Berita Statistik BPS Republik Indonesia
Triwulan II-2015 Inflasi Harga Produsen 0,15 Persen
2015-08-03
Indeks Harga Produsen (IHP) triwulan II-2015 naik 0,15 persen terhadap triwulan I-2015 (q-to-q) dan naik 2,16 persen terhadap triwulan II-2014 (y-on-y).IHP Sektor Pertanian triwulan II-2015 turun 1,75 persen terhadap triwulan I-2015 (q-to-q), sedangkan terhadap triwulan II-2014 (y-on-y) naik 4,87 persen.IHP Sektor Pertambangan dan Penggalian triwulan II-2015 naik 2,04 persen dibandingkan triwulan I-2015 (q-to-q), dan terhadap triwulan II-2014 (y-on-y) turun 15,21 persen.IHP Sektor Industri Pengolahan triwulan II-2015 naik 0,44 persen terhadap triwulan I-2015 (q-to-q), demikian pula terhadap triwulan II-2014 (y-on-y) naik 4,48 persen.IHP Sektor Akomodasi, Makanan dan Minuman triwulan II-2015 naik 0,42 persen terhadap triwulan I-2015 (q-to-q), demikian pula terhadap triwulan II-2014 (y-on-y) naik 1,78 persen.
Download PDFProduksi Cabai Besar 1,075 Juta Ton, Cabai Rawit 0,8 Juta Ton, dan Bawang Merah 1,234 Juta Ton
2015-08-03
Cabai Besar Produksi cabai besar segar dengan tangkai tahun 2014 sebesar 1,075 juta ton. Dibandingkan tahun 2013, terjadi kenaikan produksi sebesar 61,73 ribu ton (6,09 persen). Kenaikan ini disebabkan oleh kenaikan produktivitas sebesar 0,19 ton per hektar (2,33 persen) dan peningkatan luas panen sebesar 4,62 ribu hektar (3,73 persen) dibandingkan tahun 2013. Cabai Rawit Produksi cabai rawit segar dengan tangkai tahun 2014 sebesar 0,800 juta ton. Dibandingkan tahun 2013, terjadi kenaikan produksi sebesar 86,98 ribu ton (12,19 persen). Kenaikan ini disebabkan oleh kenaikan produktivitas sebesar 0,23 ton per hektar (4,04 persen) dan peningkatan luas panen sebesar 9,76 ribu hektar (7,80 persen) dibandingkan tahun 2013. Bawang Merah Produksi bawang merah tahun 2014 sebesar 1,234 juta ton. Dibandingkan tahun 2013, produksi meningkat sebesar 223,22 ribu ton (22,08 persen). Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya luas panen sebesar 21,77 ribu hektar (22,00 persen) dibandingkan tahun 2013.
Download PDFPertumbuhan produksi IBS naik sebesar 5,44% dan IMK naik 4,57% pada QII-2015 dari QII-2014
2015-08-03
- Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II tahun 2015 naik sebesar 5,44 persen (y-on-y) terhadap triwulan II tahun 2014. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya, naik 16,43 persen, industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional, naik 13,13 persen dan jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan, naik 9,43 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri pakaian jadi, turun 12,77 persen, industri alat angkutan lainnya, turun 6,52 persen, dan industri kertas dan barang dari kertas, turun 5,63 persen.- Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II tahun 2015 naik sebesar 2,34 persen (q-to-q) terhadap triwulan I tahun 2015. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan terbesar adalah industri makanan, naik 9,84 persen, industri karet, barang dari karet dan plastik, naik 8,61 persen, dan industri mesin dan perlengkapan ytdl, naik 8,60 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri pakaian jadi, turun 5,62 persen, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, turun 4,28 persen dan industri alat angkutan lainnya, turun 3,04 persen- Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II tahun 2015 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Maluku Utara naik 29,41 persen, Provinsi Aceh naik 14,98 persen, dan Provinsi Sumatera Selatan naik 13,73 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Sumatera Barat turun 6,06 persen, Provinsi Sulawesi Barat turun 1,20 persen, dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung turun 0,45 persen.- Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II tahun 2015 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Maluku Utara naik 12,02 persen, Provinsi Kepulauan Riau naik 11,42 persen, dan Provinsi Riau naik 11,12 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Sulawesi Selatan turun 0,84 persen, Provinsi Gorontalo turun 0,80 persen, dan Provinsi Maluku turun 0,59 persen.
Download PDFWisatawan Mancanegara Juni Mencapai 815,1 Ribu Kunjungan, Turun 4,27 Persen dibanding Juni 2014
2015-08-03
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada Juni 2015 mencapai 815,1 ribu kunjungan atau turun 4,27 persen dibandingkan jumlah kunjungan wisman Juni 2014 yang tercatat sebanyak 851,5 ribu kunjungan. Sementara itu, jika dibandingkan dengan Mei 2015, jumlah kunjungan wisman Juni 2015 naik sebesar 2,73 persen.Jumlah kunjungan wisman melalui Bandara Ngurah Rai, Bali pada Juni 2015 naik 8,51 persen dibandingkan Juni 2014, yaitu dari 329,7 ribu kunjungan menjadi 357,7 ribu kunjungan. Begitu pula, jika dibanding Mei 2015, jumlah kunjungan wisman melalui Bandara Ngurah Rai, Bali naik sebesar 24,58 persen.Selama Semester I (Januari–Juni) 2015, jumlah kunjungan wisman mencapai 4,66 juta kunjungan atau naik 2,34 persen dibanding kunjungan wisman pada periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah 4,55 juta kunjungan.Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 27 provinsi pada Juni 2015 mencapai rata-rata 54,14 persen atau turun 1,26 poin dibandingkan dengan TPK Juni 2014 yang tercatat sebesar 55,40 persen. Jika dibandingTPK Mei 2015, TPK hotel berbintang pada Juni 2015 naik 0,42 poin.Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 27 provinsi selama Juni 2015 tercatat sebesar 2,20 hari, terjadi kenaikan sebesar 0,34 poin, jika dibandingkan keadaan Juni 2014.
Download PDFNilai Tukar Petani (NTP) Juli 2015 Sebesar 100,97 Atau Naik 0,44 Persen
2015-08-03
NTP nasional Juli 2015 sebesar 100,97 atau naik 0,44 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 1,12 persen lebih besar dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,67 persen.Pada Juli 2015, NTP Provinsi Sulawesi Tenggara mengalami kenaikan tertinggi (1,57 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Riau mengalami penurunan terbesar (1,56 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Pada Juli 2015 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,89 persen disebabkan oleh naiknya indeks seluruh kelompok konsumsi. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Juli 2015 sebesar 107,14 atau naik 0,93 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.
Download PDFJuli 2015 harga grosir naik 0,85%
2015-08-03
- Pada Juli 2015 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen naik sebesar 0,85 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB tertinggi terjadi pada Sektor Pertanian sebesar 2,94 persen.- IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Juli 2015 naik sebesar 0,02 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga komoditas batu hias dan batu bangunan sebesar 0,68 persen, pasir 0,38 persen, perlengkapan listrik 0,23 persen, tanah urug 0,23 persen, serta cat dan cat dasar 0,19 persen.- IHPB Barang Konsumsi dan Barang Modal pada Juli 2015 masing-masing mengalami kenaikan sebesar 2,10 persen dan 0,30 persen, sedangkan IHPB Bahan Baku mengalami penurunan sebesar 2,94 persen.
Download PDFJuli 2015 terjadi inflasi 0,93 persen
2015-08-03
Pada Juli 2015 terjadi inflasi sebesar 0,93 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 121,26. Dari 82 kota IHK, tercatat 80 kota mengalami inflasi dan 2 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Pangkalpinang 3,18 persen dengan IHK 121,65 dan terendah terjadi di Pematangsiantar 0,06 persen dengan IHK 123,59. Sementara deflasi terjadi di Tanjung Pandan 0,48 persen dengan IHK 125,30 dan Merauke 0,65 persen dengan IHK 122,44. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan 2,02 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,51 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,13 persen; kelompok sandang 0,39 persen; kelompok kesehatan 0,36 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,34 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 1,74 persen.Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Juli) 2015 sebesar 1,90 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Juli 2015 terhadap Juli 2014) sebesar 7,26 persen.Komponen inti pada Juli 2015 mengalami inflasi sebesar 0,34 persen; tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–Juli) 2015 sebesar 2,34 persen; dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Juli 2015 terhadap Juli 2014) sebesar 4,86 persen.
Download PDFJuni 2015 Rupiah Terdepresiasi 0,58 Persen Terhadap Dolar Amerika
2015-07-15
Rupiah terdepresiasi 0,58 persen terhadap dolar Amerika di Juni 2015. Level terendah rata-rata kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Amerika di 34 provinsi terjadi pada minggu ketiga Juni 2015 yaitu Rp13.306,43 per dolar Amerika. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Sumatera Barat sebesar Rp13.400,00 per dolar Amerika pada minggu kedua Juni 2015.Rupiah terdepresiasi 0,28 persen terhadap dolar Australia di Juni 2015. Level terendah rata-rata kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Australia di 34 provinsi terjadi pada minggu ketiga Juni 2015 yang mencapai Rp10.297,32 per dolar Australia. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang mencapai Rp10.475,00 per dolar Australia pada minggu pertama Juni 2015.Rupiah mencatat apresiasi 0,65 persen terhadap yen Jepang di Juni 2015. Level tertinggi rata-rata kurs tengah eceran rupiah terhadap yen Jepang di 34 provinsi tercatat pada minggu pertama Juni 2015 yang mencapai Rp106,17 per yen Jepang. Sedangkan menurut provinsi, level tertinggi kurs tengah terjadi di Provinsi Aceh yang mencapai Rp97,50 per yen Jepang pada minggu keempat Juni 2015. Rupiah terdepresiasi 3,05 persen terhadap euro di Juni 2015. Level terendah rata-rata kurs tengah eceran rupiah terhadap euro di 34 provinsi terjadi pada minggu ketiga Juni 2015 yang mencapai Rp15.002,40 per euro. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Riau yang mencapai Rp15.175,00 per euro pada minggu ketiga Juni 2015.
Download PDFUpah Nominal Harian Buruh Tani Nasional Juni 2015 Naik Sebesar 0,16 Persen
2015-07-15
Upah nominal harian buruh tani nasional pada Juni 2015 naik sebesar 0,16 persen dibanding upah buruh tani Mei 2015, yaitu dari Rp46.386,00 menjadi Rp46.458,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,66 persen.Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Juni 2015 naik 0,19 persen dibanding upah Mei 2015, yaitu dari Rp80.087,00 menjadi Rp80.237,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,35.
Download PDFEkspor Juni 2015 Mencapai US$13,44 Miliar
2015-07-15
Nilai ekspor Indonesia Juni 2015 mencapai US$13,44 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 5,91 persen dibanding ekspor Mei 2015. Sementara bila dibanding Juni 2014 mengalami penurunan sebesar 12,78 persen. Ekspor nonmigas Juni 2015 mencapai US$11,98 miliar, naik 5,87 persen dibanding Mei 2015, sementara bila dibanding ekspor Juni 2014 turun 5,06 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia JanuariJuni 2015 mencapai US$78,29 miliar atau menurun 11,86 persen dibanding periode yang sama tahun 2014, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$68,30 miliar atau menurun 6,62 persen. Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Juni 2015 terhadap Mei 2015 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$261,7 juta (17,01 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada perhiasan/permata sebesar US$139,3 juta (23,63 persen). Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat Juni 2015 mencapai angka terbesar yaitu US$1,38 miliar, disusul Tiongkok US$1,23 miliar dan Jepang US$1,11 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 31,09 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$1,39 miliar. Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan periode JanuariJuni 2015 turun sebesar 6,36 persen dibanding periode yang sama tahun 2014, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 9,80 persen, sementara ekspor hasil pertanian naik sebesar 1,35 persen. Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada periode JanuariJuni 2015 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$12,95 miliar (16,55 persen), diikuti Kalimantan Timur sebesar US$9,85 miliar (12,58 persen) dan Jawa Timur sebesar U$9,10 miliar (11,63 persen). Nilai impor Indonesia Juni 2015 mencapai US$12,96 miliar atau naik 11,63 persen dibanding Mei 2015. Namun jika dibanding Juni 2014 turun 17,42 persen. Impor nonmigas Juni 2015 mencapai US$10,39 miliar atau naik 8,95 persen dibanding Mei 2015, namun turun 15,58 persen dibanding Juni 2014. Impor migas Juni 2015 mencapai US$2,58 miliar atau naik 23,89 persen dibanding Mei 2015, sebaliknya turun 24,06 persen dibanding Juni 2014. Secara kumulatif nilai impor Januari–Juni 2015 mencapai US$73,94 miliar atau turun 17,81 persen dibanding periode yang sama tahun 2014. Kumulatif nilai impor terdiri dari impor migas US$13,10 miliar (turun 39,91 persen) dan nonmigas US$60,84 miliar (turun 10,74 persen). Peningkatan impor nonmigas terbesar Juni 2015 adalah mesin dan peralatan mekanik US$0,41 miliar (26,36 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan kapal laut dan bangunan terapung US$0,30 miliar (82,26 persen). Tiga negara asal barang impor nonmigas terbesar Januari–Juni 2015 adalah Tiongkok dengan nilai US$14,71 miliar (24,17 persen), Jepang US$7,18 miliar (11,80 persen), dan Singapura US$4,21 miliar (6,92 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai pangsa pasar 21,52 persen, sementara dari Uni Eropa 9,33 persen. Nilai impor golongan barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari–Juni 2015 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing sebesar 13,83 persen; 18,78 persen; dan 15,01 persen.
Download PDF