsumsi tertinggi adalah pengeluaran untuk rekreasi. Perkiraan nilai ITK Triwulan I-2007 sebesar 102,26, berarti kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan I-2007 di Jabotabek diperkirakan lebih baik dibandingkan dengan Triwulan IV-2006. Peningkatan kondisi ekonomi konsumen diperkirakan terjadi karena peningkatan pendapatan rumah tangga pada Triwulan I-2007. Namun demikian mayoritas responden tidak mempunyai rencana untuk membeli barang tahan lama.
Download PDFPerekonomian Indonesia Pada Tahun 2006 Mengalami Pertumbuhan Sebesar 5,5%.
2007-02-16
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tahun 2006 yang diukur dari kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat sebesar 5,5 persen terhadap tahun 2005. Semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan positif, dengan pertumbuhan tertinggi di sektor pengangkutan dan komunikasi 13,6 persen dan terendah di sektor pertambangan dan penggalian 2,2 persen. Besaran PDB Indonesia pada tahun 2006 atas dasar harga berlaku mencapai Rp3.338,2 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp1.846,7 triliun. Secara triwulanan, PDB Indonesia triwulan IV/2006 menurun 1,9 persen dibandingkan dengan triwulan III/2006 (q-to-q), dan bila dibandingkan dengan triwulan IV/2005 (y-on-y) tumbuh sebesar 6,1 persen. Pertumbuhan PDB tanpa migas pada tahun 2006 mencapai 6,1 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan PDB secara keseluruhan yang besarnya 5,5 persen. Di sisi penggunaan, sebagian besar PDB digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga sebesar 62,7 persen, konsumsi pemerintah 8,6 persen, pembentukan modal tetap bruto atau investasi fisik 24,0 persen serta ekspor neto 4,8 persen (ekspor 30,9 persen dan impor 26,1 persen). Semua komponen PDB penggunaan mengalami pertumbuhan pada tahun 2006, dengan pertumbuhan tertinggi pada konsumsi pemerintah sebesar 9,6 persen, diikuti oleh ekspor 9,2 persen, konsumsi rumah tangga 3,2 persen, pembentukan modal tetap bruto 2,9 persen, serta pengaruh pertumbuhan impor sebesar 7,6 persen. Sumber utama pertumbuhan ekonomi 5,5 persen adalah ekspor 4,1 persen, diikuti konsumsi rumahtangga 1,9 persen, konsumsi pemerintah 0,7 persen, pembentukan modal tetap bruto 0,7 persen serta pengaruh impor 2,8 persen. PDB per-kapita atas dasar harga berlaku pada tahun 2006 mencapai Rp 15,0 juta (US$ 1.663,0), lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2005 sebesar Rp12,7 juta (US$ 1.320,6), sementara PNB per-kapita tahun 2006 mencapai Rp14,4 juta, juga lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya Rp12,1 juta.
Download PDFBulan November 2006, NTP Naik 1,17 %
2007-02-01
Pada November 2006, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat 104,48 atau naik 1,17 persen dibanding NTP Oktober 2006 yang mencapai 103,27. Hal ini disebabkan karena kenaikan Indeks harga yang diterima petani sebesar 1,42 persen, lebih besar dibandingkan dengan kenaikan Indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,24 persen. Dari 23 Provinsi yang dilaporkan pada November 2006, 13 Provinsi mengalami kenaikan dan 10 Provinsi mengalami penurunan. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yaitu sebesar 11,75 persen karena harga produsen gabah kering giling naik 20,50 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Kalimantan Tengah yaitu sebesar 3,53 persen, karena harga produsen gabah kering giling turun 9,71 persen. Pada November 2006, terjadi inflasi di daerah perdesaan Indonesia sebesar 0,48 persen. Inflasi perdesaan terjadi karena kenaikan indeks harga sub kelompok makanan sebesar 0,50 persen, perumahan 0,81 persen, pakaian 0,32 persen, sebaliknya sub kelompok aneka barang dan jasa turun 0,08 persen. Berdasarkan observasi sebanyak 561 transaksi gabah di 14 provinsi, rata-rata harga gabah di tingkat petani pada Januari 2007 dibandingkan keadaan Desember 2006 adalah sebagai berikut: untuk kualitas Gabah Kering Giling (GKG) naik sebesar 9,36 persen; Gabah Kering Panen (GKP) naik 9,91 persen; dan gabah kualitas rendah naik sebesar 12,94 persen. Rata-rata harga gabah di tingkat penggilingan untuk kualitas GKG mencapai Rp2.896,- per kg dan untuk GKP mencapai Rp2.671,- per kg, keduanya berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Persentase observasi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP pada bulan Januari tidak dijumpai (0 persen). Persentase observasi gabah berkualitas rendah naik, yaitu dari 6,44 persen pada Desember 2006 menjadi 12,48 persen pada Januari 2007. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp1.755,- per kg dijumpai di Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur dengan kualitas GKP. Harga tertinggi sebesar Rp4.000,- per kg dijumpai di Kabupaten Penajam Pasir Utara, Provinsi Kalimantan Timur dengan kualitas GKP.
Download PDFJumlah Wisman Bulan Desember 2006 Sebesar 388,4 Ribu Orang
2007-02-01
Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia melalui 13 pintu masuk pada Desember 2006 mencapai 388,4 ribu orang, mengalami kenaikan 6,39 persen dibanding jumlah wisman November 2006 sebanyak 365,0 ribu orang. Begitu pula jika dibanding Desember 2005, jumlah wisman Desember 2006 naik cukup besar 24,41 persen. Jumlah wisman ke Bali pada Desember 2006 naik 7,86 persen dibanding bulan sebelumnya, yaitu dari 119,3 ribu orang pada November 2006 menjadi 128,7 ribu orang. Jika dibanding Desember 2005, jumlah wisman ke Bali naik tajam 58,66. Jumlah wisman dari 13 pintu masuk selama Januari-Desember 2006, mencapai 3,98 juta orang atau menurun 2,38 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2005 sebanyak 4,07 juta orang. Jumlah wisman yang datang melalui seluruh pintu masuk pada tahun 2006 mencapai 4,87 juta orang atau turun 2,61 persen dibanding tahun 2005 sebanyak 5,00 juta orang. Total pengeluaran wisman di Indonesia (perkiraan devisa yang masuk) untuk tahun 2006 mencapai US$ 4,4 milyar atau turun 2,22 persen dibanding penerimaan devisa tahun 2005 sebesar US$ 4,5 milyar. Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di 10 Daerah Tujuan Wisata (DTW) pada November 2006 mencapai rata-rata 45,49 persen, mengalami kenaikan 2,73 poin dibanding TPK Oktober 2006 sebesar 42,76 persen. Sedangkan TPK hotel berbintang di Bali turun dari 46,12 persen pada Oktober 2006 menjadi 45,80 persen pada November 2006. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang selama November 2006 adalah 2,14 hari, mengalami penurunan 0,16 hari jika dibanding oktober 2006. Jumlah penumpang kereta api bulan Desember 2006 mencapai 13,61 juta orang, yang berarti turun tipis 0,12 persen dibanding bulan November 2006. Sebaliknya, jumlah barang yang diangkut kereta api naik 3,52 persen menjadi 1,50 juta ton. Selama tahun 2006, jumlah penumpang tercatat sebesar 159,42 juta orang atau naik 5,23 persen dibanding tahun 2005. Di sisi lain, jumlah barang turun 7,03 persen menjadi 16,12 juta ton. Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri bulan Desember 2006 tercatat sebesar 796,21 ribu orang atau turun 16,51 persen dibanding bulan November 2006. Sebaliknya, jumlah barang yang diangkut naik 3,68 persen menjadi 14,16 juta ton. Selama Januari-Desember 2006 jumlah penumpang mencapai 12,20 juta orang atau turun 13,26 persen, sedangkan jumlah barang mencapai 174,81 juta ton atau turun 3,13 persen dibanding periode yang sama tahun 2005. Jumlah penumpang angkutan udara domestik bulan Desember 2006 mencapai 2,64 juta orang atau naik 1,73 persen dibanding bulan November 2006. Sebaliknya, jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) naik 34,83 persen menjadi 623,2 ribu orang. Selama Januari-Desember 2006 jumlah penumpang domestik mencapai 29,16 juta orang atau naik 15,11 persen dibanding periode yang sama tahun 2005, dan jumlah penumpang internasional mencapai 5,71 juta orang atau naik 3,22 persen.
Download PDFBulan 2006 Desember, Ekspor Sebesar US$ 9,50 miliar, Impor Sebesar US$ 4,94 miliar.
2007-02-01
Nilai ekspor Indonesia Desember 2006 mencapai US$ 9,50 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 6,43 persen dibanding ekspor November 2006. Sementara bila dibanding Desember 2005 mengalami peningkatan sebesar 16,91 persen. Ekspor nonmigas Desember 2006 mencapai US$ 7,62 miliar, naik 6,26 persen dibanding November 2006, sedangkan dibanding ekspor Desember 2005, meningkat 21,02 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Desember 2006 mencapai US$ 100,69 miliar atau meningkat 17,55 persen dibanding periode yang sama tahun 2005, sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$ 79,50 miliar atau meningkat 19,68 persen. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar Desember 2006 terjadi pada lemak & minyak hewan/nabati sebesar US$ 307,0 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada tembaga sebesar US$ 48,5 juta. Ekspor nonmigas ke Jepang Desember 2006 mencapai angka terbesar yaitu US$ 1,34 miliar, disusul Amerika Serikat US$ 874,0 juta dan Singapura US$ 668,3 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 37,86 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 25 negara ) sebesar US$ 1,07 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil pertanian periode Januari-Desember 2006 meningkat 18,25 persen dibanding periode yang sama tahun 2005, sementara ekspor hasil industri serta hasil tambang dan lainnya naik masing-masing sebesar 16,72 persen dan 40,86 persen. Nilai impor Indonesia Desember 2006 mencapai US$ 4,94 miliar atau menurun 15,73 persen dibanding November 2006 sebesar US$ 5,86 miliar, sedangkan selama Januari-Desember 2006 nilai impor mencapai US$ 61,08 miliar atau meningkat 5,85 persen dibanding periode yang sama tahun 2005 sebesar US$ 57,70 miliar. Impor Nonmigas Desember 2006 mencapai US$ 3,59 miliar atau menurun 18,88 persen dibanding impor November 2006, sedangkan selama Januari-Desember 2006 mencapai US$ 42,10 miliar atau meningkat 4,62 persen dibanding periode yang sama tahun 2005. Impor Migas Desember 2006 mencapai US$ 1,34 miliar atau turun 5,93 persen dibanding impor November 2006, sedangkan selama Januari-Desember 2006 mencapai US$ 18,98 miliar atau naik 8,69 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Selama Januari-Desember 2006 impor nonmigas terbesar terjadi pada mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$ 7,40 miliar atau 17,57 persen dari total impor nonmigas. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ditempati oleh Cina dengan nilai US$ 5,50 miliar dengan pangsa 13,07 persen, diikuti Jepang US$ 5,48 miliar (13,01 persen) dan Amerika Serikat US$ 3,97 miliar (9,44 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 20,60 persen dan Uni Eropa sebesar 14,22 persen. Menurut golongan penggunaan barang, impor barang konsumsi dan bahan baku/penolong selama Januari-Desember 2006 meningkat masing-masing sebesar 4,74 persen dan 5,30 persen dibanding periode yang sama tahun 2005. Demikian juga impor barang modal meningkat sebesar 9,46 persen.
Download PDFInflasi Januari 2007 sebesar 1,04%
2007-02-01
Pada bulan Januari 2007 terjadi inflasi 1,04 persen. Dari 45 kota tercatat seluruhnya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Ternate 3,90 persen dan inflasi terendah di Ambon 0,10 persen. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok- kelompok barang dan jasa sebagai berikut: kelompok bahan makanan 2,68 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,87 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,71 persen; kelompok kesehatan 0,54 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,10 persen; dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,10 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok sandang 0,25 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari) 2007 sebesar 1,04 persen, sedangkan laju inflasi year on year (Januari 2007 terhadap Januari 2006) sebesar 6,26 persen. Inflasi komponen inti pada bulan Januari 2007 sebesar 0,74 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari) 2007 sebesar 0,74 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti year on year (Januari 2007 terhadap Januari 2006) sebesar 6,05 persen.
Download PDFHasil Listing Sensus Ekonomi (SE06) Jumlah Perusahaan/Usaha Meningkat 3,32% per Tahun
2007-01-02
Hasil final pendaftaran (listing) perusahaan/usaha Sensus Ekonomi (SE06) menunjukkan bahwa jumlah seluruh perusahaan/usaha di luar sektor pertanian tercatat sebanyak 22,7 juta, yang terdiri dari 9,8 juta (43,03 persen) berusaha pada lokasi tidak permanen dan 12,9 juta (56,97 persen) berusaha pada lokasi permanen. Dibandingkan tahun 1996, jumlah perusahaan/usaha meningkat 6,3 juta, atau 3,32 persen per tahun Berdasarkan skala usaha, sebagian besar perusahaan/usaha merupakan Usaha Mikro (UM) dan Usaha Kecil (UK), dengan persentase masing-masing 83,43 persen dan 15,84 persen. Sedangkan jumlah perusahaan/usaha yang merupakan Usaha Menengah dan Besar (UMB) hanya 166,4 ribu atau tidak lebih dari satu persen terhadap seluruh perusahaan/ usaha. Jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 50 juta orang. Sekitar 38,7 juta orang (77 persen) bekerja pada perusahaan/usaha dengan lokasi permanen, sementara sisanya bekerja pada perusahaan/usaha di lokasi tidak permanen. Menurut skala usaha, 62,68 persen bekerja pada usaha mikro, 21,91 persen pada usaha kecil, 5,39 persen pada usaha menengah, dan 10,02 persen pada usaha besar. Pulau Jawa mendominasi jumlah perusahaan/usaha sebanyak 14,5 juta (64 persen) diikuti oleh Pulau Sumatera dengan jumlah perusahaan/usaha sebanyak 4,0 juta (18 persen). Menurut lapangan usaha perdagangan besar dan eceran merupakan kegiatan ekonomi terbesar, mencapai 10,3 juta perusahaan/usaha (45 persen) diikuti industri pengolahan dan hotel, penginapan dan rumah makan minum yang masingmasing mencapai 3,2 juta perusahaan/usaha (14,17 persen) dan 3,0 juta perusahaan/usaha (13,26 persen).
Download PDFNTP Oktober 2006 Naik 0,24 %
2007-01-02
Pada bulan Oktober 2006, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat 103,27 atau naik 0,24 persen dibanding NTP September 2006 yang mencapai 103,02. Hal ini disebabkan karena kenaikan Indeks harga yang diterima petani sebesar 1,04 persen, lebih besar dibandingkan dengan kenaikan Indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,80 persen. Dari 23 propinsi yang dilaporkan pada bulan Oktober 2006, 10 propinsi mengalami kenaikan, 1 propinsi stabil dan 12 propinsi mengala mi penurunan. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Propinsi Bengkulu, yaitu sebesar 6,03 persen karena harga produsen ketimun naik 29,33 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Propinsi Kalimantan Barat yaitu sebesar 2,33 persen, karena harga karet jinton turun 9,62 persen. Pada Oktober 2006, terjadi inflasi di daerah perdesaan Indonesia sebesar 0,99 persen. Inflasi perdesaan terjadi karena indeks harga sub kelompok makanan naik 1,21 persen, perumahan naik 0,61 persen, pakaian naik 2,18 persen, dan kelompok aneka barang dan jasa naik 0,25 persen. Berdasarkan observasi sebanyak 637 transaksi gabah di 14 provinsi, rata-rata harga gabah di tingkat petani pada Desember 2006 dibandingkan keadaan bulan November 2006 adalah sebagai berikut: untuk kualitas Gabah Kering Giling (GKG) naik sebesar 8,63 persen; Gabah Kering Panen (GKP) naik 8,26 persen. Sebaliknya, rata-rata harga gabah kualitas rendah turun sebesar 0,07 persen. Rata-rata harga gabah di tingkat penggilingan untuk kualitas GKG mencapai Rp2.635,- per kg dan untuk GKP mencapai Rp2.429,- per kg, keduanya berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Persentase observasi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP pada bulan Desember tidak dijumpai (0 %). Persentase observasi gabah berkualitas rendah naik sedikit, yaitu dari 6,12 persen pada Nopember 2006 menjadi 6,44 persen pada Desember 2006. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp1.700,- per kg dijumpai di Kab. Sukabumi, Propinsi Jawa Barat dan Kab. Gianyar, Propinsi Bali dengan kualitas Rendah. Harga tertinggi sebesar Rp3.200,- per kg dijumpai di Kab. Subang, Propinsi Jawa Barat dengan kualitas GKP.
Download PDFBulan November 2006 Ekspor Naik 2,37 % dan Impor Naik 30,30 %
2007-01-02
Nilai ekspor Indonesia bulan November 2006 mencapai US$ 8,92 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 2,37 persen dibanding ekspor Oktober 2006. Sementara bila dibanding bulan November 2005 mengalami peningkatan sebesar 29,59 persen. Ekspor nonmigas bulan November 2006 mencapai US$ 7,17 miliar, naik 0,57 persen dibanding bulan Oktober 2006 sedangkan dibanding ekspor November 2005, meningkat 36,07 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-November 2006 mencapai US$ 91,19 miliar atau meningkat 17,61 persen dibanding periode yang sama tahun 2005, sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$ 71,89 miliar atau meningkat 19,56 persen. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar bulan November 2006 terjadi pada bijih, kerak dan abu logam sebesar US$ 191,2 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada lemak & minyak hewan/nabati sebesar US$ 415,9 juta. Ekspor nonmigas ke Jepang bulan November 2006 mencapai angka terbesar yaitu US$ 1,2 miliar, disusul Amerika Serikat US$ 842,4 juta dan Singapura US$ 661,3 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 38,38 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 25 negara ) sebesar US$ 1, 1 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil pertanian periode Januari-November 2006 meningkat 18,70 perse n dibanding periode yang sama tahun 2005, sementara ekspor hasil industri serta hasil tambang dan lainnya naik masing-masing sebesar 16,67 persen dan 40,37 persen. Nilai impor Indonesia bulan November 2006 mencapai US$ 5,86 miliar atau meningkat 30,30 persen dibanding Oktober 2006 sebesar US$ 4,49 miliar, sedangkan selama Januari-November 2006 nilai impor mencapai US$ 56,06 miliar atau meningkat 6,14 persen dibanding periode yang sama tahun 2005 sebesar US$ 52,81 miliar. Impor Nonmigas bulan November 2006 mencapai US$ 4,43 miliar atau meningkat 57,05 persen dibanding impor bulan Oktober 2006, sedangkan selama Januari- November 2006 mencapai US$ 38,47 miliar atau meningkat 4,84 persen dibanding periode yang sama tahun 2005. Impor Migas bulan November 2006 mencapai US$ 1,43 miliar atau turun 14,79 persen dibanding impor bulan Oktober 2006, sedangkan selama Januari-November 2006 mencapai US$ 17,59 miliar atau naik 9,11 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Selama Januari-November 2006 impor nonmigas terbesar terjadi pada mesin dan pesawat mekanik dengan nilai US$ 6,75 miliar atau 17,53 persen dari total impor nonmigas. Negara pemasok barang impor terbesar ditempati oleh Jepang dengan nilai US$ 5,01 miliar dengan pangsa 13,03 persen, diikuti Cina US$ 4,99 miliar (12,97 persen) dan Amerika Serikat US$ 3,69 miliar (9,58 persen). Sementara impor dari ASEAN mencapai 20,4 6 persen dan Uni Eropa sebesar 14,14 persen. Menurut golongan penggunaan barang, impor barang konsumsi dan bahan baku/penolong selama Januari-November 2006 meningkat masing-masing sebesar 4,64 persen dan 5,53 persen dibanding periode yang sama tahun 2005, sementara itu barang modal juga meningkat sebesar 10,36 persen.
Download PDF