Logo BPS
BPS REPUBLIK INDONESIA

Berita Statistik BPS Republik Indonesia

Februari 2017 terjadi inflasi 0,23 persen

Februari 2017 terjadi inflasi 0,23 persen

2017-03-01

Pada Februari 2017 terjadi inflasi sebesar 0,23 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 128,24. Dari 82 kota IHK, 62 kota mengalami inflasi dan 20 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Manado sebesar 1,16 persen dengan IHK sebesar 128,49 dan terendah terjadi di Ternate sebesar 0,03 persen dengan IHK sebesar 131,13. Sedangkan, deflasi tertinggi terjadi di Jambi sebesar 1,40 persen dengan IHK sebesar 125,74 dan terendah terjadi di Bungo sebesar 0,02 persen dengan IHK sebesar 125,34.Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,39 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,75 persen; kelompok sandang sebesar 0,52 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,26 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,08 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,15 persen. Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, yaitu kelompok bahan makanan sebesar 0,31 persen. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Februari) 2017 sebesar 1,21 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Februari 2017 terhadap Februari 2016) sebesar 3,83 persen. Komponen inti pada Februari 2017 mengalami inflasi sebesar 0,37 persen. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–Februari) 2017 mengalami inflasi sebesar 0,93 persen dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Februari 2017 terhadap Februari 2016) sebesar 3,41 persen.

Download PDF
Wisatawan Mancanegara Desember 2016 Mencapai 1,11 Juta Kunjungan

Wisatawan Mancanegara Desember 2016 Mencapai 1,11 Juta Kunjungan

2017-02-16

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia Desember 2016 naik 12,87 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari 986,3 ribu kunjungan menjadi 1,11 juta kunjungan. Begitu pula, jika dibandingkan dengan Desember 2016, mengalami kenaikan sebesar 11,07 persen. Secara kumulatif, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia selama tahun 2016 mencapai 11,52 juta kunjungan atau naik 10,69 persen dibandingkan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah 10,41 juta kunjungan.Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 27 provinsi pada Desember 2016 mencapai rata-rata 56,50 persen atau turun 0,75 poin dibandingkan dengan TPK Desember 2015 yang tercatat sebesar 57,25 persen. Sementara itu, jika dibanding TPK November 2016, TPK hotel berbintang pada Desember 2016 naik 0,74 poin.Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 27 provinsi selama Desember 2016 tercatat sebesar 1,70 hari, terjadi penurunan 0,13 poin jika dibandingkan keadaan Desember 2015.

Download PDF
Januari 2017 Rupiah Terapresiasi 0,65 Persen Terhadap Dolar Amerika

Januari 2017 Rupiah Terapresiasi 0,65 Persen Terhadap Dolar Amerika

2017-02-16

Rupiah terapresiasi 0,65 persen terhadap dolar Amerika pada Januari 2017. Level tertinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Amerika terjadi pada minggu kedua Januari 2017 yang mencapai Rp13.305,40 per dolar Amerika. Sedangkan menurut provinsi, level tertinggi kurs tengah terjadi di Provinsi Papua yang mencapai Rp13.165,63 per dolar Amerika pada minggu kedua Januari 2017.Rupiah terdepresiasi 3,81 persen terhadap dolar Australia pada Januari 2017. Level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Australia terjadi pada minggu keempat Januari 2017 yang mencapai Rp10.032,62 per dolar Australia. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah yang mencapai Rp10.119,50 per dolar Australia pada minggu keempat Januari 2017.Rupiah terdepresiasi 2,27 persen terhadap yen Jepang pada Januari 2017. Level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap yen Jepang terjadi pada minggu ketiga Januari 2017 yang mencapai Rp116,95 per yen Jepang. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Maluku Utara yang mencapai Rp119,13 per yen Jepang pada minggu ketiga Januari 2017.Rupiah terdepresiasi 1,69 persen terhadap euro pada Januari 2017. Level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap euro terjadi pada minggu keempat Januari 2017 yang mencapai Rp14.278,78 per euro. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Riau yang mencapai Rp14.387,50 per euro pada minggu keempat Januari 2017.

Download PDF
Upah nominal harian buruh tani nasional Januari 2017 naik sebesar 0,77%

Upah nominal harian buruh tani nasional Januari 2017 naik sebesar 0,77%

2017-02-16

Upah nominal harian buruh tani nasional pada Januari 2017 naik sebesar 0,77 persen dibanding upah buruh tani Desember 2016, yaitu dari Rp48.627,00 menjadi Rp49.000,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,02 persen. Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Januari 2017 naik 0,29 persen dibanding upah Desember 2016, yaitu dari Rp83.190,00 menjadi Rp83.432,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,67 persen.

Download PDF
Ekspor Januari 2017 Mencapai US$ 13,38 Miliar

Ekspor Januari 2017 Mencapai US$ 13,38 Miliar

2017-02-16

Nilai ekspor Indonesia Januari 2017 mencapai US$13,38 miliar atau menurun 3,21 persen dibanding ekspor Desember 2016. Sementara dibanding Januari 2016 meningkat 27,71 persen.Ekspor nonmigas Januari 2017 mencapai US$12,11 miliar, turun 3,70 persen dibanding Desember 2016, sementara dibanding ekspor Januari 2016 naik 29,24 persen.Penurunan terbesar ekspor nonmigas Januari 2017 terhadap Desember 2016 terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$121,3 juta (27,56 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada karet dan barang dari karet sebesar US$60,0 juta (10,55 persen).Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari 2017 naik 26,27 persen dibanding bulan yang sama tahun 2016, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 11,67 persen dan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 50,37 persen.Ekspor nonmigas Januari 2017 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$1,55 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,43 miliar dan India US$1,32 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 35,46 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,37 miliar.Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari 2017 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$2,30 miliar (17,16 persen), diikuti Riau US$1,55 miliar (11,56 persen) dan Kalimantan Timur US$1,48 miliar (11,08 persen).

Download PDF
Kondisi Bisnis dan Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan IV-2016 Meningkat

Kondisi Bisnis dan Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan IV-2016 Meningkat

2017-02-06

A. Penjelasan Umum Indeks Tendensi Bisnis (ITB) adalah indikator perkembangan ekonomi usaha terkini yang datanya diperoleh dari Survei Tendensi Bisnis (STB) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik bekerja sama dengan Bank Indonesia. STB dilakukan setiap triwulan di beberapa kota besar terpilih di seluruh provinsi di Indonesia. Jumlah sampel STB triwulan IV-2016 sebesar 5.105 perusahaan besar dan sedang, dengan responden pimpinan perusahaan. ITB merupakan indeks yang menggambarkan kondisi bisnis dan perekonomian pada triwulan berjalan dan perkiraan triwulan mendatang. B. Kondisi Bisnis Triwulan IV-2016 Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada triwulan IV-2016 sebesar 106,70, berarti kondisi bisnis meningkat dari triwulan sebelumnya. Namun tingkat optimisme pelaku bisnis lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan III-2016 (nilai ITB sebesar 107,89). Peningkatan kondisi bisnis pada triwulan IV-2016 terjadi pada semua lapangan usaha kecuali lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang mengalami penurunan (nilai ITB sebesar 97,57). Peningkatan kondisi bisnis tertinggi terjadi pada lapangan usaha Jasa Pendidikan dengan nilai ITB sebesar 112,17. Sementara itu, peningkatan kondisi bisnis terendah terjadi pada lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian dengan nilai ITB sebesar 101,17. Peningkatan kondisi bisnis pada triwulan IV-2016 didorong oleh peningkatan pendapatan usaha dengan nilai indeks sebesar 108,58, rata-rata jumlah jam kerja dengan nilai indeks sebesar 105,96, dan penggunaan kapasitas produksi/usaha dengan nilai indeks sebesar 104,75. C. Prospek Bisnis Triwulan I-2017 Nilai ITB pada triwulan I-2017 diprediksi sebesar 105,81 berarti kondisi bisnis diperkirakan akan lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun, tingkat optimisme pelaku bisnis diperkirakan lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan IV-2016 (nilai ITB sebesar 106,70). Kondisi bisnis di semua lapangan usaha pada triwulan I-2017 diperkirakan mengalami peningkatan, kecuali pada lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian yang relatif stagnan (nilai ITB sebesar 100,94). Peningkatan kondisi bisnis tertinggi diperkirakan terjadi pada lapangan usaha Real Estat dengan nilai ITB sebesar 111,20, dan peningkatan terendah diperkirakan terjadi pada lapangan usaha Konstruksi dengan nilai ITB sebesar 103,39.

Download PDF
Ekonomi Indonesia Tahun 2016 Tumbuh 5,02 Persen Lebih Tinggi Dibanding Capaian Tahun  2015  Sebesar 4,88 Persen

Ekonomi Indonesia Tahun 2016 Tumbuh 5,02 Persen Lebih Tinggi Dibanding Capaian Tahun 2015 Sebesar 4,88 Persen

2017-02-06

Perekonomian Indonesia tahun 2016 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp12.406,8 triliun dan PDB perkapita mencapai Rp47,96 juta atau US$3.605,1. Ekonomi Indonesia tahun 2016 tumbuh 5,02 persen lebih tinggi dibanding capaian tahun 2015 sebesar 4,88 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 8,90 persen. Dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non-Profit yang melayani Rumah tangga sebesar 6,62 persen. Ekonomi Indonesia triwulan IV-2016 bila dibandingkan triwulan IV-2015 (y-on-y) tumbuh 4,94 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 9,57 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non-Profit yang melayani Rumahtangga sebesar 6,72 persen. Ekonomi Indonesia triwulan IV-2016 bila dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q) mengalami kontraksi sebesar 1,77 persen. Dari sisi produksi, hal ini disebabkan oleh efek musiman pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang mengalami kontraksi 21,24 persen. Dari sisi pengeluaran disebabkan oleh penurunan Ekspor neto. Struktur ekonomi Indonesia secara spasial Tahun 2016 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 58,49 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 22,03 persen, dan Pulau Kalimantan 7,85 persen.

Download PDF
Jumlah Penumpang Angkutan Udara Internasional Desember 2016 Naik 24,11 Persen

Jumlah Penumpang Angkutan Udara Internasional Desember 2016 Naik 24,11 Persen

2017-02-01

Jumlah penumpang angkutan udara domestik yang diberangkatkan pada Desember 2016 sebanyak 7,8 juta orang atau naik 16,98 persen dibanding November 2016. Jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) naik 24,11 persen menjadi 1,5 juta orang. Selama Januari-Desember 2016 jumlah penumpang domestik mencapai 80,4 juta orang atau naik 16,97 persen dan jumlah penumpang internasional mencapai 14,8 juta orang atau naik 8,16 persen dibanding periode yang sama tahun 2015. Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri yang diberangkatkan pada Desember 2016 tercatat 1,3 juta orang atau naik 15,96 persen dibanding November 2016. Jumlah barang yang diangkut turun 1,81 persen menjadi 22,4 juta ton. Selama Januari-Desember 2016 jumlah penumpang mencapai 14,9 juta orang atau naik 0,52 persen dibanding dengan periode yang sama tahun 2015 dan jumlah barang yang diangkut naik 8,37 persen atau mencapai 258,2 juta ton. Jumlah penumpang kereta api yang berangkat pada Desember 2016 sebanyak 32,2 juta orang atau naik 8,29 persen dibanding November 2016. Serupa dengan jumlah penumpang, jumlah barang yang diangkut kereta api naik 4,38 persen menjadi 3,3 juta ton. Selama Januari-Desember 2016 jumlah penumpang mencapai 351,8 juta orang atau naik 7,94 persen dibanding periode yang sama tahun 2015. Hal yang sama untuk jumlah barang yang diangkut kereta api naik 10,21 persen menjadi 35,3 juta ton.

Download PDF
Gini Ratio Pada September 2016 Sebesar 0,394

Gini Ratio Pada September 2016 Sebesar 0,394

2017-02-01

Pada September 2016, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh Gini Ratio tercatat sebesar 0,394. Angka ini menurun sebesar 0,003 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2016 yang sebesar 0,397. Sementara itu jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2015 yang sebesar 0,402, Gini Ratio September 2016 turun sebesar 0,008 poin.Gini Ratio di daerah perkotaan pada September 2016 tercatat sebesar 0,409 turun dibanding Gini Ratio Maret 2016 yang sebesar 0,410 dan Gini Ratio September 2015 yang sebesar 0,419. Sedangkan Gini Ratio di daerah perdesaan pada September 2016 tercatat sebesar 0,316 turun dibanding Gini Ratio Maret 2016 yang sebesar 0,327 dan Gini Ratio September 2015 yang sebesar 0,329.Pada September 2016, distribusi pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah adalah sebesar 17,11 persen. Artinya pengeluaran penduduk masih berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah. Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 16,02 persen yang artinya berada pada kategori ketimpangan sedang. Sementara untuk daerah perdesaan, angkanya tercatat sebesar 20,52 persen, yang berarti masuk dalam kategori ketimpangan rendah.

Download PDF
Pertumbuhan produksi IBS naik 2,06 persen dan IMK naik 4,88 persen pada triwulan IV tahun 2016 dari triwulan IV tahun 2015

Pertumbuhan produksi IBS naik 2,06 persen dan IMK naik 4,88 persen pada triwulan IV tahun 2016 dari triwulan IV tahun 2015

2017-02-01

Industri Manufaktur Besar dan SedangPertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang 2016 (y-on-y) tahunan naik 4,00 persen dibanding tahun 2015. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri Farmasi, Produk Obat Kimia dan Obat Tradisional, naik 8,01 persen, industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki, naik 7,62 persen, dan industri Makanan, naik 6,26 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi terbesar adalah industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik, turun 8,39 persen, industri Peralatan Listrik, turun 7,49 persen, dan industri Pakaian Jadi, turun 7,15 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV-2016 naik sebesar 2,06 persen (y-on-y) terhadap triwulan IV-2015. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri Makanan, naik 8,29 persen, industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia, naik 7,07 persen dan industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki, naik 5,58 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi terbesar adalah industri Tekstil, turun 7,91 persen, industri Pengolahan Lainnya, turun 6,47 persen dan industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik, turun 5,47 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV-2016 turun sebesar 0,34 persen (q-to-q) terhadap triwulan III-2016. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan pertumbuhan yang terbesar adalah industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik, naik 4,76 persen, industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki, naik 3,59 persen, dan industri Logam Dasar, naik 3,54 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri Mesin dan Perlengkapan ytdl, turun 5,80 persen, industri Kertas dan Barang dari Kertas, turun 4,12 persen, dan industri Makanan turun 3,63 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV-2016 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Lampung, naik 19,11 persen, Provinsi Jambi, naik 15,76 persen, dan Provinsi D.I Yogyakarta, naik 12,80 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Sumatera Selatan, turun 14,30 persen, Provinsi Bengkulu, turun 12,23 persen dan Provinsi Bali, turun 6,58 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV-2016 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Lampung, naik 17,96 persen, Provinsi Jambi, naik 11,33 persen dan Provinsi Sulawesi Barat, naik 6,21 persen. Provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Aceh, turun 21,43 persen, Provinsi Sumatera Selatan, turun 15,11 persen, dan Provinsi Sumatera Utara, turun 13,45 persen.Industri Manufaktur Mikro dan KecilPertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil tahun 2016 naik sebesar 5,78 persen terhadap tahun 2015. Selama tiga tahun terakhir terjadi kenaikan pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil. Pada tahun 2015 pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil naik sebesar 5,71 persen dan pada tahun 2014 naik sebesar 4,91 persen terhadap tahun 2013.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan IV-2016 naik sebesar 4,88 persen (y-on-y) terhadap triwulan IV-2015. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi Industri Komputer, Barang Elektronika dan Optik (43,71 persen), Industri Mesin dan Perlengkapan ytdl (yang tidak termasuk dalam lainnya) naik 25,98 persen, dan Industri Kertas dan Barang dari Kertas naik 25,49 persen. Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah Industri Pengolahan Tembakau turun 15,62 persen, Jasa Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan turun 11,82 persen, dan Industri Peralatan listrik turun 10,73 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan IV-2016 naik sebesar 0,51 persen (q-to-q) terhadap triwulan III-2016. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan pertumbuhan yang terbesar adalah Industri Komputer, Barang Elektronika dan Optik naik 13,56 persen, Industri Mesin dan Perlengkapan ytdl (yang tidak termasuk dalam lainnya) naik 12,82 persen, dan Industri Kertas dan Barang dari Kertas naik 6,12 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah Industri Pengolahan Tembakau turun 27,91 persen, Industri Peralatan listrik turun 15,56 persen, dan Industri Farmasi, Obat dan Obat Tradisional turun 12,57 persen. Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan IV-2016 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Kalimantan Utara naik 38,19 persen, Provinsi Nusa Tenggara Timur naik 33,26 persen, dan Provinsi Maluku Utara naik 25,56 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan produksi adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat turun 14,70 persen, Provinsi Aceh turun 8,93 persen, dan Kepulauan Bangka Belitung turun 8,06 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan IV-2016 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Utara naik 23,44 persen, Provinsi Nusa Tenggara Timur naik 16,66 persen, dan Provinsi Kalimantan Tengah naik 11,03 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan produksi adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat turun 19,17 persen, Provinsi Aceh turun 6,56 persen, dan Provinsi Sulawesi Selatan turun 5,48 persen.

Download PDF