Berita Statistik BPS Republik Indonesia
Pertumbuhan Produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang Triwulan III/2009
2009-11-02
Pertumbuhan Produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang (y-on-y) triwulan III tahun 2009 mengalami kenaikan yang tidak berarti dari triwulan III tahun 2008, yaitu sebesar 0,02 persen. Ini memperlihatkan bahwa pada triwulan yang sama keadaan perekonomian tahun 2009 relatif tidak berbeda daripada tahun 2008, yang mengindikasikan tidak adanya perubahan penyerapan pasar terhadap produk-produk industri pada triwulan III tahun 2009 dibandingkan triwulan III tahun 2008. Pertumbuhan Produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang (q-to-q) triwulan III tahun 2009 meningkat sebesar 2,67 persen dari triwulan II tahun 2009. Sedangkan pertumbuhan triwulan II tahun 2009 naik sebesar 2,38 persen, dan pertumbuhan triwulan I sebesar minus 1,65 persen. Ini menunjukan bahwa produksi industri selama tahun 2009 mengalami peningkatan setiap triwulannya, yang berarti ada peningkatan penyerapan atas produk-produk industri selama tiga triwulan pertama tahun 2009. Pertumbuhan Produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang (m-to-m) bulanan pada bulan September 2009 mengalami penurunan sebesar 2,69 persen dari bulan Agustus 2009. Penurunan produksi industri tersebut terjadi pada hampir semua jenis industri, kecuali Industri Peralatan kedokteran, Alat-alat Ukur, Peralatan Navigasi, Peralatan Optik, Jam dan Lonceng yang naik sebesar 4,11 persen, Industri Furniture dan Pengolahan lainnya yang naik 2,58 persen, Industri Penerbitan, Percetakan, dan Reproduksi Media Rekaman yang naik sebesar 0,55 persen, Industri Karet dan Barang-barang dari Karet yang naik sebesar 0,45 persen, dan Industri Kulit dan barang-barang dari kulit, dan Alas Kaki yang naik sebesar 0,36 persen.
Download PDFIHPB Agustus 2009 Naik 1,51 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya.
2009-10-01
Pada bulan Agustus 2009 Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum naik 1,51 persen dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB terbesar terjadi pada kelompok barang Impor sebesar 2,86 persen, utamanya barang-barang hasil kilang minyak, minyak bumi, dan gula pasir, yang memberi andil masing-masing sebesar 0,25; 0,12 dan 0,04 persen. Pada bulan ini IHPB seluruh sektor mengalami kenaikan, Sektor Pertanian naik 1,78 persen, Pertambangan & Penggalian 0,53 persen, Industri 0,76 persen, dan kelompok barang Ekspor 2,02 persen. Selama Agustus 2009, komoditas yang harganya naik antara lain: gula pasir impor (20,51%), bijih nikel ekspor (15,09), minyak bumi ekspor (12,26%), barang-barang hasil kilang minyak impor (10,85%), dan minyak bumi impor (9,60%). Sedangkan yang mengalami penurunan harga antara lain: kimia dasar kecuali pupuk ekspor (9,66%), aluminium lembaran (5,53%), ikan asin (1,25%), dan gas alam cair ekspor (1,06%). IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Agustus 2009 naik 0,50 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga aspal (2,38%), batu split (0,97%), barang galian segala jenis (0,65%), kaca lembaran (0,58%), dan bahan bangunan dari kayu (0,46%). Sedangkan yang mengalami penurunan harga antara lain: barang dari logam dasar bukan besi (0,19), barang-barang plastik (0,11), kayu lapis dan sejenisnya (0,09%), dan alat-alat berat dan perlengkapannya (0,06%).
Download PDFNTP Agustus 2009 Naik 0,42 Persen Dibandingkan Bulan Sebelumnya.
2009-10-01
Pada Agustus 2009, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional sebesar 100,24, atau naik 0,42 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) tercatat sebesar 95,37; Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 103,77; Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 104,77; Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 104,63, dan untuk Nilai Tukar Nelayan (NTN) 106,42. Dari 32 provinsi (tanpa DKI) pada Agustus 2009, NTP 21 provinsi naik, 1 provinsi relatif stabil, sedangkan 10 provinsi turun. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Sumatera Barat (2,22 persen), terutama disebabkan harga produsen cabe merah yang naik 7,88 persen. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Papua Barat (1,90 persen), terutama disebabkan harga produsen coklat yang turun 8,57 persen. Pada Agustus 2009, terjadi inflasi di daerah perdesaan di Indonesia sebesar 0,66 persen. Inflasi perdesaan Agustus 2009 ini dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga subkelompok bahan makanan, makanan jadi, perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan serta rekreasi & olah raga masing-masing naik sebesar 0,77 persen; 0,69 persen; 0,84 persen; 0,37 persen; 0,27 dan 0.61 persen sedangkan kelompok transportasi dan komunikasi turun 0,11 persen. Berdasarkan hasil observasi terhadap 791 transaksi harga gabah di 15 provinsi, komposisi jumlah observasi didominasi oleh Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 74,72 persen, diikuti oleh gabah kualitas rendah sebesar 18,33 persen, dan Gabah Kering Giling (GKG) sebesar 6,95 persen. Harga gabah tertinggi di tingkat petani berasal dari gabah kualitas GKP senilai Rp3.500,- per kg yang terjadi di Kabupaten Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan). Sedangkan harga terendah terjadi di Kabupaten Simalungun (Sumatera Utara) senilai Rp1.900,- per kg, yang berasal dari gabah kualitas yang sama. Dilihat dari rata-rata harganya, gabah kualitas GKG baik di tingkat petani maupun penggilingan masing-masing naik 1,10 persen menjadi Rp2.986,- per kg dan 0,66 persen menjadi Rp3.042,- per kg dibandingkan bulan lalu. Sedangkan gabah kualitas GKP naik 2,78 persen menjadi Rp2.730,- per kg di tingkat petani dan 3,04 persen menjadi Rp2.794,- per kg di tingkat penggilingan. Sementara itu, gabah kualitas rendah di tingkat petani naik 4,64 persen menjadi Rp2.501,- per kg. Selama tiga bulan terakhir, persentase observasi harga gabah di bawah HPP di tingkat penggilingan cenderung menurun. Dibandingkan bulan lalu, terjadi penurunan dari 7,72 persen menjadi 6,04 persen. Sebaliknya, observasi harga gabah kualitas rendah meningkat dari 14,93 persen menjadi 18,33 persen. Upah nominal harian buruh tani Nasional pada Agustus 2009 naik sebesar 0,25 persen dibanding upah Juli 2009, yaitu dari Rp36.908,- menjadi Rp37.002,- per hari. Secara riil mengalami penurunan sebesar 0,73 persen). Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada September 2009 naik 0,56 persen dibanding upah Agustus 2009, yaitu dari Rp55.424,- menjadi Rp55.736,- per hari. Secara riil turun sebesar 0,48 persen). Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan I 2009 naik sebesar 0,92 persen dibanding upah triwulan IV 2008 yaitu dari Rp1.106.134,- menjadi Rp1.116.361,-, secara riil naik 0,55 persen1). Dibanding upah triwulan I 2008 (year on year), upah nominal naik 2,10 persen.
Download PDFJumlah Wisatawan Mancanegara Bulan Agustus 2009 Turun 4,49 Persen Dibandingkan Bulan Sebelumnya.
2009-10-01
Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia pada Agustus 2009 mencapai 566,8 ribu orang atau turun 5,46 persen dibanding jumlah wisman Agustus 2008 sebanyak 599,5 ribu orang. Begitu pula jika dibanding Juli 2009, jumlah wisman Agustus 2009 turun 4,49 persen. Jumlah wisman yang datang melalui 11 pintu masuk utama pada Agustus 2009 turun 3,68 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari 501,2 ribu orang menjadi 482,8 ribu orang. Jika dibanding Juli 2009, wisman yang datang melalui 11 pintu masuk turun 5,43 persen. Jumlah wisman ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai pada Agustus 2009 naik 18,60 persen dibanding Agustus 2008. Jika dibanding Juli 2009, jumlah wisman ke Bali mengalami penurunan sebesar 1,22 persen, yaitu dari 235,0 ribu orang menjadi 232,2 ribu orang pada Agustus 2009. Secara kumulatif (Januari-Agustus) 2009, jumlah wisman mencapai 4,13 juta orang atau naik 1,38 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2008 sebanyak 4,07 juta orang. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 14 provinsi pada Agustus 2009 mencapai rata-rata 51,68 persen, atau turun 0,94 poin dibanding TPK Juli 2009 sebesar 52,62 persen. TPK hotel berbintang di Bali pada Agustus 2009 naik 4,04 poin bila dibanding Juli 2009, yaitu dari 61,50 persen menjadi 65,54 persen. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 14 provinsi selama Agustus 2009 adalah 2,28 hari naik 0,3 poin dibanding keadaan Juli 2009. Jumlah penumpang kereta api pada bulan Agustus 2009 mencapai 17,5 juta orang, yang berarti turun 4,67 persen dibanding bulan Juli 2009, sebaliknya jumlah barang yang diangkut kereta api naik 4,67 persen menjadi 1,8 juta ton. Selama Januari-Agustus 2009, jumlah penumpang mencapai 137,6 juta orang atau naik 6,23 persen, sebaliknya jumlah barang mencapai 12,8 juta ton atau turun 2,73 persen dibanding periode yang sama tahun 2008. Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri yang diberangkatkan pada bulan Agustus 2009 tercatat 439,4 ribu orang atau turun 18,99 persen dibanding bulan Juli 2009, sebaliknya jumlah barang yang diangkut naik 16,83 persen menjadi 15,5 juta ton. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2008, selama Januari-Agustus 2009 jumlah penumpang mencapai 3,7 juta orang atau turun 5,54 persen dan jumlah barang yang diangkut 105,8 juta ton atau turun 3,90 persen. Jumlah penumpang angkutan udara domestik pada bulan Agustus 2009 mencapai 3,0 juta orang atau turun 7,99 persen dibanding bulan Juli 2009, sebaliknya jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) naik 2,95 persen menjadi 735,4 ribu orang. Selama Januari-Agustus 2009 jumlah penumpang domestik mencapai 22,8 juta orang atau naik 5,71 persen, dan jumlah penumpang internasional mencapai 5,0 juta orang atau naik 6,42 persen dibanding periode yang sama tahun 2008.
Download PDFNilai Ekspor Agustus 2009 Naik 8.89 Persen, Nilai Impor Naik 7,07 Persen Dibandingkan Bulan Sebelumnya.
2009-10-01
Nilai ekspor Indonesia Agustus 2009 mencapai US$10,55 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 8,89 persen dibanding ekspor Juli 2009. Sebaliknya bila dibanding Agustus 2008 mengalami penurunan sebesar 15,41 persen. Ekspor nonmigas Agustus 2009 mencapai US$8,91 miliar, naik 8,76 persen dibanding Juli 2009 sedangkan dibanding ekspor Agustus 2008 menurun 6,28 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Agustus 2009 mencapai US$70,30 miliar atau menurun 26,30 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, sementara ekspor nonmigas mencapai US$60,01 miliar atau menurun 18,31 persen. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar Agustus 2009 terjadi pada lemak & minyak hewan/nabati sebesar US$699,9 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$235,9 juta. Ekspor nonmigas ke Jepang Agustus 2009 mencapai angka terbesar yaitu US$1,05 miliar, disusul Amerika Serikat US$930,7 juta dan Cina US$792,2 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 31,07 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 27 negara ) sebesar US$1,35 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari-Agustus 2009 turun sebesar 24,99 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, demikian juga ekspor hasil pertanian menurun 9,77 persen, sebaliknya ekspor hasil tambang dan lainnya naik sebesar 21,42 persen. Menurut provinsi asal, ekspor Indonesia terbesar pada semester I tahun 2009 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$8,96 miliar (17,88 persen), diikuti Kalimantan Timur sebesar US$8,29 miliar (16,56 persen) dan Riau sebesar U$8,07 miliar (16,11 persen). Nilai impor Indonesia Agustus 2009 mencapai US$9,30 miliar atau meningkat 7,07 persen dibanding Juli 2009 yang besarnya US$8,68 miliar, sedangkan selama Januari-Agustus 2009 nilai impor mencapai US$59,36 miliar atau menurun 34,30 persen dibanding periode yang sama tahun 2008. Impor nonmigas Agustus 2009 mencapai US$7,82 miliar atau meningkat 14,20 persen dibanding impor Juli 2009, sedangkan selama Januari-Agustus 2009 mencapai US$48,63 miliar atau menurun 27,07 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Impor migas Agustus 2009 mencapai US$1,48 miliar atau menurun 19,50 persen dibanding impor Juli 2009, sedangkan selama Januari-Agustus 2009 mencapai US$10,73 miliar atau menurun 54,67 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai impor nonmigas terbesar Agustus 2009 masih sama seperti Juli 2009 yaitu golongan barang mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$1,27 miliar, yang mengalami peningkatan sebesar 1,59 persen dibanding bulan sebelumnya. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Agustus 2009 masih ditempati oleh Cina dengan nilai US$8,34 miliar dengan pangsa 17,14 persen, diikuti Singapura US$6,10 miliar (12,55 persen) dan Jepang US$6,03 miliar (12,41 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 23,74 persen dan Uni Eropa sebesar 11,70 persen. Impor menurut golongan penggunaan barang selama Januari-Agustus 2009 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya mengalami penurunan untuk semua golongan, yaitu impor barang konsumsi sebesar 29,03 persen, bahan baku/penolong sebesar 40,90 persen, dan barang modal sebesar 1,77 persen.
Download PDFInflasi September 2009 Sebesar 1,05 Persen.
2009-10-01
Pada bulan September 2009 terjadi inflasi sebesar 1,05 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 116,46. Dari 66 kota, tercatat 63 kota mengalami inflasi dan 3 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Bandar Lampung 2,66 persen dengan IHK 123,55 dan terendah terjadi di Gorontalo 0,05 persen dengan IHK 117,70. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Sorong 0,98 persen dengan IHK 132,70 dan terendah terjadi di Manado 0,36 persen dengan IHK 115,00. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok bahan makanan 2,43 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 1,08 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,18 persen; kelompok sandang 1,28 persen; kelompok kesehatan 0,29 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,43 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,89 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-September) 2009 sebesar 2,28 persen, sedangkan laju inflasi year on year (September 2009 terhadap September 2008) sebesar 2,83 persen. Komponen inti pada bulan September 2009 mengalami inflasi sebesar 0,80 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-September) 2009 sebesar 3,46 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti year on year (September 2009 terhadap September 2008) sebesar 4,86 persen.
Download PDFIHPB Juli 2009 Turun 0,34 Persen
2009-09-01
Pada bulan Juli 2009 Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum turun 0,34 persen dibanding bulan sebelumnya. Penurunan IHPB terbesar terjadi pada kelompok barang Ekspor sebesar 2,37 persen, utamanya minyak kelapa sawit, minyak bumi, karet olahan, dan bijih tembaga, yang memberi andil masing-masing sebesar 0,19; 0,18; 0,05 dan 0,02 persen. IHPB kelompok barang Impor, dan Industri, turun masing-masing 0,27 dan 0,02 persen. Sedangkan Sektor Pertanian dan Pertambangan & Penggalian naik masing-masing 1,03 dan 0,10 persen. Selama Juli 2009, komoditas yang harganya turun antara lain: minyak kelapa sawit ekspor (19,13%), karet olahan ekspor (10,45%), minyak bumi ekspor (8,24%), barang-barang hasil kilang minyak impor (6,77%), dan minyak goreng (5,30%). Sedangkan yang mengalami kenaikan harga antara lain: minyak bumi impor (20,28%), gas alam cair ekspor (14,17%), sayur-sayuran (5,77%), minyak bakar industri (5,17%), dan ikan laut (4,11%). IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi di Juli 2009 naik 0,19 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga aspal (1,12%), kayu gergajian dan awetan (0,49%), barang-barang hasil kilang minyak lainnya (0,35%), bahan bangunan dari logam (0,29%), dan barang galian segala jenis (0,27%). Sedangkan yang mengalami penurunan harga antara lain: kayu gelondongan (0,25%), semen (0,18%), barang-barang dari besi dan baja dasar (0,11%), dan alat-alat berat dan perlengkapannya (0,07%).
Download PDFNTP Juli 2009 Naik 0,25 Persen
2009-09-01
Pada Juli 2009, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional sebesar 99,82, atau naik 0,25 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) tercatat sebesar 95,04, Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 103,19, Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 103,98, Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 104,56, dan untuk Nilai Tukar Nelayan (NTN) 105,90. Dari 32 provinsi (tanpa DKI) pada Juli 2009, NTP 21 provinsi naik, sedangkan 11 provinsi turun. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Banten (1,25 persen), terutama disebabkan harga produsen pisang yang naik 4,40 persen. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Maluku Utara (1,28 persen), terutama disebabkan harga produsen kelapa yang turun 5,47 persen. Pada Juli 2009, terjadi inflasi di daerah perdesaan di Indonesia sebesar 0,33. persen. Inflasi perdesaan Juli 2009 ini dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga subkelompok bahan makanan, makanan jadi, perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, rekreasi & olah raga serta transportasi dan komunikasi naik masing-masing sebesar 0,42 persen; 0,23 persen; 0,16 persen; 0,26 persen; 0,16 persen; 0,98 dan 0.05 persen. Dari 777 transaksi harga gabah di 18 provinsi selama Agustus 2009, jumlah observasi didominasi oleh Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 78,63 persen, diikuti oleh gabah kualitas rendah sebesar 14,93 persen, dan Gabah Kering Giling (GKG) sebesar 6,44 persen. Dibandingkan bulan lalu, rata-rata harga gabah kualitas GKP baik di tingkat petani maupun penggilingan masing-masing naik 0,43 persen menjadi Rp2.656,- per kg dan Rp2.711,- per kg. Sebaliknya, rata-rata harga gabah kualitas GKG turun 0,67 persen menjadi Rp2.954,- per kg di tingkat petani dan 0,57 persen menjadi Rp3.022,- per kg di tingkat penggilingan. Sementara itu, rata-rata harga gabah kualitas rendah di tingkat petani naik 1,02 persen menjadi Rp2.390,- per kg. Di tingkat petani, harga gabah tertinggi berasal dari gabah kualitas GKP senilai Rp3.700,- per kg yang terjadi di Kabupaten Kapuas (Kalimantan Tengah). Sedangkan harga terendah berasal dari gabah kualitas rendah dan GKP masing-masing senilai Rp2.000,- per kg, terjadi di Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat) dan Lebak (Banten). Selama Agustus 2009, persentase observasi harga gabah di bawah HPP di tingkat penggilingan turun dari 16,43 persen menjadi 7,72 persen dibandingkan bulan lalu. Penurunan juga terjadi pada observasi harga gabah kualitas rendah yakni dari 19,12 persen menjadi 14,93 persen. Upah nominal harian buruh tani Nasional pada Juli 2009 naik sebesar 0,22 persen dibanding upah Juni 2009, yaitu dari Rp36.827,- menjadi Rp36.908,- per hari. Secara riil mengalami peningkatan sebesar 0,22 persen1). Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Agustus 2009 naik 0,30 persen dibanding upah Juli 2009, yaitu dari Rp55.258,- menjadi Rp55.424,- per hari. Secara riil turun sebesar 0,26 persen1). Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan I 2009 naik sebesar 0,81 persen dibanding upah triwulan IV 2008 yaitu dari Rp1.101.483,- menjadi Rp1.110.401,-, secara riil naik 0,43 persen1). Dibanding upah triwulan I 2008 (year on year), upah nominal naik 1,55 persen.
Download PDFJumlah Wisatawan Mancanegara Juli 2009 Naik 7,78 Persen
2009-09-01
Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia pada Juli 2009 mencapai 593,4 ribu orang atau naik 4,59 persen dibanding jumlah wisman Juli 2008 sebanyak 567,4 ribu orang. Begitu pula jika dibanding Juni 2009, jumlah wisman Juli 2009 naik 7,78 persen. Jumlah wisman yang datang melalui 11 pintu masuk utama pada Juli 2009 naik 8,22 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari 471,7 ribu orang menjadi 510,5 ribu orang. Jika dibanding Juni 2009, wisman yang datang melalui 11 pintu masuk naik 9,33 persen. Jumlah wisman ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai pada Juli 2009 naik 23,28 persen dibanding Juli 2008. Dibanding Juni 2009, jumlah wisman ke Bali mengalami kenaikan sebesar 17,23 persen, yaitu dari 200,5 ribu orang menjadi 235,0 ribu orang pada Juli 2009. Secara kumulatif (Januari-Juli) 2009, jumlah wisman mencapai 3,56 juta orang atau naik 2,56 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2008 sebanyak 3,47 juta orang. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 14 provinsi pada Juli 2009 mencapai rata-rata 52,62 persen, atau turun tipis 0,03 poin dibanding TPK Juni 2009 sebesar 52,65 persen. TPK hotel berbintang di Bali pada Juli 2009 turun 1,27 poin bila dibanding Juni 2009, yaitu dari 62,77 persen menjadi 61,50 persen. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 14 provinsi selama Juli 2009 adalah 1,98 hari turun 0,03 poin dibanding keadaan Juni 2009. Jumlah penumpang kereta api pada bulan Juli 2009 mencapai 18,4 juta orang, yang berarti naik 1,34 persen dibanding bulan Juni 2009, demikian juga jumlah barang yang diangkut kereta api naik 3,59 persen menjadi 1,7 juta ton. Selama Januari-Juli 2009, jumlah penumpang mencapai 120,1 juta orang atau naik 6,80 persen, sebaliknya jumlah barang mencapai 11,0 juta ton atau turun 2,34 persen dibanding periode yang sama tahun 2008. Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri yang diberangkatkan pada bulan Juli 2009 tercatat 542,4 ribu orang atau naik 12,45 persen dibanding bulan Juni 2009 dan jumlah barang yang diangkut naik 4,08 persen menjadi 13,3 juta ton. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2008, selama Januari-Juli 2009 jumlah penumpang mencapai 3,3 juta orang atau turun 4,15 persen dan jumlah barang yang diangkut 90,3 juta ton atau turun 7,15 persen. Jumlah penumpang angkutan udara domestik pada bulan Juli 2009 mencapai 3,3 juta orang atau naik 8,61 persen dibanding bulan Juni 2009, sedangkan jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) naik 1,61 persen menjadi 714,3 ribu orang. Selama Januari-Juli 2009 jumlah penumpang domestik mencapai 19,8 juta orang atau naik 5,23 persen, dan jumlah penumpang internasional mencapai 4,3 juta orang atau naik 5,94 persen dibanding periode yang sama tahun 2008.
Download PDFNilai Ekspor Juli 2009 Naik 2,85 Persen, Nilai Impor Naik 9,48 Persen
2009-09-01
Nilai ekspor Indonesia Juli 2009 mencapai US$9,65 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 2,85 persen dibanding ekspor Juni 2009. Sebaliknya bila dibanding Juli 2008 mengalami penurunan sebesar 22,98 persen. Ekspor nonmigas Juli 2009 mencapai US$8,18 miliar, naik 3,14 persen dibanding Juni 2009 sedangkan dibanding ekspor Juli 2008 menurun 15,21 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Juli 2009 mencapai US$59,72 miliar atau menurun 27,98 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, sementara ekspor nonmigas mencapai US$51,08 miliar atau menurun 20,13 persen. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar Juli 2009 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$525,6 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada lemak & minyak hewan/nabati sebesar US$130,6 juta. Ekspor nonmigas ke Jepang Juli 2009 mencapai angka terbesar yaitu US$974,3 juta, disusul Amerika Serikat US$942,7 juta dan Cina US$691,6 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 31,90 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 27 negara ) sebesar US$1,11 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari-Juli 2009 turun sebesar 26,64 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, demikian juga ekspor hasil pertanian menurun 11,69 persen, sebaliknya ekspor hasil tambang dan lainnya naik sebesar 19,79 persen. Nilai impor Indonesia Juli 2009 mencapai US$8,69 miliar atau meningkat 9,48 persen dibanding Juni 2009 yang besarnya US$7,94 miliar, sedangkan selama Januari-Juli 2009 nilai impor mencapai US$50,07 miliar atau menurun 35,83 persen dibanding periode yang sama tahun 2008. Impor nonmigas Juli 2009 mencapai US$6,85 miliar atau meningkat 5,51 persen dibanding impor Juni 2009, sedangkan selama Januari-Juli 2009 mencapai US$40,82 miliar atau menurun 29,05 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Impor migas Juli 2009 mencapai US$1,84 miliar atau meningkat 27,40 persen dibanding impor Juni 2009, sedangkan selama Januari-Juli 2009 mencapai US$9,25 miliar atau menurun 54,86 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai impor nonmigas terbesar Juli 2009 masih sama seperti Juni 2009 yaitu golongan barang mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$1,25 miliar, yang mengalami peningkatan sebesar 1,88 persen dibanding bulan sebelumnya. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Juli 2009 masih ditempati oleh Cina dengan nilai US$7,00 miliar dengan pangsa 17,15 persen, diikuti Jepang US$5,20 miliar (12,74 persen) dan Singapura US$4,69 miliar (11,49 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 22,54 persen dan Uni Eropa sebesar 12,28 persen. Impor menurut golongan penggunaan barang selama Januari-Juli 2009 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya mengalami penurunan untuk semua golongan, yaitu impor barang konsumsi sebesar 29,53 persen, bahan baku/penolong sebesar 41,75 persen, dan barang modal sebesar 6,78 persen.
Download PDF