Logo BPS
BPS REPUBLIK INDONESIA

Berita Statistik BPS Republik Indonesia

Pertumbuhan Produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang Triwulan I  Tahun 2010 Naik Sebesar 4,08 Persen (y-on-y) Dari Triwulan I Tahun 2009

Pertumbuhan Produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang Triwulan I Tahun 2010 Naik Sebesar 4,08 Persen (y-on-y) Dari Triwulan I Tahun 2009

2010-05-03

Pertumbuhan Produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang triwulan I tahun 2010 naik sebesar 4,08 persen (y-on-y) dari triwulan I tahun 2009. Pertumbuhan triwulan I tahun 2009 naik 0,19 persen dari triwulan I tahun 2008; pertumbuhan triwulan I tahun 2008 naik 5,85 persen dari triwulan I tahun 2007; pertumbuhan triwulan I tahun 2007 naik 7,16 persen dari triwulan I tahun 2006. Pertumbuhan Produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang triwulan I tahun 2010 menurun sebesar 1,84 persen (q-to-q) dari triwulan IV tahun 2009. Pola pertumbuhan produksi industri sejak tahun 2000 adalah sama setiap tahunnya, yaitu terjadi pertumbuhan rendah diawal tahun kemudian meningkat dipertengahan tahun dan selanjutnya menurun kembali di akhir tahun. Pertumbuhan Produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang pada bulan Januari tahun 2010 turun sebesar 1,20 persen (m-to-m) dari bulan Desember tahun 2009, pertumbuhan bulan Februari 2010 turun 0,29 persen dari Januari 2010, sedangkan pertumbuhan bulan Maret 2010 naik 1,52 dari Februari 2010.

Download PDF
NTP April 2010 Turun 0,05 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya.

NTP April 2010 Turun 0,05 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya.

2010-05-03

Nilai Tukar Petani (NTP) nasional Maret 2010 sebesar 101,20 atau secara umum naik 0,11 persen dibanding bulan sebelumnya karena NTP Subsektor Hortikultura, Perkebunan Rakyat, Peternakan, dan Perikanan mengalami kenaikan 0,45 persen; 0,18 persen; 0,36 persen; dan 0,12 persen. Sedangkan NTP April 2010 sebesar 101,15 atau turun 0,05 persen dibanding bulan sebelumnya karena NTP Subsektor Pangan, Perkebunan Rakyat, dan Peternakan masing-masing turun 0,27 persen; 0,17 persen, dan 0,17 persen. NTP Provinsi Maluku April 2010 sebesar 103,87 atau mengalami kenaikan tertinggi (1,28 persen) dibanding bulan sebelumnya karena harga produsen coklat naik 6,67 persen. Sedangkan NTP Provinsi Jawa Barat April 2010 adalah 97,55 atau mengalami penurunan terbesar (-1,03 persen) dibanding bulan sebelumnya, terutama disebabkan harga produsen gabah turun 2,72 persen. Pada Maret 2010, terjadi deflasi di daerah perdesaan di Indonesia sebesar 0,13 persen terutama disebabkan oleh penurunan harga kelompok bahan makanan sebesar 0,50 persen. Sedangkan April 2010 daerah perdesaan mengalami inflasi sebesar 0,18 persen karena semua kelompok pengeluaran rumahtangga perdesaan mengalami kenaikan harga. Komposisi jumlah observasi dari 886 transaksi gabah di 20 provinsi selama April 2010 didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 68,62 persen, diikuti oleh gabah kualitas rendah sebesar 26,75 persen dan Gabah Kering Giling (GKG) sebesar 4,63 persen. Harga gabah tertinggi di tingkat petani berasal dari gabah kualitas GKP varietas Siam Unus senilai Rp5.200,- per kg yang terjadi di Kabupaten Barito Kuala (Kalimantan Selatan). Sedangkan harga terendah berasal dari gabah kualitas rendah varietas Ciherang senilai Rp2.000,- per kg terjadi di Kabupaten Blora (Jawa Tengah), Kabupaten Pasuruan (Jawa Timur), dan Kabupaten Bojonegoro (Jawa Timur). Di tingkat penggilingan, harga gabah tertinggi berasal dari gabah kualitas GKP varietas Siam Unus senilai Rp5.300,- per kg yang terjadi di Kabupaten Barito Kuala (Kalimantan Selatan). Harga terendah senilai Rp2.050,- per kg, juga berasal dari gabah kualitas rendah varietas Ciherang yang terjadi di Kabupaten Blora (Jawa Tengah). Rata-rata harga gabah kualitas GKG di tingkat petani turun 0,94 persen menjadi Rp3.311,59,- per kg dan kualitas GKP turun 1,75 persen menjadi Rp2.807,40,- per kg dibandingkan bulan lalu. Sedangkan di tingkat penggilingan, masing-masing turun 1,87 persen menjadi Rp3.355,85,- per kg dan 1,89 persen menjadi Rp2.866,98,- per kg. Sementara itu, gabah kualitas rendah di tingkat petani juga mengalami penurunan 3,36 persen menjadi Rp2.407,11,- per kg. Upah nominal harian buruh tani Nasional pada Maret 2010 mengalami kenaikan sebesar 0,22 persen dibandingkan Februari 2010 sedangkan April 2010 naik sebesar 0,33 persen dibanding upah Maret 2010, yaitu dari Rp37.637 di Februari menjadi Rp37.721,- di Maret dan menjadi Rp37.844,- di April 2010. Secara riil mengalami kenaikan sebesar 0,35 persen di Maret 2010 dan 0,15 persen di April 20101). Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada April 2010 naik 0,38 persen dibanding upah Maret 2010, yaitu dari Rp56.998,- menjadi Rp57.217,- per hari. Secara riil naik sebesar 0,23 persen1). Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan III 2009 naik sebesar 3,33 persen dibanding upah triwulan II 2009 yaitu dari Rp1.119.196,- menjadi Rp1.156.492,-, secara riil naik 1,41 persen1). Dibanding upah triwulan III 2008 (year on year), upah nominal naik 5,32 persen.

Download PDF
Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Februari 2010 Naik 0,04 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya.

Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Februari 2010 Naik 0,04 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya.

2010-04-01

Pada bulan Februari 2010 Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum naik 0,04 persen dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB terbesar terjadi pada Sektor Pertanian sebesar 0,64 persen, utamanya adalah Tanaman Pangan yang memberi andil positif sebesar 0,09 persen . Pada bulan ini Sektor Pertambangan dan Penggalian naik 0,27 persen, Industri 0,39 persen, sedangkan Kelompok Barang Impor turun 1,03 persen, dan Kelompok Barang Ekspor 0,46 persen. IHPB Bahan Baku dan Barang Konsumsi pada bulan Februari 2010 naik masing-masing 0,05 dan 0,36 persen, sedangkan IHPB Barang Modal mengalami penurunan sebesar 0,10 persen. Kenaikan harga Bahan Baku tersebut disebabkan kenaikan harga Bahan Baku Lokal sebesar 0,43 persen, sedangkan Bahan Baku Impor turun 1,22 persen. IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Februari 2010 naik 0,06 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga semen (0,48%), dan barang-barang lainya dari bahan bukan logam (0,51%). Sedangkan yang mengalami penurunan harga adalah hasil kilang minyak lainnya (0,83%), dan bahan bangunan dari logam (0,26%).

Download PDF
Nilai Tukar Petani (NTP) Februari 2010 Turun 0,10 Persen Dibandingkan Bulan Sebelumnya

Nilai Tukar Petani (NTP) Februari 2010 Turun 0,10 Persen Dibandingkan Bulan Sebelumnya

2010-04-01

Pada Februari 2010, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional sebesar 101,09, atau turun 0,10 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) turun 0,07 persen; Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) turun 0,06 persen; Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) turun 0,28 persen; Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) turun 0,29 persen; dan untuk Nilai Tukar Nelayan (NTN) naik 0,23 persen. Penurunan NTP disebabkan masih tingginya inflasi pedesaan sehingga indeks harga yang dibayar petani lebih tinggi dari indeks harga yang diterima petani. Dari 32 provinsi (tanpa DKI) pada Februari 2010, NTP 17 provinsi naik, sedangkan 15 provinsi turun. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Sumatera Selatan (1,65 persen), terutama disebabkan harga produsen jagung yang naik 5,19 persen. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah (1,20 persen), terutama disebabkan harga produsen bawang merah yang turun 4,76 persen. Pada Februari 2010, terjadi inflasi di daerah perdesaan di Indonesia sebesar 0,60 persen. Inflasi perdesaan Februari 2010 ini dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga seluruh subkelompok, yaitu subkelompok bahan makanan; makanan jadi; perumahan; sandang; kesehatan; pendidikan, rekreasi dan olahraga serta transportasi dan komunikasi yang naik masing-masing 0,86 persen; 0,60 persen; 0,38 persen; 0,07 persen; 0,17 persen; 0,16 persen; dan 0,09 persen. Selama Maret 2010, komposisi jumlah observasi dari 1.091 transaksi harga gabah di 19 provinsi didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 67,28 persen, diikuti oleh gabah kualitas rendah sebesar 29,79 persen dan Gabah Kering Giling (GKG) sebesar 2,93 persen. Di tingkat petani, harga gabah tertinggi berasal dari gabah kualitas GKG varietas Cisokan senilai Rp4.500,- per kg yang terjadi di Kabupaten Kerinci (Jambi). Sedangkan harga terendah senilai Rp2.000,- per kg berasal dari gabah kualitas rendah varietas Ciliwung dan Ciherang terjadi di Kabupaten Lebak (Banten) dan Kabupaten Polewali Mandar (Sulawesi Barat). Harga terendah tersebut juga ditemukan pada gabah kualitas GKP varietas Ciherang dan Cigeulis di Kabupaten Lebak (Banten). Meskipun harga rata-rata di tingkat petani dan penggilingan relatif di atas HPP, memasuki musim panen raya bulan ini menyebabkan harga cenderung turun dibandingkan bulan lalu. Rata-rata harga gabah kualitas GKG di tingkat petani turun 9,78 persen menjadi Rp3.343,06,- per kg dan kualitas GKP turun 9,74 persen menjadi Rp2.857,49,- per kg dibandingkan bulan lalu. Sedangkan di tingkat penggilingan, masing-masing turun 9,45 persen menjadi Rp3.419,94,- per kg dan 9,69 persen menjadi Rp2.922,26,- per kg. Sementara itu, gabah kualitas rendah di tingkat petani juga mengalami penurunan 7,78 persen menjadi Rp2.490,85,- per kg. Upah nominal harian buruh tani Nasional pada Februari 2010 naik sebesar 0,56 persen dibanding upah Januari 2010, yaitu dari Rp37.426 menjadi Rp37.637 per hari. Secara riil mengalami penurunan sebesar 0,33 persen. Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Maret 2010 naik 0,24 persen dibanding upah Februari 2010, yaitu dari Rp56.864 menjadi Rp56.998 per hari. Secara riil naik sebesar 0,38 persen. Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan III 2009 naik sebesar 3,33 persen dibanding upah triwulan II 2009 yaitu dari Rp1.119.196 menjadi Rp1.156.492, secara riil naik 1,41 persen. Dibanding upah triwulan III 2008 (year on year), upah nominal naik 5,32 persen.

Download PDF
Jumlah Wisatawan Mancanegara Februari 2010 Naik 6,10 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya.

Jumlah Wisatawan Mancanegara Februari 2010 Naik 6,10 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya.

2010-04-01

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia pada Februari 2010 mencapai 523,1 ribu orang atau naik 24,10 persen dibanding jumlah wisman Februari 2009 yang sebanyak 421,6 ribu orang. Begitu pula jika dibandingkan dengan Januari 2010, jumlah wisman Februari 2010 naik 6,10 persen. Jumlah wisman yang datang melalui 19 pintu masuk utama pada Februari 2010 naik 24,87 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari 391,8 ribu orang menjadi 489,3 ribu orang. Jika dibanding Januari 2010, wisman yang datang melalui 19 pintu masuk naik 6,28 persen. Jumlah wisman ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai pada Februari 2010 naik 30,90 persen dibanding Februari 2009. Jika dibanding Januari 2010, jumlah wisman ke Bali mengalami kenaikan sebesar 7,29 persen, yaitu dari 178,4 ribu orang menjadi 191,4 ribu orang pada Februari 2010. Secara kumulatif (Januari-Februari) 2010, jumlah wisman mencapai 1,02 juta orang atau naik 13,57 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2009 sebanyak 894,7 ribu orang. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 17 provinsi pada Februari 2010 mencapai rata-rata 47,15 persen, atau naik 0,99 poin dibanding TPK Januari 2009 sebesar 46,16 persen. TPK hotel berbintang di Bali pada Februari 2010 naik 3,70 poin bila dibanding Januari 2010, yaitu dari 53,21 persen menjadi 56,91 persen. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 17 provinsi selama Februari 2010 adalah 2,04 hari turun 0,04 poin dibanding keadaan Januari 2010.

Download PDF
Nilai Ekspor Indonesia  Februari 2010 Turun 3,37 Persen dan Nilai Impor Indonesia Naik 0,08 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya.

Nilai Ekspor Indonesia Februari 2010 Turun 3,37 Persen dan Nilai Impor Indonesia Naik 0,08 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya.

2010-04-01

Nilai ekspor Indonesia Februari 2010 mencapai US$11,20 miliar atau mengalami penurunan sebesar 3,37 persen dibanding ekspor Januari 2010. Sementara bila dibanding Februari 2009 mengalami peningkatan sebesar 57,05 persen. Ekspor nonmigas Februari 2010 mencapai US$9,06 miliar, turun 2,04 persen dibanding Januari 2010, sedangkan dibanding ekspor Februari 2009 meningkat 48,33 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Februari 2010 mencapai US$22,80 miliar atau meningkat 58,18 persen dibanding periode yang sama tahun 2009, sementara ekspor nonmigas mencapai US$18,31 miliar atau meningkat 48,12 persen. Penurunan ekspor nonmigas terbesar Februari 2010 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$458,7 juta, sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada bijih, kerak dan abu logam sebesar US$299,7 juta. Ekspor nonmigas ke Jepang Februari 2010 mencapai angka terbesar yaitu US$1,07 miliar, disusul Cina US$986,2 juta dan Amerika Serikat US$907,3 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 32,72 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$1,42 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari-Februari 2010 naik sebesar 34,68 persen dibanding periode yang sama tahun 2009, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 11,33 persen serta ekspor hasil tambang dan lainnya naik sebesar 136,88 persen. Menurut provinsi asal, ekspor Indonesia terbesar pada periode Januari-Desember 2009 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$19,75 miliar (16,95 persen), diikuti Kalimantan Timur sebesar US$18,96 miliar (16,27 persen) dan Riau sebesar U$11,43 miliar (9,81 persen). Nilai impor Indonesia Februari 2010 mencapai US$9,50 miliar atau meningkat 0,08 persen dibanding Januari 2010 yang besarnya US$9,49 miliar. Sementara itu, selama Januari-Februari 2010 nilai impor mencapai US$18.988,5 juta atau meningkat 51,43 persen jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Impor nonmigas Februari 2010 mencapai US$7,44 miliar atau turun US$113,9 juta (1,51 persen) dibanding impor Januari 2010. Sebaliknya selama Januari-Februari 2010 mencapai US$14.993,3 juta atau naik 45,66 persen dibanding periode yang sama tahun 2009. Impor migas Februari 2010 mencapai US$2,06 miliar atau meningkat US$121,4 juta (6,27 persen) dibanding impor Januari 2010, sedangkan selama Januari-Februari 2010 mencapai US$3.995,2 juta atau naik 77,89 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai impor nonmigas terbesar Februari 2010 adalah golongan barang mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$1,38 miliar walaupun menurun 3,06 persen dibanding Januari 2010, sebaliknya selama Januari-Februari 2010 nilainya meningkat 18,49 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Februari 2010 masih ditempati oleh Cina dengan nilai US$2,79 miliar dengan pangsa 18,58 persen, diikuti Jepang US$2,16 miliar (14,43 persen) dan Singapura US$1,51 miliar (10,09 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 22,81 persen dan Uni Eropa sebesar 8,66 persen. Nilai impor menurut golongan penggunaan barang selama Januari-Februari 2010 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya mengalami peningkatan untuk semua golongan, yaitu impor barang konsumsi sebesar 55,98 persen, bahan baku/penolong sebesar 55,27 persen, dan barang modal sebesar 37,35 persen.

Download PDF
Pada Bulan  Maret 2010 Terjadi  Deflasi Sebesar 0,14 Persen.

Pada Bulan Maret 2010 Terjadi Deflasi Sebesar 0,14 Persen.

2010-04-01

Pada bulan Maret 2010 terjadi deflasi sebesar 0,14 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 118,19. Dari 66 kota, 47 kota mengalami deflasi dan 19 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Sibolga 0,96 persen dengan IHK 118,81 dan terendah terjadi di Jambi 0,05 persen dengan IHK 119,34. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Singkawang 1,70 persen dengan IHK 122,08 dan terendah terjadi di Kendari 0,01 persen dengan IHK 122,60. Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh penurunan indeks pada kelompok bahan makanan 0,91 persen. Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks, yaitu : kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,28 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,13 persen; kelompok sandang 0,01 persen; kelompok kesehatan 0,25 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,02 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,07 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-Maret) 2010 sebesar 0,99 persen dan laju inflasi year on year (Maret 2010 terhadap Maret 2009) sebesar 3,43 persen. Komponen inti pada bulan Maret 2010 mengalami inflasi sebesar 0,15 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Maret) 2010 sebesar 0,89 persen dan laju inflasi komponen inti year on year (Maret 2010 terhadap Maret 2009) sebesar 3,56 persen.

Download PDF
Pada bulan Januari 2010 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Naik 0,91%

Pada bulan Januari 2010 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Naik 0,91%

2010-03-01

Pada bulan Januari 2010 Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum naik 0,91 persen dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB terbesar terjadi pada Sektor Pertanian sebesar 1,15 persen, utamanya adalah Subsektor Tanaman Pangan yang memberi andil positif sebesar 0,07 persen . Pada bulan ini seluruh sektor IHPB mengalami kenaikan, Sektor Pertambangan dan Penggalian 0,23 persen, Sektor Industri 0,96 persen, Kelompok Barang Impor 0,96 persen, dan Kelompok Barang Ekspor 0,59 persen. IHPB Bahan Baku, Barang Konsumsi, dan Barang Modal pada bulan Januari 2010 naik masing-masing 1,03 persen, 0,99 persen, dan 0,39 persen. Kenaikan harga Bahan Baku tersebut disebabkan kenaikan harga Bahan Baku Lokal sebesar 1,06 persen, dan Bahan Baku Impor 0,92 persen. IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Januari 2010 naik 0,38 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga hasil kilang minyak lainnya (1,29%) dan semen (0,59 %). Sedangkan yang mengalami penurunan harga adalah barang-barang dari besi dan baja dasar (0,42%) dan barang-barang dari logam lainnya (0,06%).

Download PDF
Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai (Angka Sementara Tahun 2009 dan Angka Ramalan I Tahun 2010)

Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai (Angka Sementara Tahun 2009 dan Angka Ramalan I Tahun 2010)

2010-03-01

PADI Angka Sementara (ASEM) produksi padi tahun 2009 sebesar 64,33 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Dibandingkan produksi tahun 2008, terjadi peningkatan sebanyak 4,00 juta ton (6,64 persen). Angka Ramalan I (ARAM I) produksi padi tahun 2010 diperkirakan sebesar 64,90 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Dibandingkan produksi tahun 2009 (ASEM), terjadi peningkatan sebanyak 568,37 ribu ton (0,88 persen). Kenaikan produksi diperkirakan terjadi karena peningkatan luas panen seluas 13,71 ribu hektar (0,11 persen) dan juga produktivitas sebesar 0,39 kuintal/hektar (0,78 persen). JAGUNG Angka Sementara (ASEM) produksi jagung tahun 2009 sebesar 17,59 juta ton pipilan kering. Dibandingkan produksi tahun 2008, terjadi kenaikan sebesar 1,28 juta ton (7,81 persen). Angka Ramalan I (ARAM I) produksi jagung tahun 2010 diperkirakan sebesar 18,12 juta ton pipilan kering. Dibandingkan produksi tahun 2009 (ASEM), terjadi kenaikan sebesar 522,86 ribu ton (2,97 persen). Kenaikan produksi tahun 2010 diperkirakan terjadi karena naiknya luas panen seluas 67,83 ribu hektar (1,63 persen) dan produktivitas sebesar 0,56 kuintal/hektar (1,32 persen). KEDELAI Angka Sementara (ASEM) produksi kedelai tahun 2009 sebesar 972,95 ribu ton biji kering. Dibandingkan produksi tahun 2008, terjadi kenaikan sebesar 197,24 ribu ton (25,43 persen). Angka Ramalan I (ARAM I) produksi kedelai tahun 2010 diperkirakan sebesar 962,54 ribu ton biji kering. Dibandingkan produksi tahun 2009 (ASEM), terjadi penurunan sebesar 10,41 ribu ton (1,07 persen). Penurunan produksi tahun 2010 diperkirakan terjadi karena turunnya luas panen seluas 12,43 ribu hektar (1,72 persen), sedangkan produktivitas mengalami peningkatan sebesar 0,08 kuintal/hektar (0,59 persen).

Download PDF
Pada Januari 2010 NTP Turun 0,01 % Sedangkan NTPP Naik 0,61%

Pada Januari 2010 NTP Turun 0,01 % Sedangkan NTPP Naik 0,61%

2010-03-01

Pada Januari 2010, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional sebesar 101,19, atau turun 0,01 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) naik 0,61 persen; Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) turun 0,25 persen; Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) turun 0,73 persen; Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) turun 0,93 persen; dan untuk Nilai Tukar Nelayan (NTN) turun 0,22 persen. Penurunan NTP terutama dipengaruhi oleh penurunan Subsektor Peternakan terutama pada kelompok unggas. Dari 32 provinsi (tanpa DKI) pada Januari 2010, NTP 12 provinsi naik, sedangkan 20 provinsi turun. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi D. I. Yogyakarta (1,30 persen), terutama disebabkan harga produsen jagung yang naik 8,47 persen. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Sulawesi Barat (0,89 persen), terutama disebabkan harga produsen coklat yang turun 1,69 persen. Pada Januari 2010, terjadi inflasi di daerah perdesaan di Indonesia sebesar 1,12 persen. Inflasi perdesaan Januari 2010 ini dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga subkelompok bahan makanan; makanan jadi; perumahan; sandang; kesehatan; pendidikan, rekreasi dan olahraga serta transportasi dan komunikasi yang naik masing-masing 1,39 persen; 1,60 persen; 0,68 persen; 0,37 persen; 0,63 persen; 0,07; dan 0,08 persen. Komposisi jumlah observasi dari 686 transaksi harga gabah di 15 provinsi selama Februari 2010, didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 70,85 persen, diikuti oleh gabah kualitas rendah sebesar 21,72 persen dan Gabah Kering Giling (GKG) sebesar 7,43 persen. Harga gabah tertinggi di tingkat petani berasal dari gabah kualitas GKP varietas IR-64 senilai Rp4.400,- per kg yang terjadi di Kabupaten Sumedang (Jawa Barat). Sedangkan harga terendah berasal dari gabah kualitas rendah varietas Ciherang senilai Rp2.300,- per kg, terjadi di Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat). Dari keseluruhan jumlah observasi kasus harga di bawah HPP, ditemukan hanya 1,23 persen di tingkat petani dan 2,05 persen di tingkat penggilingan. Di tingkat petani, rata-rata harga gabah kualitas GKG naik 7,14 persen menjadi Rp3.705,41,- per kg dan kualitas GKP naik 0,46 persen menjadi Rp3.166,00,- per kg dibandingkan bulan lalu. Sedangkan di tingkat penggilingan, masing-masing naik 6,93 persen menjadi Rp3.776,78,- per kg dan 0,79 persen menjadi Rp3.235,96,- per kg. Sementara itu, gabah kualitas rendah di tingkat petani mengalami penurunan 2,06 persen menjadi Rp2.700,97,- per kg. Upah nominal harian buruh tani Nasional pada Januari 2010 naik sebesar 0,32 persen dibanding upah Desember 2009, yaitu dari Rp37.305,- menjadi Rp37.426,- per hari. Secara riil mengalami penurunan sebesar 0,78 persen1). Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Februari 2010 naik 0,52 persen dibanding upah Januari 2010, yaitu dari Rp56.570,- menjadi Rp56.864,- per hari. Secara riil naik sebesar 0,22 persen1). Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan III 2009 naik sebesar 4,10 persen dibanding upah triwulan II 2009 yaitu dari Rp1.120.216,- menjadi Rp1.166.196,-, secara riil naik 2,17 persen1). Dibanding upah triwulan III 2008 (year on year), upah nominal naik 7,04 persen.

Download PDF