Logo BPS
BPS REPUBLIK INDONESIA

Berita Statistik BPS Republik Indonesia

Mei 2015 Harga Grosir Naik 1,47%

Mei 2015 Harga Grosir Naik 1,47%

2015-06-01

Pada Mei 2015 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigasatau indeks harga grosir/agen naik sebesar 1,47 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB tertinggi terjadi pada Sektor Pertanian sebesar 7,35 persen.IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Mei 2015 naik sebesar 0,14 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga komoditas bahan bangunan dari aluminium sebesar 0,68 persen, kloset, wastafel, dan sejenisnya 0,49 persen, perlengkapan listrik 0,44 persen, batu hias dan batu bangunan 0,35 persen, dan bahan bangunan siap pasang dari kayu 0,31 persen.IHPB Bahan Baku, Barang Konsumsi, dan Barang Modal pada April 2015 masing-masing mengalami kenaikan sebesar 0,14 persen, 0,29 persen, dan 0,18 persen.

Download PDF
Mei terjadi inflasi sebesar 0,50 persen

Mei terjadi inflasi sebesar 0,50 persen

2015-06-01

Pada Mei terjadi inflasi sebesar 0,50 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 119,50. Dari 82 kota IHK, tercatat 81 kota mengalami inflasi dan 1 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Palu 2,24 persen dengan IHK 120,42 dan terendah terjadi di Singkawang 0,03 persen dengan IHK 119,28. Sementara deflasi terjadi di Pangkalpinang 0,61 persen dengan IHK 118,06. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan 1,39 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,50 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,20 persen; kelompok sandang 0,23 persen; kelompok kesehatan 0,34 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,06 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,20 persen.Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Mei) 2015 sebesar 0,42 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Mei 2015 terhadap Mei 2014) sebesar 7,15 persen.Komponen inti pada Mei 2015 mengalami inflasi sebesar 0,23 persen; tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–Mei) 2015 sebesar 1,73 persen; dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Mei 2015 terhadap Mei 2014) sebesar 5,04 persen.

Download PDF
April 2015 Rupiah Terapresiasi 0,23 Persen Terhadap Dolar Amerika

April 2015 Rupiah Terapresiasi 0,23 Persen Terhadap Dolar Amerika

2015-05-15

Rupiah mencatat apresiasi 0,23 persen terhadap dolar Amerika di April 2015. Rupiah terdepresiasi 1,72 persen terhadap dolar Australia di April 2015. Rupiah terdepresiasi 0,33 persen terhadap yen Jepang di April 2015. Rupiah terdepresiasi 0,52 persen terhadap euro di April 2015.

Download PDF
Upah Nominal Harian Buruh Tani Nasional April 2015 Naik Sebesar 0,27 Persen

Upah Nominal Harian Buruh Tani Nasional April 2015 Naik Sebesar 0,27 Persen

2015-05-15

Upah nominal harian buruh tani nasional pada April 2015 naik sebesar 0,27persen dibanding upah buruh tani Maret 2015, yaitu dari Rp46.180,00 menjadiRp46.306,00 per hari. Secara riil mengalami kenaikan sebesar 0,06 persenUpah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada April 2015 naik 0,39 persen dibanding upah Maret 2015, yaitu dari Rp79.657,00 menjadi Rp79.970,00 per hari. Secara riil naik sebesar 0,03 persen

Download PDF
Ekspor April 2015 Mencapai US$13,08 Miliar

Ekspor April 2015 Mencapai US$13,08 Miliar

2015-05-15

Nilai ekspor Indonesia April 2015 mencapai US$13,08 miliar atau mengalami penurunan sebesar 4,04 persen dibanding ekspor Maret 2015. Demikian juga bila dibanding April 2014 mengalami penurunan sebesar 8,46 persen. Ekspor nonmigas April 2015 mencapai US$11,63 miliar, turun 0,17 persen dibanding Maret 2015, demikian juga bila dibanding ekspor April 2014 turun 0,13 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-April 2015 mencapai US$52,14 miliar atau menurun 11,02 persen dibanding periode yang sama tahun 2014, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$44,98 miliar atau menurun 6,43 persen. Penurunan terbesar ekspor nonmigas April 2015 terhadap Maret 2015 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$199,3 juta (11,73 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$270,8 juta (17,18 persen). Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat April 2015 mencapai angka terbesar yaitu US$1,38 miliar, disusul India US$1,19 miliar dan Tiongkok US$1,17 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 32,17 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$1,32 miliar. Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan periode Januari-April 2015 turun sebesar 5,69 persen dibanding periode yang sama tahun 2014, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 12,45 persen, sementara ekspor hasil pertanian naik sebesar 4,17 persen. Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada periode Januari-April 2015 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$8,53 miliar (16,37 persen), diikuti Kalimantan Timur sebesar US$6,87 miliar (13,19 persen) dan Jawa Timur sebesar U$6,20 miliar (11,90 persen). Nilai impor Indonesia April 2015 mencapai US$12,63 miliar atau naik 0,16 persen dibanding Maret 2015. Sementara jika dibanding April 2014 turun 22,31 persen. Impor nonmigas April 2015 mencapai US$10,29 miliar atau turun 0,46 persen dibanding Maret 2015, demikian pula turun 18,06 persen dibanding April 2014. Impor migas April 2015 mencapai US$2,34 miliar atau naik 3,00 persen dibanding Maret 2015, sebaliknya turun 36,74 persen dibanding April 2014. Secara kumulatif nilai impor Januari-April 2015 mencapai US$49,36 miliar atau turun 17,02 persen dibanding periode yang sama tahun 2014. Kumulatif nilai impor terdiri dari impor migas US$8,44 miliar (turun 42,57 persen) dan nonmigas US$40,92 miliar (turun 8,64 persen). Peningkatan impor nonmigas terbesar April 2015 adalah golongan binatang hidup US$0,05 miliar (153,28 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan mesin dan peralatan mekanik US$0,19 miliar (9,09 persen). Tiga negara asal barang impor nonmigas terbesar Januari-April 2015 adalah Tiongkok dengan nilai US$9,85 miliar (24,08 persen), Jepang US$5,05 miliar (12,35 persen), dan Thailand US$2,74 miliar (6,69 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai pangsa pasar 20,91 persen, sementara dari Uni Eropa 9,10 persen. Nilai impor golongan barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari-April 2015 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing sebesar 15,74 persen; 17,81 persen; dan 13,94 persen.

Download PDF
Indeks Tendensi Bisnis dan Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I-2015

Indeks Tendensi Bisnis dan Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I-2015

2015-05-05

Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada triwulan I-2015 sebesar 96,30 berarti kondisi bisnis menurun dari triwulan sebelumnya. Pelaku bisnis lebih pesimis jika dibandingkan dengan triwulan IV-2014 (nilai ITB sebesar 104,07).Penurunan kondisi bisnis pada triwulan I-2015 terjadi pada 10 lapangan usaha, sedangkan 7 lapangan usaha lainnya mengalami peningkatan kondisi bisnis. Penurunan terendah terjadi pada lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian (nilai ITB sebesar 87,16), sedangkan peningkatan kondisi bisnis tertinggi terjadi pada lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (nilai ITB sebesar 106,75). Kondisi bisnis pada triwulan I-2015 menurun karena adanya penurunan pendapatan perusahaan (nilai indeks sebesar 95,06), kapasitas produksi/usaha (nilai indeks sebesar 95,13), dan rata-rata jumlah jam kerja (nilai indeks sebesar 97,83).

Download PDF
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I 2015 tumbuh 4,71 Persen

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I 2015 tumbuh 4,71 Persen

2015-05-05

Perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan I-2015 mencapai Rp2.724,7 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.157,5 triliun. Ekonomi Indonesia triwulan I-2015 terhadap triwulan I-2014 tumbuh 4,71 persen (y-on-y) melambat dibanding periode yang sama pada tahun 2014 sebesar 5,14 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 10,53 persen. Dari sisi Pengeluaran oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang tumbuh 5,01 persen. Ekonomi Indonesia triwulan I-2015 terhadap triwulan sebelumnya turun sebesar 0,18 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan ini diwarnai oleh faktor musiman pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang tumbuh 14,63 persen. Sedangkan dari sisi Pengeluaran lebih disebabkan terkontraksinya kinerja investasi (minus 4,72 persen) dan ekspor (minus 5,98 persen). Struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan I-2015 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 58,30 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 22,56 persen, dan Pulau Kalimantan 8,26 persen.

Download PDF
Februari 2015, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,81 Persen

Februari 2015, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,81 Persen

2015-05-05

Angkatan kerja Indonesia pada Februari 2015 sebanyak 128,3 juta orang, bertambah sebanyak 6,4 juta orang dibanding Agustus 2014 atau bertambah sebanyak 3,0 juta orang dibanding Februari 2014. Penduduk bekerja pada Februari 2015 sebanyak 120,8 juta orang, bertambah 6,2 juta orang dibanding keadaan Agustus 2014 atau bertambah 2,7 juta orang dibanding keadaan Februari 2014. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2015 sebesar 5,81 persen menurun dibanding TPT Agustus 2014 (5,94 persen), dan meningkat dibandingkan TPT Februari 2014 (5,70 persen). Selama setahun terakhir (Februari 2014–Februari 2015) kenaikan penyerapan tenaga kerja terjadi terutama di Sektor Industri sebanyak 1,0 juta orang (6,43 persen), Sektor Jasa Kemasyarakatan sebanyak 930 ribu orang (5,03 persen), dan Sektor Perdagangan sebanyak 840 ribu orang (3,25 persen). Penduduk bekerja di atas 35 jam per minggu (pekerja penuh) pada Februari 2015 sebanyak 85,2 juta orang (70,48 persen), sedangkan penduduk yang bekerja kurang dari 15 jam per minggu sebanyak 7,5 juta orang (6,24 persen). Pada Februari 2015, penduduk bekerja masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan SD ke bawah sebesar 45,19 persen, sementara penduduk bekerja dengan pendidikan Sarjana ke atas hanya sebesar 8,29 persen.

Download PDF
Triwulan I-2015 Inflasi Harga Produsen 1,09 Persen

Triwulan I-2015 Inflasi Harga Produsen 1,09 Persen

2015-05-04

Indeks Harga Produsen (IHP) triwulan I-2015 naik 1,09 persen terhadap triwulan IV-2014 (q-to-q) dan naik 2,41 persen terhadap triwulan I-2014 (y-on-y). IHP Sektor Pertanian triwulan I-2015 naik 1,89 persen terhadap triwulan IV-2014 (q-to-q), begitu pula terhadap triwulan I-2014 (y-on-y) naik 6,35 persen. IHP Sektor Pertambangan dan Penggalian triwulan I-2015 turun 6,19 persen dibandingkan triwulan IV-2014 (q-to-q) dan turun 17,30 persen terhadap triwulan I-2014 (y-on-y). IHP Sektor Industri Pengolahan triwulan I-2015 naik 1,99 persen terhadap triwulan IV-2014 (q-to-q), demikian pula terhadap triwulan I-2014 (y-on-y) naik 4,82 persen. IHP Sektor Akomodasi, Makanan dan Minuman triwulan I-2015 naik 0,16 persen terhadap triwulan IV-2014 (q-to-q), demikian pula terhadap triwulan I-2014 (y-on-y) naik 1,59 persen.

Download PDF
Pertumbuhan Produksi IBS Naik Sebesar 5,05% dan IMK Naik 5,65% pada QI-2015 dari QI-2014

Pertumbuhan Produksi IBS Naik Sebesar 5,05% dan IMK Naik 5,65% pada QI-2015 dari QI-2014

2015-05-04

Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan I-2015 naik sebesar 5,05 persen (y-on-y) terhadap triwulan I-2014. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya naik 13,01 persen, industri peralatan listrik naik 10,13 persen, dan industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia naik 9,75 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri kertas dan barang dari kertas turun 4,04 persen, industri karet, barang dari karet dan plastik turun 3,94 persen, dan industri pakaian jadi turun 3,00 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan I-2015 turun sebesar 0,71 persen (q-to-q) terhadap triwulan IV-2014. Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri barang galian bukan logam turun 6,64 persen, industri peralatan listrik turun 4,74 persen dan industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya turun 4,38 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan terutama disebabkan naiknya produksi industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional naik 7,67 persen, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia naik 5,41 persen, dan industri karet, barang dari karet dan plastik naik 4,12 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan I-2015 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Maluku Utara naik 15,53 persen, Provinsi Maluku naik 14,39 persen, dan Provinsi Aceh naik 11,16 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Riau turun 9,66 persen, Provinsi Kepulauan Riau turun 9,50 persen, dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung turun 3,39 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan I-2015 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Sumatera Selatan naik 7,52 persen, Provinsi Maluku Utara naik 4,88 persen, dan Provinsi Maluku naik 4,29 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Bengkulu turun 8,85 persen, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung turun 7,39 persen, dan Provinsi Riau turun 7,01 persen.

Download PDF