Berita Statistik BPS Republik Indonesia
NTP Bulan Juli Naik 0,79 % Mencapai 103,15
2006-10-02
Pada bulan Juli 2006, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat 103,15 atau naik 0,79 persen dibanding NTP Juni 2006 yang mencapai 102,35. Hal ini disebabkan kenaikan Indeks harga yang diterima petani sebesar 1,07 persen, lebih besar dibandingkan dengan kenaikan Indeks harga yang dibayar petani yang sebesar 0,28 persen. Dari 23 propinsi yang dilaporkan pada bulan Juli 2006, 12 propinsi mengalami kenaikan, dan 11 propinsi mengalami penurunan. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Propinsi Riau, yaitu sebesar 12,88 persen karena harga produsen karet getah tebal naik 21,79 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Propinsi Kalimantan Tengah yaitu sebesar 6,75 persen, karena harga gabah kering giling turun 14,29 persen. Pada Juli 2006, terjadi inflasi di daerah perdesaan Indonesia sebesar 0,32 persen. Inflasi perdesaan terjadi karena indeks harga sub kelompok makanan naik 0,13 persen, perumahan naik 0,62 persen, pakaian naik 0,94 persen, dan kelompok aneka barang dan jasa naik 0,31 persen.
Download PDFPariwisata dan Transportasi Nasional Bulan Agustus 2006
2006-10-02
Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia melalui 13 pintu masuk pada bulan Agustus 2006 mencapai 343,4 ribu orang, mengalami penurunan 5,11 persen dibanding jumlah wisman bulan Juli 2006 sebanyak 361,9 ribu orang. Begitu pula jumlah wisman ke Bali pada bulan Agustus 2006 menurun 2,97 persen dibanding bulan sebelumnya, yaitu dari 128,6 ribu orang pada bulan Juli 2006 menjadi 124,8 ribu orang. Jumlah wisman dari 13 pintu masuk selama Januari-Agustus 2006, mencapai 2,60 juta orang atau menurun 8,63 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2005 sebesar 2,85 juta orang. Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di 10 Daerah Tujuan Wisata (DTW) pada bulan Juli 2006 mencapai rata-rata 46,62 persen, mengalami kenaikan 0,46 poin dibanding TPK bulan Juni 2006 sebesar 46,16 persen. Sedangkan TPK hotel berbintang di Bali naik dari 46,01 persen pada bulan Juni 2006 menjadi 46,42 persen pada bulan Juli 2006. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang selama bulan Juli 2006 adalah 2,23 hari, mengalami kenaikan 0,02 hari jika dibanding bulan Juni 2006.
Download PDFNilai Ekspor-Impor Indonesia Bulan Agustus 2006
2006-10-02
Nilai ekspor Indonesia bulan Agustus 2006 mencapai US$ 8,89 milyar atau mengalami peningkatan sebesar 0,73 persen dibanding ekspor Juli 2006. Secara kumulatif nilai ekspor Januari - Agustus 2006 mencapai US$ 64,63 milyar atau meningkat 17,13 persen dibanding periode yang sama tahun 2005. Ekspor Non migas bulan Agustus 2006 mencapai US$ 7,04 milyar, naik 4,08 persen dibanding bulan Juli 2006. Kumulatif Januari Agustus 2006 mencapai US$ 50,31 milyar atau meningkat 17,21 persen. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar bulan Agustus 2006 terjadi pada bijih, kerak dan abu logam sebesar US$ 184,8 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada lemak & minyak hewan/nabati sebesar US$ 97,4 juta. Lebih dari 63 persen kenaikan ekspor Januari-Agustus 2006 disebabkan oleh kenaikan komoditi-komoditi: karet dan barang dari karet; bahan bakar mineral; tembaga; bijih, kerak dan abu logam; lemak & minyak hewan/nabati serta kertas/karton. Ekspor nonmigas ke Jepang bulan Agustus 2006 mencapai angka terbesar yaitu US$ 1.114,7 juta, disusul Amerika Serikat US$ 996,0 juta dan Singapura US$ 729,1 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 40,32 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa sebesar US$ 1.077,2 juta. Menurut sektor, ekspor hasil pertanian periode Januari-Agustus 2006 meningkat 21,66 persen dibanding periode yang sama tahun 2005, demikian pula ekspor hasil industri serta hasil tambang dan lainnya naik masing-masing sebesar 14,58 persen dan 35,26 persen.
Download PDFInflasi Bulan September 2006 Mencapai 0,38%
2006-10-02
Pada bulan September 2006 terjadi inflasi 0,38 persen. Dari 45 kota tercatat 39 kota mengalami inflasi dan 6 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Lhokseumawe 3,70 persen dan inflasi terendah di Tasikmalaya dan Denpasar masing-masing 0,01 persen. Sedangkan deflasi terbesar di Ambon sebesar 1,47 persen, dan deflasi terkecil di Makassar 0,01 persen. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok-kelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok bahan makanan 0,62 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,13 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,28 persen, kelompok kesehatan 0,31 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 1,84 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok sandang sebesar 0,13 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,01 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-September) 2006 sebesar 4,06 persen, sedangkan tingkat laju inflasi year on year (September 2006 terhadap September 2005) sebesar 14,55 persen. Inflasi komponen inti pada bulan September 2006 sebesar 0,35 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-September) 2006 sebesar 4,27 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti year on year (September 2006 terhadap September 2005) sebesar 9,13 persen
Download PDFNTP Bulan Juni 2006 Naik 0,64%, Upah Buruh Naik 0,50%
2006-09-01
Pada bulan Juni 2006, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat 102,35 atau naik 0,64 persen dibanding NTP Mei 2006 yang mencapai 101,70. Hal ini disebabkan kenaikan Indeks harga yang diterima petani sebesar 1,39 persen, lebih besar dibandingkan dengan kenaikan Indeks harga yang dibayar petani yang sebesar 0,75 persen. Dari 23 propinsi yang dilaporkan pada bulan Juni 2006, 12 propinsi mengalami kenaikan, dan 11 propinsi mengalami penurunan. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Propinsi Sulawesi Tengah, yaitu sebesar 7,16 persen karena harga produsen cengkeh biji kering naik 28,57 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Propinsi Bali yaitu sebesar 9,40 persen, karena harga produsen salak bali turun 37,50 persen. Pada Juni 2006, terjadi inflasi di daerah pedesaan Indonesia sebesar 0,89 persen. Inflasi pedesaan terjadi karena indeks harga sub kelompok makanan naik 0,99 persen, perumahan naik 0,59 persen, pakaian naik 0,85 persen, dan kelompok aneka barang dan jasa naik 0,48 persen. Berdasarkan observasi sebanyak 614 transaksi gabah di 16 propinsi pada Agustus 2006, rata-rata harga gabah di tingkat petani dibandingkan bulan Juli 2006 untuk kualitas Gabah Kering Panen (GKP) naik sebesar 5,36 persen; Gabah kualitas Rendah naik 5,99 persen. Sebaliknya, rata-rata harga gabah kualitas Gabah Kering Giling (GKG) turun 2,01 persen. Rata-rata harga gabah di tingkat penggilingan baik kualitas GKG maupun GKP masih tetap berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Persentase observasi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP turun dibanding bulan lalu, yaitu dari 1,95 persen pada Juli 2006 menjadi 1,22 persen pada Agustus 2006. Persentase observasi gabah berkualitas rendah juga terjadi penurunan, yaitu dari 8,72 persen pada Juli 2006 menjadi 6,35 persen pada Agustus 2006. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp 1.650,00/kg yang dijumpai di Kec. Sewon, Kab. Bantul, Propinsi Yogyakarta, dengan kualitas GKP. Harga tertinggi sebesar Rp 2.675,00/kg dijumpai di Kec. Eris, Kab. Minahasa, Propinsi Sulawesi Utara, dengan kualitas GKG. Upah harian buruh tani pada bulan Juni 2006 naik sebesar 0,50 persen dibanding upah bulan Mei 2006, yaitu dari Rp 13.621,- menjadi Rp 13.689,-, dan secara riil turun 0,35 persen*). Dibanding upah Juni 2005 (year on year) upah nominal naik 14,63 persen. Upah harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada bulan Agustus 2006 naik 0,60 persen dibanding upah bulan Juli 2006, yaitu dari Rp 34.177,- menjadi Rp 34.382,-, dan secara riil naik sebesar 0,27 persen*). Dibanding upah Agustus 2005 (year on year) upah nominal naik 13,50 persen. Upah bulanan buruh industri pada triwulan I 2006 naik sebesar 17,37 persen dibanding upah triwulan IV 2005 yaitu dari Rp 906.379,- menjadi Rp 1.063.858,-, dan secara riil naik 15,10 persen*). Dibanding upah triwulan I 2005 (year on year) upah nominal naik 21,16 persen.
Download PDFPariwisata dan Transportasi Nasional Bulan Juli 2006
2006-09-01
Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia melalui 13 pintu masuk pada bulan Juli 2006 mencapai 361,9 ribu orang, mengalami sedikit kenaikan (0,21 persen) dibanding jumlah wisman bulan Juni 2006 sebanyak 361,1 ribu orang. Sedangkan jumlah wisman ke Bali pada bulan Juli 2006 meningkat 11,36 persen dibanding bulan sebelumnya, yaitu dari 115,5 ribu orang pada bulan Juni 2006 menjadi 128,6 ribu orang. Jumlah wisman dari 13 pintu masuk selama Januari-Juli 2006, mencapai 2,26 juta orang atau menurun 8,03 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2005 sebesar 2,45 juta orang. Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di 10 Daerah Tujuan Wisata (DTW) pada bulan Juni 2006 mencapai rata-rata 46,16 persen, mengalami kenaikan 1,05 poin dibanding TPK bulan Mei 2006 sebesar 45,11 persen. Sedangkan TPK hotel berbintang di Bali naik dari 41,02 persen pada bulan Mei 2006 menjadi 46,01 persen pada bulan Juni 2006. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang selama bulan Juni 2006 adalah 2,21 hari, mengalami penurunan 0,15 hari jika dibanding bulan Mei 2006. Jumlah penumpang kereta api bulan Juli 2006 mencapai 14,43 juta orang, yang berarti naik 9,31 persen dibanding bulan Juni 2006, sedangkan untuk barang mencapai 1,50 juta ton atau naik 1,69 persen. Selama Januari-Juli 2006, jumlah penumpang mencapai 82,41 juta orang atau turun 4,63 persen dan barang mencapai 9,86 juta ton atau turun 1,72 persen dibanding periode yang sama tahun 2005. Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri bulan Juli 2006 mencapai 1,16 juta orang atau naik 1,47 persen dibanding bulan Juni 2006, sedangkan angkutan barang mencapai 12,97 juta ton atau turun 13,68 persen. Selama Januari-Juli 2006 jumlah penumpang mencapai 8,23 juta orang atau naik 8,06 persen, sedangkan barang mencapai 106,9 juta ton atau naik 10,42 persen dibanding periode yang sama tahun 2005. Jumlah penumpang angkutan udara domestik bulan Juli 2006 mencapai 2,75 juta orang atau naik 13,45 persen dibanding bulan Juni 2006, sedangkan jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) mencapai 514,9 ribu orang atau naik 7,16 persen. Selama Januari-Juli 2006 jumlah penumpang domestik mencapai 16,72 juta orang atau naik 12,49 persen dan penumpang internasional mencapai 3,11 juta orang atau naik 0,81 persen dibanding periode yang sama tahun 2005.
Download PDFNilai Ekspor-Impor Indonesia Bulan Juli 2006
2006-09-01
Nilai ekspor Indonesia bulan Juli 2006 mencapai US$ 8,82 milyar atau mengalami peningkatan sebesar 4,00 persen dibanding ekspor Juni 2006. Secara kumulatif, nilai ekspor Januari Juli 2006 mencapai US$ 55,77 milyar atau meningkat 16,42 persen dibanding periode yang sama tahun 2005. Ekspor Nonmigas bulan Juli 2006 mencapai US$ 6,77 milyar, naik 0,86 persen dibanding bulan Juni 2006, dan kumulatif Januari Juli 2006 sebesar US$ 43,31 milyar atau meningkat 15,65 persen. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar bulan Juli 2006 terjadi pada bahan bakar mineral (pada umumnya Batubara) sebesar US$ 179,2 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada mesin/peralatan listrik sebesar US$ 142,6 juta. Ekspor nonmigas ke Jepang bulan Juli 2006 mencapai angka terbesar yaitu US$ 980,0 juta, disusul Amerika Serikat US$ 939,7 juta dan Singapura US$ 667,9 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 38,24 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa sebesar US$ 961,7 juta. Menurut sektor, ekspor hasil pertanian periode Januari-Juli 2006 meningkat 17,24 persen dibanding periode yang sama tahun 2005, demikian pula ekspor hasil industri serta hasil tambang naik masing-masing sebesar 13,78 persen dan 29,36 persen. Nilai impor Indonesia bulan Juli 2006 mencapai US$ 5,38 milyar atau menurun 5,00 persen dibanding Juni 2006 sebesar US$ 5,67 milyar, sedangkan selama Januari-Juli 2006 nilai impor mencapai US$ 34,26 milyar atau meningkat 2,42 persen dibanding periode yang sama tahun 2005 sebesar US$ 33,45 milyar. Impor Non-Migas bulan Juli 2006 mencapai US$ 3,56 milyar atau meningkat 0,88 persen dibanding impor bulan Juni 2006, sedangkan selama Januari-Juli tahun 2006 mencapai US$ 23,44 milyar atau menurun 2,23 persen dibanding periode yang sama tahun 2005. Impor Migas bulan Juli 2006 mencapai US$ 1,82 milyar atau turun 14,69 persen dibanding impor bulan Juni 2006, sedangkan selama Januari-Juli tahun 2006 mencapai US$ 10,81 milyar atau naik 14,16 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Selama Januari-Juli 2006 impor non migas terbesar terjadi pada mesin dan pesawat mekanik dengan nilai US$ 4,12 milyar atau 17,55 persen dari total impor non migas. Negara pemasok barang impor terbesar ditempati oleh Jepang dengan nilai US$ 3,03 milyar dengan pangsa 12,93 persen, diikuti Cina US$ 2,80 milyar (11,94 persen) dan Amerika Serikat US$ 2,37 milyar (10,11 persen). Sementara impor dari ASEAN mencapai 19,89 persen dan Uni Eropa sebesar 14,74 persen. Menurut golongan penggunaan barang, impor bahan baku/penolong selama Januari-Juli tahun 2006 meningkat 1,93 persen dibanding periode yang sama tahun 2005, sementara itu impor barang konsumsi dan barang modal masing-masing meningkat sebesar 6,94 persen dan 2,68 persen.
Download PDFInflasi Bulan Agustus 2006 Mencapai 0,33%
2006-09-01
Pada bulan Agustus 2006 terjadi inflasi 0,33 persen. Dari 45 kota tercatat 29 kota mengalami inflasi dan 16 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jayapura 1,79 persen dan inflasi terendah di Cirebon 0,02 persen. Sedangkan deflasi terbesar di Sibolga sebesar 2,49 persen, dan deflasi terkecil di Jember 0,09 persen. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok-kelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,35 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,30 persen, kelompok sandang 0,35 persen, kelompok kesehatan 0,33 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 4,77 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,01 persen. Sedangkan kelompok bahan makanan mengalami penurunan indeks sebesar 0,34 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-Agustus) 2006 sebesar 3,67 persen, sedangkan tingkat laju inflasi year on year (Agustus 2006 terhadap Agustus 2005) sebesar 14,90 persen. Inflasi komponen inti pada bulan Agustus 2006 sebesar 0,78 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Agustus) 2006 sebesar 3,90 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti year on year (Agustus 2006 terhadap Agustus 2005) sebesar 9,68 persen.
Download PDFBulan Mei-Juni 2006 Tercatat 22,7 Juta Perusahaan/Usaha
2006-09-01
Hasil pengolahan cepat Sensus Ekonomi 2006 secara umum telah dilaporkan dan tercantum dalam Lampiran Pidato Presiden tanggal 16 Agustus 2006. Dari hasil pendataan perusahaan/usaha yang dilakukan pada bulan Mei-Juni 2006, tercatat sebanyak 22,7 juta perusahaan/usaha di Indonesia di luar perusahaan/usaha Pertanian. Dari jumlah tersebut, 12,8 juta perusahaan/usaha (56,5 persen) berusaha pada lokasi permanen dan 9,9 juta perusahaan/usaha (43,5 persen) berusaha pada lokasi tidak permanen. Dibandingkan dengan tahun 1996, jumlah perusahaan/usaha sebesar 16,4 juta perusahaan/usaha, berarti ada kenaikan 38,4 persen selama 10 tahun terakhir. Dari 22,7 juta perusahaan/usaha yang ada di Indonesia, lebih dari separuh didominasi oleh Sektor Perdagangan, Hotel & Restoran dengan jumlah 13,4 juta perusahaan/usaha, dan 51,9 persen diantaranya berusaha pada lokasi tidak permanen, atau sekitar 6,9 juta. Lebih lanjut, tiga sektor lainnya yang memiliki jumlah perusahaan/usaha dengan proporsi yang cukup besar ialah Sektor Industri pengolahan (14,15 persen), Sektor Transpor dan Komunikasi (11,75 persen), dan Sektor Jasa-Jasa (9,42 persen). Walaupun hampir semua sektor (kecuali konstruksi) mengalami pertumbuhan usaha selama 1996 -2006, tetapi terjadi perubahan struktur usaha, antara lain Sektor Perdagangan, Hotel & Restoran dari 57,59 persen menjadi 58,83 persen. Sektor Industri Pengolahan dari 16,78 persen menjadi 14,15 persen. Sektor Transpor dan Komunikasi dari 10,57 persen menjadi 11,75 persen. Demikian juga Sektor Jasa-Jasa dari 8,02 persen menjadi 9,42 persen, Sektor Keuangan & Persewaan dari 4,50 persen menjadi 3,86 persen dan Sektor Konstruksi dari 1,28 persen menjadi 0,74 persen. Lebih dari 83 persen perusahaan/usaha di Indonesia sampai saat ini masih terkonsentrasi di Kawasan Barat Indonesia (KBI), terbesar di Pulau Jawa 63,8 persen. Sementara sisanya berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) terbesar di Sulawesi 7,0 persen.
Download PDFJumlah Penduduk Miskin Bulan Maret 2006 Sebesar 39,05 Juta
2006-09-01
Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2006 sebesar 39,05 juta (17,75 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Februari 2005 yang berjumlah 35,10 juta (15,97 persen), berarti jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. Pada bulan Maret 2006, sebagian besar (63,41 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan. Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada bulan Maret 2006, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 74,99 persen. Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan adalah beras, gula pasir, minyak kelapa, telur dan mie instant. Untuk komoditi bukan makanan adalah biaya perumahan. Khusus untuk daerah perkotaan, biaya listrik, angkutan dan minyak tanah mempunyai pengaruh yang cukup besar, sementara untuk daerah perdesaan pengaruhnya relatif kecil (kurang dari 2 persen). Terjadi pergeseran posisi penduduk miskin dan hampir miskin selama periode Februari 2005-Maret 2006. Sekitar 56,51 persen penduduk miskin pada bulan Februari 2005 tetap tergolong sebagai penduduk miskin pada Maret 2006, sisanya berpindah posisi menjadi tidak miskin. Sebaliknya, 30,29 persen penduduk hampir miskin di bulan Februari 2005 jatuh menjadi miskin pada bulan Maret 2006. Pada saat yang sama, 11,82 persen penduduk hampir tidak miskin di bulan Februari 2005 juga jatuh menjadi miskin pada bulan Maret 2006. Bahkan 2,29 persen penduduk tidak miskin juga terjatuh menjadi miskin di bulan Maret 2006. Perpindahan posisi penduduk ini menunjukkan jumlah kemiskinan sementara (transient poverty) cukup besar.
Download PDF