Logo BPS
BPS REPUBLIK INDONESIA

Berita Statistik BPS Republik Indonesia

Nilai ekspor Indonesia April 2016 mencapai US$11,45 miliar dan Nilai impor Indonesia April 2016 mencapai US$10,78 miliar

Nilai ekspor Indonesia April 2016 mencapai US$11,45 miliar dan Nilai impor Indonesia April 2016 mencapai US$10,78 miliar

2016-05-16

EKSPORNilai ekspor Indonesia April 2016 mencapai US$11,45 miliar atau menurun 3,07 persen dibanding ekspor Maret 2016. Demikian juga dibanding April 2015 menurun 12,65 persen.Ekspor nonmigas April 2016 mencapai US$10,56 miliar, turun 0,10 persen dibanding Maret 2016, demikian juga dibanding ekspor April 2015 turun 9,32 persen.Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari?April 2016 mencapai US$45,05 miliar atau menurun 13,63 persen dibanding periode yang sama tahun 2015, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$40,70 miliar atau menurun 9,54 persen.Penurunan terbesar ekspor nonmigas April 2016 terhadap Maret 2016 terjadi pada perhiasan/permata sebesar US$135,7 juta (18,05 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$159,0 juta (12,75 persen).Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat April 2016 mencapai angka terbesar yaitu US$1,34 miliar, disusul Tiongkok US$1,05 miliar dan Jepang US$0,95 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 31,66 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$1,18 miliar.Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari?April 2016 turun 6,46 persen dibanding periode yang sama tahun 2015, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 24,64 persen, demikian juga ekspor hasil pertanian turun 19,84 persen.Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari?April 2016 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$8,17 miliar (18,14 persen), diikuti Jawa Timur US$6,49 miliar (14,41 persen) dan Kalimantan Timur U$4,40 miliar (9,76 persen). IMPORNilai impor Indonesia April 2016 mencapai US$10,78 miliar atau turun 4,62 persen apabila dibandingkan Maret 2016. Demikian pula apabila dibanding April 2015 turun 14,62 persen.Impor nonmigas April 2016 mencapai US$9,42 miliar atau turun 3,39 persen jika dibandingkan Maret 2016. Demikian pula apabila dibandingkan April 2015 turun 8,46 persen. Impor migas April 2016 mencapai US$1,36 miliar atau turun 12,32 persen jika dibandingkan Maret 2016. Demikian pula apabila dibandingkan April 2015 turun 41,74 persen.Secara kumulatif nilai impor Januari–April 2016 mencapai US$42,72 miliar atau turun 13,44 persen dibanding periode yang sama tahun 2015. Kumulatif nilai impor terdiri dari impor migas US$5,26 miliar (turun 37,70 persen) dan nonmigas US$37,47 miliar (turun 8,44 persen).Peningkatan impor nonmigas terbesar April 2016 adalah golongan barang dari besi dan baja US$79,2 juta (34,59 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan serealia US$169,4 miliar (43,82 persen) Tiga negara asal barang impor nonmigas terbesar Januari–April 2016 adalah Tiongkok dengan nilai US$9,65 miliar (25,76 persen), Jepang US$4,10 miliar (10,94 persen), dan Thailand US$3,05 miliar (8,15 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai pangsa pasar 22,49 persen, sementara dari Uni Eropa 9,59 persen. Nilai impor golongan bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari–April 2016 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing sebesar 15,38 persen dan 17,02 persen. Sebaliknya impor golongan barang konsumsi meningkat 16,42 persen.

Download PDF
Ekonomi Indonesia Triwulan I 2016 tumbuh 4,92 persen meningkat dibanding Triwulan I 2015

Ekonomi Indonesia Triwulan I 2016 tumbuh 4,92 persen meningkat dibanding Triwulan I 2015

2016-05-04

Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan I-2016 mencapai Rp2.947,6 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.262,6 triliun.Ekonomi Indonesia triwulan I-2016 terhadap triwulan I-2015 tumbuh 4,92 persen (y-on-y) meningkat dibanding periode yang sama pada tahun 2015 sebesar 4,73 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 9,10 persen. Dari sisi Pengeluaran oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga yang tumbuh 6,38 persen.Ekonomi Indonesia triwulan I-2016 terhadap triwulan sebelumnya turun sebesar 0,34 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, penurunan disebabkan oleh kontraksi yang terjadi pada beberapa lapangan usaha. Sedangkan dari sisi pengeluaran disebabkan oleh kontraksi komponen investasi (minus 5,75 persen) dan ekspor (minus 3,44 persen).Struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan I-2016 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 58,91 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 22,15 persen, dan Pulau Kalimantan sebesar 7,67 persen. Sementara pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Pulau Sulawesi.

Download PDF
Kondisi Bisnis Menurun, Namun Kondisi Ekonomi Konsumen Meningkat

Kondisi Bisnis Menurun, Namun Kondisi Ekonomi Konsumen Meningkat

2016-05-04

Indeks Tendensi Bisnis (ITB) adalah indikator perkembangan ekonomi usaha terkini yang datanya diperoleh dari Survei Tendensi Bisnis (STB) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik bekerja sama dengan Bank Indonesia. STB dilakukan setiap triwulan di beberapa kota besar terpilih di seluruh provinsi di Indonesia. Jumlah sampel STB triwulan I-2016 sebesar 4.395 perusahaan besar dan sedang, dengan responden pimpinan perusahaan. ITB merupakan indeks yang menggambarkan kondisi bisnis dan perekonomian pada triwulan berjalan dan perkiraan pada triwulan mendatang.

Download PDF
Februari 2016: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sebesar 5,50 Persen

Februari 2016: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sebesar 5,50 Persen

2016-05-04

KEADAAN KETENAGAKERJAAN FEBRUARI 2016 DIBANDING FEBRUARI 2015 Jumlah penduduk yang bekerja turun sebanyak 200 ribu orang. Penurunan ini terutama terjadi di Sektor Pertanian, sedangkan Sektor Perdagangan mengalami peningkatan jumlah penduduk yang bekerja.Jumlah penganggur turun sebanyak 430 ribu orang.Jumlah Bukan Angkatan Kerja (BAK) meningkat sebanyak 3,6 juta orang.Kenaikan penyerapan tenaga kerja terjadi terutama di Sektor Perdagangan sebanyak 1,8 juta orang (6,94 persen) dan Sektor Jasa Kemasyarakatan sebanyak 380 ribu orang (1,96 persen). Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mengalami penurunan sebesar 1,44 persen poin.TPT mengalami penurunan sebesar 0,31 persen poin.

Download PDF
Pertumbuhan Produksi IBS Naik 4,08 Persen Dan IMK Naik 5,91 Persen   Pada Triwulan I-2016 Dari Triwulan I-2015

Pertumbuhan Produksi IBS Naik 4,08 Persen Dan IMK Naik 5,91 Persen Pada Triwulan I-2016 Dari Triwulan I-2015

2016-05-02

INDUSTRI MANUFAKTUR BESAR DAN SEDANG (IBS)Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan I-2016 naik sebesar 4,08 persen (y-on-y) terhadap triwulan I-2015. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional, naik 10,50 persen, industri barang galian bukan logam, naik 8,58 persen dan industri logam dasar, naik 7,61 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, turun 10,85 persen, industri peralatan listrik, turun 9,97 persen dan industri pakaian jadi, turun 9,97 persen. Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan I-2016 turun sebesar 1,41 persen (q-to-q) terhadap triwulan IV-2015. Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri pengolahan tembakau, turun 9,99 persen, industri karet, barang dari karet dan plastik, turun 7,66 persen dan industri kertas dan barang dari kertas, turun 5,73 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan terbesar adalah industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya, naik 5,60 persen, industri logam dasar, naik 3,76 persen dan industri alat angkutan lainnya, naik 3,51 persen. Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan I-2016 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Sumatera Utara, naik 14,11 persen, Provinsi Riau, naik 13,66 persen, dan Provinsi D.K.I Jakarta, naik 12,83 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Papua Barat, turun 5,93 persen, dan Provinsi Banten, turun 0,96 persen. Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan I-2016 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat, naik 2,53 persen, Provinsi Papua, naik 2,50 persen dan Provinsi D.I.Y Yogyakarta 2,21 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Bali, turun 7,32 persen, Provinsi Riau, turun 6,69 persen dan Provinsi Lampung, turun 6,25 persen.INDUSTRI MANUFAKTUR MIKRO DAN KECIL (IMK)Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan I-2016 naik sebesar 5,91 persen (yon-y) terhadap triwulan I-2015. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri komputer, barang elektronika dan optik (24,26 persen), industri mesin dan perlengkapan ytdl (yang tidak termasuk dalam lainnya) sebesar 24,17 persen, serta industri percetakan dan reproduksi media rekaman sebesar 23,31 persen. Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatannya turun 14,43 persen, industri barang logam bukan mesin dan peralatannya turun 11,07 persen, serta Industri karet, barang dari karet, dan plastik turun 4,22 persen. Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan I-2016 naik sebesar 0,76 persen (qto-q) terhadap triwulan IV-2015. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan produksi adalah Industri kertas dan barang dari kertas naik 13,95 persen, Industri komputer, barang elektronika dan optik naik 13,35 persen, serta mesin dan perlengkapan ytdl (yang tidak termasuk dalam lainnya) naik sebesar 12,37 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatannya turun 7,75 persen, Industri barang logam bukan mesin dan peralatannya turun 7,70 persen, serta industri pengolahan tembakau turun 6,71 persen. Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan I-2016 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Utara naik 35,10 persen, Provinsi Maluku naik 27,70 persen, dan Provinsi Maluku Utara naik 23,76 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat turun 5,10 persen, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung turun 4,33 persen, dan Provinsi Riau turun 3,86 persen. Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan I-2016 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Utara naik 6,09 persen, Provinsi Maluku Utara naik 5,68 persen, dan Provinsi Kalimantan Timur naik 5,45 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Provinsi Sulawesi Utara turun 8,45 persen, Provinsi Papua Barat turun 5,17 persen, dan Provinsi Sulawesi Selatan turun 4,58 persen.

Download PDF
Pertumbuhan Produksi IBS Naik 4,08 Persen Dan IMK Naik 5,91 Persen   Pada Triwulan I-2016 Dari Triwulan I-2015

Pertumbuhan Produksi IBS Naik 4,08 Persen Dan IMK Naik 5,91 Persen Pada Triwulan I-2016 Dari Triwulan I-2015

2016-05-02

INDUSTRI MANUFAKTUR BESAR DAN SEDANG (IBS)Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan I-2016 naik sebesar 4,08 persen (y-on-y) terhadap triwulan I-2015. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional, naik 10,50 persen, industri barang galian bukan logam, naik 8,58 persen dan industri logam dasar, naik 7,61 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, turun 10,85 persen, industri peralatan listrik, turun 9,97 persen dan industri pakaian jadi, turun 9,97 persen. Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan I-2016 turun sebesar 1,41 persen (q-to-q) terhadap triwulan IV-2015. Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri pengolahan tembakau, turun 9,99 persen, industri karet, barang dari karet dan plastik, turun 7,66 persen dan industri kertas dan barang dari kertas, turun 5,73 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan terbesar adalah industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya, naik 5,60 persen, industri logam dasar, naik 3,76 persen dan industri alat angkutan lainnya, naik 3,51 persen. Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan I-2016 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Sumatera Utara, naik 14,11 persen, Provinsi Riau, naik 13,66 persen, dan Provinsi D.K.I Jakarta, naik 12,83 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Papua Barat, turun 5,93 persen, dan Provinsi Banten, turun 0,96 persen. Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan I-2016 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat, naik 2,53 persen, Provinsi Papua, naik 2,50 persen dan Provinsi D.I.Y Yogyakarta 2,21 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Bali, turun 7,32 persen, Provinsi Riau, turun 6,69 persen dan Provinsi Lampung, turun 6,25 persen.INDUSTRI MANUFAKTUR MIKRO DAN KECIL (IMK)Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan I-2016 naik sebesar 5,91 persen (yon-y) terhadap triwulan I-2015. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri komputer, barang elektronika dan optik (24,26 persen), industri mesin dan perlengkapan ytdl (yang tidak termasuk dalam lainnya) sebesar 24,17 persen, serta industri percetakan dan reproduksi media rekaman sebesar 23,31 persen. Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatannya turun 14,43 persen, industri barang logam bukan mesin dan peralatannya turun 11,07 persen, serta Industri karet, barang dari karet, dan plastik turun 4,22 persen. Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan I-2016 naik sebesar 0,76 persen (qto-q) terhadap triwulan IV-2015. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan produksi adalah Industri kertas dan barang dari kertas naik 13,95 persen, Industri komputer, barang elektronika dan optik naik 13,35 persen, serta mesin dan perlengkapan ytdl (yang tidak termasuk dalam lainnya) naik sebesar 12,37 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatannya turun 7,75 persen, Industri barang logam bukan mesin dan peralatannya turun 7,70 persen, serta industri pengolahan tembakau turun 6,71 persen. Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan I-2016 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Utara naik 35,10 persen, Provinsi Maluku naik 27,70 persen, dan Provinsi Maluku Utara naik 23,76 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat turun 5,10 persen, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung turun 4,33 persen, dan Provinsi Riau turun 3,86 persen. Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan I-2016 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Utara naik 6,09 persen, Provinsi Maluku Utara naik 5,68 persen, dan Provinsi Kalimantan Timur naik 5,45 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Provinsi Sulawesi Utara turun 8,45 persen, Provinsi Papua Barat turun 5,17 persen, dan Provinsi Sulawesi Selatan turun 4,58 persen.

Download PDF
Triwulan I-2016 Harga Produsen Mengalami Inflasi 0,44%

Triwulan I-2016 Harga Produsen Mengalami Inflasi 0,44%

2016-05-02

Indeks Harga Produsen (IHP) triwulan I-2016 naik 0,44 persen terhadap triwulan IV-2015 (q-to-q) dan naik 1,16 persen terhadap triwulan I-2015 (y-on-y). IHP Sektor Pertanian triwulan I-2016 naik 0,96 persen terhadap triwulan IV-2015 (q-to-q), dan terhadap triwulan I-2015 (y-on-y) naik 3,49 persen. IHP Sektor Pertambangan dan Penggalian triwulan I-2016 turun 3,18 persen dibandingkan triwulan IV-2015 (q-to-q), dan terhadap triwulan I-2015 (y-on-y) turun 15,12 persen. IHP Sektor Industri Pengolahan triwulan I-2016 naik 0,73 persen terhadap triwulan IV-2015 (q-to-q), demikian pula terhadap triwulan I-2015 (y-on-y) naik 2,79 persen. IHP Sektor Akomodasi, Makanan dan Minuman triwulan I-2016 naik 0,30 persen terhadap triwulan IV-2015 (q-to-q), demikian pula naik 1,15 persen terhadap triwulan I-2015 (y-on-y).

Download PDF
Nilai Tukar Petani (NTP) April 2016 Sebesar 101,22 Atau Turun 0,10 Persen

Nilai Tukar Petani (NTP) April 2016 Sebesar 101,22 Atau Turun 0,10 Persen

2016-05-02

NTP nasional April 2016 sebesar 101,22 atau turun 0,10 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun sebesar 0,51 persen, lebih besar dari penurunan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,41 persen.Pada April 2016, NTP Provinsi Sulawesi Selatan mengalami penurunan terbesar (1,29 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Riau mengalami kenaikan tertinggi (2,10 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Pada April 2016 terjadi deflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,50 persen disebabkan oleh turunnya indeks kelompok transportasi dan komunikasi serta indeks kelompok bahan makanan. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional April 2016 sebesar 108,95 atau turun 0,34 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.

Download PDF
Kunjungan Penduduk Mancanegara Maret 2016 Mencapai 915 Ribu Kunjungan

Kunjungan Penduduk Mancanegara Maret 2016 Mencapai 915 Ribu Kunjungan

2016-05-02

Jumlah kunjungan penduduk mancanegara ke Indonesia Maret 2016 mencapai 915,0 ribu kunjungan, naik 8,79 persen dibanding kunjungan Maret 2015. Begitu pula, jika dibandingkan dengan Februari 2016, mengalami kenaikan sebesar 3,01 persen. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia Maret 2016 naik 7,88 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari 827,1 ribu kunjungan menjadi 892,2 ribu kunjungan. Demikian pula, jika dibanding Februari 2016, jumlah kunjungan wisman naik 3,36 persen. Secara kumulatif, (Januari–Maret) 2016, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 2,54 juta kunjungan atau naik 4,66 persen dibandingkan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah 2,43 juta kunjungan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 27 provinsi pada Maret 2016 mencapai rata-rata 52,88 persen atau naik 3,75 poin dibandingkan dengan TPK Maret 2015 yang tercatat sebesar 49,13 persen. Begitu pula, jika dibanding TPK Februari 2016, TPK hotel berbintang pada Maret 2016 naik 0,73 poin. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 27 provinsi selama Maret 2016 tercatat sebesar 1,81 hari, terjadi penurunan 0,15 poin jika dibandingkan keadaan Maret 2015.

Download PDF
April 2016 harga grosir naik 0,67%

April 2016 harga grosir naik 0,67%

2016-05-02

Pada April 2016 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen naik sebesar 0,67 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB tertinggi terjadi pada Kelompok Barang Ekspor Nonmigas sebesar 3,04 persen.IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada April 2016 turun sebesar 0,01 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan penurunan harga komoditas aspal sebesar 1,32 persen, semen 0,35 persen, keramik lantai 0,32 persen, tanah urug 0,25 persen, dan besi lainnya 0,22 persen.IHPB Bahan Baku, Barang Konsumsi, dan Barang Modal pada Maret 2016 masing-masing mengalami kenaikan sebesar 0,87 persen, 5,10 persen, dan 0,18 persen.

Download PDF