Berita Statistik BPS Republik Indonesia
Mei 2017 harga grosir turun 0,29%
2017-06-02
Pada Mei 2017 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen turun sebesar 0,29 persen terhadap bulan sebelumnya. Penurunan IHPB tertinggi terjadi pada Sektor Pertanian sebesar 1,44 persen.IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Mei 2017 naik sebesar 0,20 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga komoditas tanah urug sebesar 0,95 persen, pipa dan assesoriesnya 0,89 persen, besi lainnya 0,76 persen, genteng dan atap lainnya 0,49 persen, dan pasir 0,43 persen.IHPB Bahan Baku dan Barang Konsumsi pada April 2017 masing-masing mengalami penurunan sebesar 0,83 persen dan 1,79 persen terhadap bulan sebelumnya, sementara itu Barang Modal mengalami kenaikan sebesar 0,12 persen.
Download PDFMei 2017 terjadi inflasi 0,39 persen
2017-06-02
Pada Mei 2017 terjadi inflasi sebesar 0,39 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 128,83. Dari 82 kota IHK, 70 kota mengalami inflasi dan 12 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 0,96 persen dengan IHK sebesar 144,44 dan terendah terjadi di Sampit dan Bulukumba masing-masing sebesar 0,02 persen dengan IHK masing-masing 129,86 dan 133,21. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Manado sebesar 1,13 persen dengan IHK sebesar 127,31 dan terendah terjadi di Pematangsiantar sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 132,80. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 0,86 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,38 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,35 persen; kelompok sandang sebesar 0,23 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,37 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,03 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,23 persen.Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Mei) 2017 sebesar 1,67 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Mei 2017 terhadap Mei 2016) sebesar 4,33 persen. Komponen inti pada Mei 2017 mengalami inflasi sebesar 0,16 persen. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–Mei) 2017 mengalami inflasi sebesar 1,33 persen dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Mei 2017 terhadap Mei 2016) sebesar 3,20 persen.
Download PDFApril 2017 Rupiah Terapresiasi 0,27 Persen Terhadap Dolar Amerika
2017-05-15
Rupiah terapresiasi 0,27 persen terhadap dolar Amerika pada April 2017. Level tertinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Amerika terjadi pada minggu keempat April 2017 yang mencapai Rp13.271,76 per dolar Amerika. Sedangkan menurut provinsi, level tertinggi kurs tengah terjadi di Provinsi Kalimantan Barat yang mencapai Rp13.121,20 per dolar Amerika pada minggu pertama April 2017. Rupiah terapresiasi 1,84 persen terhadap dolar Australia pada April 2017. Level tertinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Australia terjadi pada minggu kedua April 2017 yang mencapai Rp9.953,45 per dolar Australia. Sedangkan menurut provinsi, level tertinggi kurs tengah terjadi di Provinsi Papua yang mencapai Rp9.749,75 per dolar Australia pada minggu kedua April 2017. Rupiah terdepresiasi 0,51 persen terhadap yen Jepang pada April 2017. Level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap yen Jepang terjadi pada minggu ketiga April 2017yang mencapai Rp121,29 per yen Jepang. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Sumatera Utara yang mencapai Rp123,14 per yen Jepang pada minggu ketiga April 2017. Rupiah terdepresiasi 0,57 persen terhadap euro pada April 2017. Level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap euro terjadi pada minggu keempat April 2017 yang mencapai Rp14.448,75 per euro. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Sulawesi Tenggara yang mencapai Rp14.541,69 per euro pada minggu keempat April 2017.
Download PDFUpah nominal harian buruh tani nasional April 2017 naik sebesar 0,33%
2017-05-15
Upah nominal harian buruh tani nasional pada April 2017 naik sebesar 0,33 persen dibanding upah buruh tani Maret 2017, yaitu dari Rp49.473,00 menjadi Rp49.638,00 per hari. Upah riil mengalami kenaikan sebesar 0,62 persen. Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada April 2017 naik 0,02 persen dibanding upah Maret 2017, yaitu dari Rp83.724,00 menjadi Rp83.740,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,07 persen
Download PDFEkspor April 2017 Mencapai US$13,17 MILIAR
2017-05-15
Nilai ekspor Indonesia April 2017 mencapai US$13,17 miliar atau menurun 10,30 persen dibanding ekspor Maret 2017. Sementara dibanding April 2016 meningkat 12,63 persen. Ekspor nonmigas April 2017 mencapai US$12,19 miliar, turun 7,43 persen dibanding Maret 2017, sedangkan dibanding ekspor April 2016 naik 12,89 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari–April 2017 mencapai US$53,86 miliar atau meningkat 18,63 persen dibanding periode yang sama tahun 2016, sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$48,90 miliar atau meningkat 19,14 persen. Penurunan terbesar ekspor nonmigas April 2017 terhadap Maret 2017 terjadi pada lemak dan minyak hewani sebesar US$251,9 juta (12,23 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$211,8 juta (149,58 persen). Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–April 2017 naik 15,60 persen dibanding periode yang sama tahun 2016, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 25,16 persen dan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 42,19 persen. Ekspor nonmigas April 2017 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$1,57 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,36 miliar dan India US$1,19 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 33,80 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,36 miliar. Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–April 2017 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$9,23 miliar (17,14 persen), diikuti Jawa Timur US$5,95 miliar (11,04 persen), dan Kalimantan Timur US$5,70 miliar (10,58 persen).
Download PDFTingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sebesar 5,33 Persen
2017-05-05
Angkatan kerja pada Februari 2017 sebanyak 131,55 juta orang, naik sebanyak 6,11 juta orang dibanding Agustus 2016 dan naik 3,88 juta orang dibanding Februari 2016.Penduduk bekerja di Indonesia pada Februari 2017 sebanyak 124,54 juta orang, naik sebanyak 6,13 juta orang dibanding keadaan Agustus 2016 dan naik sebanyak 3,89 juta orang dibanding Februari 2016.Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2017 sebesar 5,33 persen, mengalami penurunan sebesar 0,28 persen poin dibanding Agustus 2016 dan turun sebesar 0,17 persen poin dibanding Februari 2016.Pada Februari 2017, sebesar 58,35 persen penduduk bekerja pada kegiatan informal, dan persentase pekerja informal naik 0,07 persen poin dibanding Februari 2016.Selama setahun terakhir, sektor-sektor yang mengalami peningkatan persentase penduduk yang bekerja adalah Sektor Jasa Kemasyarakatan (0,42 persen poin), Sektor Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi (0,27 persen poin), Sektor Pertanian (0,12 persen poin); dan Sektor Industri (0,07 persen poin). Sedangkan sektor-sektor yang mengalami penurunan adalah Sektor Konstruksi (0,64 persen poin) dan Sektor Perdagangan (0,25 persen poin). Pada Februari 2017, terdapat 30,14 persen penduduk bekerja tidak penuh (jam kerja kurang dari 35 jam seminggu) mencakup 7,62 persen setengah penganggur dan 22,52 persen pekerja paruh waktu. Dalam setahun terakhir, setengah penganggur turun sebesar 1,05 persen poin, sementara pekerja paruh waktu naik sebesar 1,08 persen poin.Rata-rata upah/gaji sebulan buruh/karyawan/pegawai pada Februari 2017 sebesar 2,70 juta rupiah, tertinggi di sektor listrik, gas, dan air yaitu sebesar 4,43 juta rupiah, sedangkan terendah di sektor pertanian yaitu sebesar 1,75 juta rupiah. Jika dibandingkan menurut jenis kelamin, rata-rata upah/gaji sebulan buruh/karyawan/pegawai laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan yaitu 2,95 juta rupiah dan 2,27 juta rupiah.
Download PDFKondisi Bisnis dan Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan I-2017 Meningkat
2017-05-05
A. Penjelasan Umum Indeks Tendensi Bisnis (ITB) adalah indikator perkembangan ekonomi usaha terkini yang datanya diperoleh dari Survei Tendensi Bisnis (STB) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik bekerja sama dengan Bank Indonesia. STB dilakukan setiap triwulan di beberapa kota besar terpilih di seluruh provinsi di Indonesia. Jumlah sampel STB triwulan I-2017 sebesar 1.938 perusahaan besar dan sedang, dengan responden pimpinan perusahaan. ITB merupakan indeks yang menggambarkan kondisi bisnis dan perekonomian pada triwulan berjalan dan perkiraan triwulan mendatang. B. Kondisi Bisnis Triwulan I-2017 Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada triwulan I-2017 sebesar 103,42. Hal ini menunjukkan kondisi bisnis meningkat jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun tingkat optimisme pelaku bisnis lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan IV-2016 (nilai ITB sebesar 106,70). Pada triwulan I-2017 tercatat 12 kategori lapangan usaha mengalami peningkatan kondisi bisnis, empat kategori mengalami penurunan, dan satu kategori relatif stagnan. Peningkatan kondisi bisnis tertinggi terjadi pada lapangan usaha Jasa Keuangan dan Asuransi dengan nilai ITB sebesar 127,31. Sementara itu, kategori lapangan usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial mengalami tekanan kondisi bisnis terbesar dengan nilai ITB sebesar 92,00. Kondisi bisnis pada triwulan I-2017 yang meningkat disebabkan oleh capaian dari tiga komponen pembentuknya. Penggunaan kapasitas produksi/usaha dengan capaian nilai indeks sebesar 104,60, pendapatan usaha dengan capaian nilai indeks sebesar 104,54, dan rata-rata jumlah jam kerja dengan capaian nilai indeks sebesar 101,13. C. Prospek Bisnis Triwulan II-2017 Nilai ITB pada triwulan II-2017 diprediksi sebesar 104,22. Dengan demikian, kondisi bisnis diperkirakan akan lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya. Tingkat optimisme pelaku bisnis juga diperkirakan meningkat jika dibandingkan dengan triwulan I-2017. Pada triwulan II-2017 kondisi bisnis di 15 kategori lapangan usaha diperkirakan mengalami peningkatan, sementara dua kategori mengalami penurunan. Peningkatan kondisi bisnis tertinggi diperkirakan terjadi pada kategori Transportasi dan Pergudangan dengan nilai ITB sebesar 125,27, sedangkan capaian terendah diperkirakan terjadi pada kategori Konstruksi dengan perkiraan nilai ITB sebesar 87,95.
Download PDFPertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I-2017
2017-05-05
Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan I-2017 mencapai Rp3.227,2 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.377,5 triliun.Ekonomi Indonesia triwulan I-2017 terhadap triwulan I-2016 tumbuh 5,01 persen (y-on-y) meningkat dibanding capaian triwulan I-2016 sebesar 4,92 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 9,10 persen. Dari sisi Pengeluaran dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa yang tumbuh 8,04 persen.Ekonomi Indonesia triwulan I-2017 terhadap triwulan sebelumnya turun sebesar 0,34 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, penurunan disebabkan oleh kontraksi yang terjadi pada beberapa lapangan usaha. Sedangkan dari sisi Pengeluaran disebabkan oleh kontraksi pada Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (minus 45,54 persen) dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (minus 5,42 persen). Struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan I-2017 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB Indonesia, yakni sebesar 58,49 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 21,95 persen, dan Pulau Kalimantan sebesar 8,33 persen. Sementara pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Pulau Sulawesi.
Download PDFPertumbuhan produksi IBS naik 4,33 persen dan IMK naik 6,63 persen pada triwulan I tahun 2017 dari triwulan I tahun 2016
2017-05-02
INDUSTRI MANUFAKTUR BESAR DAN SEDANG (IBS)Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan I tahun 2017 naik sebesar 4,33 persen (y-on-y) terhadap triwulan I tahun 2016. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, naik 9,59 persen, industri makanan, naik 8,20 persen, dan industri karet, barang dari karet dan plastik, naik 7,80 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri tekstil, turun 6,87 persen, industri minuman, turun 5,42 persen, dan industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya, turun 4,49 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan I tahun 2017 naik sebesar 0,86 persen (q-to-q) terhadap triwulan IV tahun 2016. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan produksi adalah industri mesin dan perlengkapan ytdl, naik 7,57 persen, industri karet, barang dari karet dan plastik, naik 6,02 persen, dan industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya, naik 3,79 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan terbesar adalah industri pengolahan tembakau, turun 4,63 persen, industri minuman, turun 4,36 persen, dan industri peralatan listrik, turun 3,53 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan I tahun 2017 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, naik 21,35 persen, Provinsi Jambi, naik 12,59 persen, dan Provinsi D.K.I Jakarta, naik 12,47 persen. Sedangkan provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Bengkulu, turun 9,05 persen, Sumatera Utara, turun 7,60 persen, dan Provinsi Kepulauan Riau, turun 7,50 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan I tahun 2017 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Sumatera Selatan, naik 15,55 persen, Provinsi Sumatera Barat, naik 7,26 persen, dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, naik 6,17 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Lampung, turun 21,94 persen, Provinsi Jambi, turun 9,79 persen, dan Provinsi Riau, turun 6,45 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan I tahun 2017 naik sebesar 6,63 persen (y-on-y) terhadap triwulan I tahun 2016. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri komputer, barang elektronika dan optik (41,11 persen), industri mesin dan perlengkapan ytdl (yang tidak termasuk dalam lainnya) sebesar 15,24 persen, serta industri minuman sebesar 11,95 persen. Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional turun 8,45 persen, jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan turun 6,30 persen, serta industri peralatan listrik turun 5,63 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan I tahun 2017 naik sebesar 2,44 persen (q-to-q) terhadap triwulan IV tahun 2016. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan produksi adalah industri komputer, barang elektronik dan optik naik 11,29 persen, industri peralatan listrik 11,07 persen, serta industri pengolahan tembakau naik sebesar 6,49 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia turun 3,12 persen, jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan turun 1,97 persen, serta industri pencetakan dan reproduksi media rekaman turun 0,46 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan I tahun 2017 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Utara naik 41,90 persen, Provinsi Sulawesi Barat naik 36,40 persen, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur naik 27,53 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat turun 9,56 persen, Provinsi Jawa Tengah turun 3,28 persen, dan Provinsi Kepulauan Riau turun 1,68 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan I tahun 2017 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Barat naik 19,04 persen, Provinsi Aceh naik 15,10 persen, dan Provinsi Nusa Tenggara Barat naik 10,69 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Provinsi Papua Barat turun 4,42 persen, Provinsi Sulawesi Utara turun 1,33 persen, dan Provinsi Kalimantan Timur turun 0,77 persen.INDUSTRI MANUFAKTUR MIKRO DAN KECIL (IMK)Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan I tahun 2017 naik sebesar 6,63 persen (y-on-y) terhadap triwulan I tahun 2016. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri komputer, barang elektronika dan optik (41,11 persen), industri mesin dan perlengkapan ytdl (yang tidak termasuk dalam lainnya) sebesar 15,24 persen, serta industri minuman sebesar 11,95 persen. Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional turun 8,45 persen, jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan turun 6,30 persen, serta industri peralatan listrik turun 5,63 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan I tahun 2017 naik sebesar 2,44 persen (q-to-q) terhadap triwulan IV tahun 2016. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan produksi adalah industri komputer, barang elektronik dan optik naik 11,29 persen, industri peralatan listrik 11,07 persen, serta industri pengolahan tembakau naik sebesar 6,49 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia turun 3,12 persen, jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan turun 1,97 persen, serta industri pencetakan dan reproduksi media rekaman turun 0,46 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan I tahun 2017 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Utara naik 41,90 persen, Provinsi Sulawesi Barat naik 36,40 persen, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur naik 27,53 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat turun 9,56 persen, Provinsi Jawa Tengah turun 3,28 persen, dan Provinsi Kepulauan Riau turun 1,68 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan I tahun 2017 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Barat naik 19,04 persen, Provinsi Aceh naik 15,10 persen, dan Provinsi Nusa Tenggara Barat naik 10,69 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Provinsi Papua Barat turun 4,42 persen, Provinsi Sulawesi Utara turun 1,33 persen, dan Provinsi Kalimantan Timur turun 0,77 persen.
Download PDFNilai Tukar Petani (NTP) April 2017 sebesar 100,01 atau Naik 0,06 Persen
2017-05-02
NTP nasional April 2017 sebesar 100,01 atau naik 0,06 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun sebesar 0,08 persen lebih kecil dari penurunan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,14 persen.Pada April 2017, NTP Provinsi Kalimantan Barat mengalami penurunan terbesar (1,40 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Gorontalo mengalami kenaikan tertinggi (0,64 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya.Pada April 2017 terjadi deflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,29 persen disebabkan oleh turunnya satu dari tujuh kelompok penyusun indeks konsumsi rumah tangga. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional April 2017 sebesar 108,61 atau turun 0,30 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.
Download PDF