Berita Statistik BPS Republik Indonesia
Ekspor Indonesia Januari 2016 mencapai US$10,50 miliar dan Nilai impor Indonesia Januari 2016 mencapai US$10,45 miliar
2016-02-15
EKSPORNilai ekspor Indonesia Januari 2016 mencapai US$10,50 miliar atau menurun 11,88 persen dibanding ekspor Desember 2015. Demikian juga dibanding Januari 2015 menurun 20,72 persen. Ekspor nonmigas Januari 2016 mencapai US$9,39 miliar, turun 11,52 persen dibanding Desember 2015, demikian juga dibanding ekspor Januari 2015 turun 16,77 persen. Penurunan terbesar ekspor nonmigas Januari 2016 terhadap Desember 2015 terjadi pada lemak dan minyak hewani/nabati sebesar US$327,3 juta (20,15 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada perhiasan/permata sebesar US$128,8 juta (50,02 persen). Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat Januari 2016 mencapai angka terbesar yaitu US$1,23 miliar, disusul Jepang US$1,04 miliar dan Tiongkok US$0,89 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 33,64 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$1,16 miliar. Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari 2016 turun 15,53 persen dibanding bulan yang sama tahun 2015, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 25,14 persen, demikian juga ekspor hasil pertanian turun 6,64 persen. Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari 2016 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$1,98 miliar (18,82 persen), diikuti Jawa Timur US$1,29 miliar (12,24 persen) dan Kalimantan Timur U$1,12 miliar (10,69 persen).IMPORNilai impor Indonesia Januari 2016 mencapai US$10,45 miliar atau turun 13,48 persen dibandingDesember 2015. Demikian pula jika dibanding Januari 2015 turun 17,15 persen.Impor nonmigas Januari 2016 mencapai US$9,23 miliar atau turun 10,22 persen dibanding Desember 2015, begitu pula apabila dibanding Januari 2015 turun 12,09 persen.Impor migas Januari 2016 mencapai US$1,22 miliar atau turun 32,10 persen dibanding Desember 2015, demikian pula jika dibanding Januari 2015 turun 42,27 persen.Peningkatan impor nonmigas terbesar Januari 2016 dibanding Desember 2015 adalah golongan serealia US$115,4 juta (35,18 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan mesin dan peralatan listrik US$273,8 miliar (19,69 persen).Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari 2016 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai US$2,48 miliar (26,86 persen), Jepang US$0,90 miliar (9,73 persen), dan Thailand US$0,66 miliar (7,20 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai pangsa pasar 21,63 persen, sementara dari Uni Eropa 10,59 persen. Nilai impor golongan bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari 2016 mengalami penurunan dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya masing-masing 22,03 persen dan 18,96 persen. Sebaliknya impor golongan barang konsumsi naik 47,68 persen .
Download PDFEkonomi Indonesia Triwulan IV 2015 tumbuh 5,04 persen tertinggi selama tahun 2015
2016-02-05
Perekonomian Indonesia tahun 2015 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp11.540,8 triliun dan PDB perkapita mencapai Rp45,2 juta atau US$3,377.1.Ekonomi Indonesia tahun 2015 tumbuh 4,79 persen melambat bila dibanding tahun 2014 sebesar 5,02 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 10,06 persen. Dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 5,38 persen.Ekonomi Indonesia triwulan IV-2015 bila dibandingkan triwulan IV-2014 (y-on-y) tumbuh sebesar 5,04 persen tertinggi dibanding triwulan-triwulan sebelumnya tahun 2015, yaitu masing-masing sebesar 4,73 persen (triwulan I); 4,66 persen (triwulan II) dan 4,74 persen (triwulan III). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 12,52 persen. Dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi LNPRT sebesar 8,32 persen.Ekonomi Indonesia triwulan IV-2015 dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q) mengalami kontraksi 1,83 persen. Dari sisi produksi, hal ini disebabkan oleh efek musiman pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang mengalami kontraksi 23,34 persen. Dari sisi pengeluaran disebabkan oleh penurunan Ekspor neto. Struktur ekonomi Indonesia secara spasial Tahun 2015 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 58,29 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 22,21 persen, dan Pulau Kalimantan 8,15 persen.
Download PDFKondisi Bisnis dan Ekonomi Konsumen Meningkat
2016-02-05
Penjelasan Umum Indeks Tendensi Bisnis (ITB) adalah indikator perkembangan ekonomi usaha terkini yang datanya diperoleh dari Survei Tendensi Bisnis (STB) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik bekerja sama dengan Bank Indonesia. ITB merupakan indeks yang menggambarkan kondisi bisnis dan perekonomian pada triwulan berjalan dan perkiraan pada triwulan mendatang. STB dilakukan setiap triwulan di beberapa kota besar terpilih di seluruh provinsi di Indonesia. Jumlah sampel STB triwulan IV-2015 sebesar 4.514 perusahaan besar dan sedang, dengan responden pimpinan perusahaan. Kondisi Bisnis Triwulan IV-2015 Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada triwulan IV-2015 sebesar 105,22, berarti kondisi bisnis meningkat dari triwulan sebelumnya. Namun demikian, tingkat optimisme pelaku bisnis menurun jika dibandingkan dengan triwulan III-2015 (nilai ITB sebesar 106,04). Peningkatan kondisi bisnis pada triwulan IV-2015 terjadi pada sebagian besar lapangan usaha, kecuali lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (nilai ITB sebesar 90,18) serta Pertambangan dan Penggalian (nilai ITB sebesar 94,74). Peningkatan tertinggi terjadi pada lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (nilai ITB sebesar 117,84), sedangkan peningkatan kondisi bisnis terendah terjadi pada lapangan usaha Industri Pengolahan (nilai ITB sebesar 101,03). Kondisi bisnis pada triwulan IV-2015 meningkat karena adanya peningkatan pendapatan usaha (nilai indeks sebesar 107,49), kapasitas produksi/usaha (nilai indeks sebesar 103,95), dan rata-rata jumlah jam kerja (nilai indeks sebesar 103,86). Prospek Bisnis Triwulan I-2016 Nilai ITB pada triwulan I-2016 diprediksi sebesar 104,28 berarti kondisi bisnis diperkirakan akan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Tingkat optimisme pelaku bisnis diperkirakan lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan IV-2015 (nilai ITB sebesar 105,22).Kondisi bisnis di semua lapangan usaha pada triwulan I-2016 diperkirakan mengalami peningkatan, kecuali lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian (nilai ITB sebesar 92,03). Peningkatan kondisi bisnis tertinggi diperkirakan terjadi pada lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (nilai ITB sebesar 110,00), dan peningkatan terendah diperkirakan terjadi pada lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (nilai ITB sebesar 102,04).
Download PDFPertumbuhan Produksi IBS Naik 4,02 Persen dan IMK Naik 5,79 Persen pada Triwulan Iv-2015 dari Triwulan Iv-2014
2016-02-01
INDUSTRI BESAR DAN SEDANG (IBS)Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang 2015 (y-on-y) tahunan naik 4,57 persen dibanding tahun 2014. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi Industri Farmasi, Produk Obat Kimia dan Obat Tradisional, naik 12,53 persen, Industri Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya, naik 9,47 persen, Industri Barang Galian Bukan Logam dan Makanan, masing-masing naik 7,37 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV tahun 2015 naik sebesar 4,02 persen (y-on-y) terhadap triwulan IV tahun 2014. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi Industri Farmasi, Produk Obat Kimia dan Obat Tradisional naik 15,27 persen, Industri Komputer, Barang Elektronik dan Optik naik 11,36 persen dan industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik naik 8,15 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi terbesar adalah Industri Pakaian Jadi turun 14,63 persen, Industri Peralatan Listrik turun 10,93 persen, dan Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia turun 8,93 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV tahun 2015 naik sebesar 1,69 persen (q-to-q) terhadap triwulan III tahun 2015. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan pertumbuhan yang terbesar adalah Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki naik 7,66 persen, Industri Barang Galian Bukan Logam naik 5,81 persen, dan Industri Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya naik 5,62 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia turun 7,21 persen, Industri Peralatan Listrik turun 4,89 persen, dan Industri Pakaian Jadi turun 4,61 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV tahun 2015 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Riau naik 14,60 persen, Provinsi DKI Jakarta naik 12,77 persen, dan Provinsi Sumatera Utara naik 11,72 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Papua Barat turun 3,81 persen, dan Provinsi Nusa Tenggara Barat turun 1,08 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV tahun 2015 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Jawa Tengah naik 8,21 persen, Provinsi Riau naik 4,92 persen, dan Provinsi Papua naik 4,61 persen. Provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Aceh turun 6,23 persen, Papua Barat turun 4,15 persen dan Nusa Tenggara Barat turun 3,27 persen.INDUSTRI MANUFAKTUR MIKRO DAN KECIL (IMK)Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil tahun 2015 naik sebesar 5,71 persen terhadap tahun 2014. Selama tiga tahun terakhir terjadi kenaikan pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil. Pada tahun 2014 pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil naik sebesar 4,91 persen terhadap tahun 2013, dan tahun 2013 naik sebesar 7,51 persen terhadap tahun 2012.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan IV-2015 naik sebesar 5,79 persen (y-on-y) terhadap triwulan IV-2014. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia (18,87 persen), Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman (13,19 persen), serta Industri Mesin dan Perlengkapan ytdl (yang tidak termasuk dalam lainnya) 12,57 persen. Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik turun 5,57 persen, Jasa Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan turun 5,05 persen, dan Industri Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya turun 4,85 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan IV-2015 naik sebesar 1,35 persen (q-to-q) terhadap triwulan III-2015. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan pertumbuhan yang terbesar adalah Industri Komputer, Barang Elektronika dan Optik naik 5,97 persen, Industri Alat Angkutan Lainnya naik 5,71 persen, dan Industri Logam Dasar naik 4,99 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah Industri Pengolahan Tembakau turun 10,10 persen, Industri Pengolahan Lainnya turun 2,30 persen, dan Industri Furnitur turun 2,21 persen. Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan IV-2015 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Barat naik 21,99 persen, Kalimantan Utara naik 21,18 persen, dan Provinsi Maluku naik 19,97 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Provinsi Sumatera Selatan turun 8,34 persen, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung turun 4,95 persen, dan Provinsi Riau turun 4,61 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan IV-2015 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Barat naik 13,35 persen, Provinsi Papua Barat naik 11,50 persen, dan Provinsi Maluku Utara naik 7,81 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Provinsi Jambi turun 4,46 persen, Provinsi Nusa Tenggara Barat turun 2,43 persen, dan Provinsi Sumatera Barat turun 2,36 persen.
Download PDFPertumbuhan Produksi IBS Naik 4,02 Persen dan IMK Naik 5,79 Persen pada Triwulan Iv-2015 dari Triwulan Iv-2014
2016-02-01
INDUSTRI BESAR DAN SEDANG (IBS)Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang 2015 (y-on-y) tahunan naik 4,57 persen dibanding tahun 2014. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi Industri Farmasi, Produk Obat Kimia dan Obat Tradisional, naik 12,53 persen, Industri Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya, naik 9,47 persen, Industri Barang Galian Bukan Logam dan Makanan, masing-masing naik 7,37 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV tahun 2015 naik sebesar 4,02 persen (y-on-y) terhadap triwulan IV tahun 2014. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi Industri Farmasi, Produk Obat Kimia dan Obat Tradisional naik 15,27 persen, Industri Komputer, Barang Elektronik dan Optik naik 11,36 persen dan industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik naik 8,15 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi terbesar adalah Industri Pakaian Jadi turun 14,63 persen, Industri Peralatan Listrik turun 10,93 persen, dan Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia turun 8,93 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV tahun 2015 naik sebesar 1,69 persen (q-to-q) terhadap triwulan III tahun 2015. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan pertumbuhan yang terbesar adalah Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki naik 7,66 persen, Industri Barang Galian Bukan Logam naik 5,81 persen, dan Industri Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya naik 5,62 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia turun 7,21 persen, Industri Peralatan Listrik turun 4,89 persen, dan Industri Pakaian Jadi turun 4,61 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV tahun 2015 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Riau naik 14,60 persen, Provinsi DKI Jakarta naik 12,77 persen, dan Provinsi Sumatera Utara naik 11,72 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Papua Barat turun 3,81 persen, dan Provinsi Nusa Tenggara Barat turun 1,08 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV tahun 2015 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Jawa Tengah naik 8,21 persen, Provinsi Riau naik 4,92 persen, dan Provinsi Papua naik 4,61 persen. Provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Aceh turun 6,23 persen, Papua Barat turun 4,15 persen dan Nusa Tenggara Barat turun 3,27 persen.INDUSTRI MANUFAKTUR MIKRO DAN KECIL (IMK)Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil tahun 2015 naik sebesar 5,71 persen terhadap tahun 2014. Selama tiga tahun terakhir terjadi kenaikan pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil. Pada tahun 2014 pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil naik sebesar 4,91 persen terhadap tahun 2013, dan tahun 2013 naik sebesar 7,51 persen terhadap tahun 2012.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan IV-2015 naik sebesar 5,79 persen (y-on-y) terhadap triwulan IV-2014. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia (18,87 persen), Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman (13,19 persen), serta Industri Mesin dan Perlengkapan ytdl (yang tidak termasuk dalam lainnya) 12,57 persen. Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik turun 5,57 persen, Jasa Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan turun 5,05 persen, dan Industri Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya turun 4,85 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan IV-2015 naik sebesar 1,35 persen (q-to-q) terhadap triwulan III-2015. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan pertumbuhan yang terbesar adalah Industri Komputer, Barang Elektronika dan Optik naik 5,97 persen, Industri Alat Angkutan Lainnya naik 5,71 persen, dan Industri Logam Dasar naik 4,99 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah Industri Pengolahan Tembakau turun 10,10 persen, Industri Pengolahan Lainnya turun 2,30 persen, dan Industri Furnitur turun 2,21 persen. Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan IV-2015 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Barat naik 21,99 persen, Kalimantan Utara naik 21,18 persen, dan Provinsi Maluku naik 19,97 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Provinsi Sumatera Selatan turun 8,34 persen, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung turun 4,95 persen, dan Provinsi Riau turun 4,61 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan IV-2015 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Barat naik 13,35 persen, Provinsi Papua Barat naik 11,50 persen, dan Provinsi Maluku Utara naik 7,81 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Provinsi Jambi turun 4,46 persen, Provinsi Nusa Tenggara Barat turun 2,43 persen, dan Provinsi Sumatera Barat turun 2,36 persen.
Download PDFTriwulan IV-2015 Harga Produsen Mengalami Inflasi 0.29 Persen
2016-02-01
Indeks Harga Produsen (IHP) triwulan IV-2015 naik 0,29 persen terhadap triwulan III-2015 (q-to-q) dan naik 1,82 persen terhadap triwulan IV-2014 (y-on-y). IHP Sektor Pertanian triwulan IV-2015 naik 2,06 persen terhadap triwulan III-2015 (q-to-q), dan terhadap triwulan IV-2014 (y-on-y) naik 4,45 persen. IHP Sektor Pertambangan dan Penggalian triwulan IV-2015 turun 5,10 persen dibandingkan triwulan III-2015 (q-to-q), dan terhadap triwulan IV-2014 (y-on-y) turun 17,75 persen. IHP Sektor Industri Pengolahan triwulan IV-2015 naik 0,47 persen terhadap triwulan III-2015 (q-to-q), demikian pula terhadap triwulan IV-2014 (y-on-y) naik 4,07 persen. IHP Sektor Akomodasi, Makanan dan Minuman triwulan IV-2015 naik 0,16 persen terhadap triwulan III-2015 (q-to-q), demikian pula terhadap triwulan IV-2014 (y-on-y) naik 1,01 persen.
Download PDFNilai Tukar Petani (NTP) Januari 2016 Sebesar 102,55 Atau Turun 0,27 Persen
2016-02-01
NTP nasional Januari 2016 sebesar 102,55 atau turun 0,27 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,35 persen lebih kecil dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,63 persen.Pada Januari 2016, NTP Provinsi Sumatera Utara mengalami penurunan terbesar (1,22 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Maluku mengalami kenaikan tertinggi (0,92 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya.Pada Januari 2016 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,83 persen disebabkan oleh naiknya indeks dihampir seluruh kelompok konsumsi rumah tangga kecuali kelompok transportasi dan komunikasi.Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Januari 2016 sebesar 110,13 atau naik 0,18 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.
Download PDFMarjin Perdagangan Dan Pengangkutan Beras 10,42 Persen, Cabai Merah 25,33 Persen, Bawang Merah 22,61 Persen, Jagung Pipilan 31,90 Persen, Dan Daging Ayam Ras 11,63 Persen
2016-02-01
Pola Distribusi Perdagangan 2015 Distribusi perdagangan beras, cabai merah, bawang merah, jagung pipilan, dan daging ayam ras dari produsen sampai ke konsumen akhir melibatkan dua hingga sembilan fungsi kelembagaan usaha perdagangan.Alur distribusi perdagangan terpanjang cabai merah, bawang merah, dan jagung pipilan berada di Jawa Tengah, sedangkan beras dan daging ayam ras di DKI Jakarta.Alur distribusi perdagangan terpendek beras, cabai merah dan jagung pipilan berada di Sulawesi Utara, bawang merah di Maluku Utara; dan daging ayam ras di Kalimantan Barat.Peta Distribusi Perdagangan Persentase komoditi yang masuk terhadap ketersediaan beras dan cabai merah Kalimantan Utara adalah yang terbesar di Indonesia dengan persentase mencapai 99,81 persen untuk masing-masing komoditas. Sedangkan untuk bawang merah adalah Maluku yaitu mencapai 99,83 persen, jagung pipilan adalah DKI Jakarta yaitu mencapai 99,12 persen, dan daging ayam ras adalah Papua, yaitu mencapai 95,57 persen.Persentase komoditi yang keluar terhadap ketersediaan beras Sumatera Barat adalah yang terbesar di Indonesia dengan persentase sebesar 15,49%. Sedangkan untuk komoditas cabai merah adalah di DI Yogyakarta (76,24%), bawang merah adalah di Nusa Tenggara Barat (56,53%), jagung pipilan adalah di Gorontalo (93,82%), dan daging ayam ras adalah di Kalimantan Utara (16,05%). Jaringan terluas pendistribusian beras, cabai merah, dan daging ayam ras dilakukan oleh Jawa Tengah. Sedangkan untuk bawang merah adalah Jawa Barat dan jagung pipilan adalah Gorontalo.Marjin Perdagangan dan Pengangkutan (MPP)Rata-rata rasio MPP beras secara nasional berdasarkan Survei Poldis 2015 sebesar 10,42 persen, cabai merah 25,33 persen, bawang merah 22,61 persen, jagung pipilan 31,90 persen dan daging ayam ras 11,63 persen.
Download PDF370,9 Ribu Warga Negara Asing Mengunjungi Indonesia Melalui Pos Lintas Batas di Tahun 2015
2016-02-01
Penduduk mancanegara yang berkunjung ke Indonesia selama tahun 2015 mencapai 10,41 juta kunjungan, dimana 9,73 juta merupakan kunjungan wisman, 370,9 ribu kunjungan WNA yang memasuki wilayah Indonesia melalui Pos Lintas Batas (PLB), dan sisanya (306,5 ribu) merupakan kunjungan singkat WNA lainnya. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada Desember 2015 mencapai 913,8 ribu kunjungan atau turun 0,16 persen dibandingkan jumlah kunjungan wisman Desember 2014 yang tercatat sebanyak 915,3 ribu kunjungan. Sementara itu, jika dibandingkan dengan November 2015, jumlah kunjungan wisman Desember 2015 naik sebesar 17,46 persen. Jumlah kunjungan wisman melalui Bandara Ngurah Rai, Bali pada Desember 2015 naik 6,65 persen dibandingkan Desember 2014, yaitu dari 341,1 ribu kunjungan menjadi 363,8 ribu kunjungan. Begitu pula jika dibanding November 2015, jumlah kunjungan wisman melalui Bandara Ngurah Rai, Bali naik cukup besar, yaitu 38,75 persen. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 27 provinsi pada Desember 2015 mencapai rata-rata 57,25 persen atau naik 7,12 poin dibandingkan dengan TPK Desember 2014 yang tercatat sebesar 50,13 persen. Begitu pula, jika dibanding TPK November 2015, TPK hotel berbintang pada Desember 2015 naik 1,17 poin. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 27 provinsi selama Desember 2015 tercatat sebesar 1,83 hari, terjadi penurunan 0,08 poin jika dibandingkan keadaan Desember 2014.
Download PDFJanuari 2016 harga grosir naik 1,02%
2016-02-01
Pada Januari 2016 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen naik sebesar 1,02 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB tertinggi terjadi pada Sektor Pertanian sebesar 2,61 persen.IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Januari 2016 naik sebesar 0,30 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga komoditas pasir sebesar 1,24 persen, bahan bangunan dari aluminium 1,10 persen, batako 0,81 persen, batu hias dan batu bangunan 0,52 persen, dan semen 0,51persen.IHPB Bahan Baku, Barang Konsumsi, dan Barang Modal pada Desember 2015 masing-masing mengalami kenaikan sebesar 1,20 persen, 4,06 persen, dan 0,24 persen.
Download PDF