Logo BPS
BPS REPUBLIK INDONESIA

Berita Statistik BPS Republik Indonesia

Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB)   Bulan Mei 2009 Naik 0,04 Persen.

Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Bulan Mei 2009 Naik 0,04 Persen.

2009-07-01

Pada Bulan Mei 2009 Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum naik 0,04 persen dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB terbesar terjadi pada Sektor Pertanian sebesar 2,15 persen, utamanya kelapa sawit, buah-buahan, padi/gabah, dan sayur-sayuran yang memberi andil masing-masing sebesar 0,11; 0,08; 0,04 dan 0,03 persen. IHPB Sektor Industri naik 0,48 persen. Sedangkan Sektor Pertambangan & Penggalian, barang Impor dan barang Ekspor masing-masing turun 0,15; 1,37 dan 1,55 persen. Selama Mei 2009, komoditas yang harga grosirnya naik antara lain: kelapa sawit (17,06%), minyak kelapa sawit (9,61%), kopra (7,54%), minyak atsiri (5,27%), ketela pohon (4,50%), dan tembakau (3,87%). Sedangkan yang turun dari Sektor Pertambangan & Penggalian antara lain batubara (1,99%), barang Impor: minyak bumi (14,42%), kedele (2,12%) dan barang ekspor: batubara (12,75%), kayu lapis (5,01%), dan barang-barang dari besi dan baja dasar (2,79%). IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi di Mei 2009 naik 0,04 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga grosir kayu gelondongan (0,94%), batu split (0,71%), barang galian segala jenis ( 0,50%), dan bahan bangunan dari kayu (0,45%). Namun yang mengalami penurunan harga grosir antara lain alat-alat berat dan perlengkapannya (1,05%), barang-barang dari besi dan baja dasar (1,01%), dan barang-barang hasil kilang minyak lainnya (0,97%).

Download PDF
Angka Tetap (ATAP) Produksi Padi Tahun 2008 Sebesar 60,33 Juta Ton Gabah Kering Giling (GKG).

Angka Tetap (ATAP) Produksi Padi Tahun 2008 Sebesar 60,33 Juta Ton Gabah Kering Giling (GKG).

2009-07-01

PADI Angka Tetap (ATAP) produksi padi tahun 2008 sebesar 60,33 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Dibandingkan produksi tahun 2007 (ATAP), terjadi peningkatan sebanyak 3,17 juta ton (5,54 persen). Kenaikan produksi terjadi karena peningkatan luas panen seluas 179,79 ribu hektar (1,48 persen) dan juga produktivitas sebesar 1,89 kuintal/hektar (4,02 persen). Kenaikan produksi padi tahun 2008 terdapat di beberapa provinsi, terutama di Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan Sulawesi Tengah. Angka Ramalan II (ARAM II) produksi padi tahun 2009 diperkirakan sebesar 62,56 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Dibandingkan produksi tahun 2008 (ATAP), terjadi peningkatan sebanyak 2,24 juta ton (3,71 persen). Kenaikan produksi diperkirakan terjadi karena peningkatan luas panen seluas 341,56 ribu hektar (2,77 persen) dan juga produktivitas sebesar 0,44 kuintal/hektar (0,90 persen). Perkiraan kenaikan produksi padi tahun 2009 terdapat di beberapa provinsi, terutama di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, Jawa Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Barat. JAGUNG Angka Tetap (ATAP) produksi jagung tahun 2008 sebesar 16,32 juta ton pipilan kering. Dibandingkan produksi tahun 2007 (ATAP), terjadi kenaikan sebesar 3,03 juta ton (22,80 persen). Kenaikan produksi terjadi karena peningkatan luas panen seluas 371,40 ribu hektar (10,23 persen) dan produktivitas sebesar 4,18 kuintal/hektar (11,42 persen). Kenaikan produksi jagung tahun 2008 terutama terjadi di Provinsi Jawa Timur, Lampung, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera Barat. Angka Ramalan II (ARAM II) produksi jagung tahun 2009 diperkirakan sebesar 17,04 juta ton pipilan kering. Dibandingkan produksi tahun 2008 (ATAP), terjadi kenaikan sebesar 723,96 ribu ton (4,44 persen). Kenaikan produksi tahun 2009 diperkirakan terjadi karena naiknya luas panen seluas 95,11 ribu hektar (2,38 persen) dan produktivitas sebesar 0,82 kuintal/hektar (2,01 persen). Perkiraan kenaikan produksi jagung tahun 2009 terdapat di beberapa provinsi, terutama di Provinsi Lampung, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Jawa Barat. KEDELAI Angka Tetap (ATAP) produksi kedelai tahun 2008 sebesar 775,71 ribu ton biji kering. Dibandingkan produksi tahun 2007 (ATAP), terjadi kenaikan sebesar 183,18 ribu ton (30,91 persen). Kenaikan produksi terjadi karena peningkatan luas panen seluas 131,84 ribu hektar (28,72 persen) dan produktivitas sebesar 0,22 kuintal/hektar (1,70 persen). Kenaikan produksi kedelai tahun 2008 terdapat di beberapa provinsi terutama di Provinsi Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. Angka Ramalan II (ARAM II) produksi kedelai tahun 2009 diperkirakan sebesar 924,51 ribu ton biji kering. Dibandingkan produksi tahun 2008 (ATAP), terjadi kenaikan sebesar 148,80 ribu ton (19,18 persen). Kenaikan produksi tahun 2009 diperkirakan terjadi karena naiknya luas panen seluas 110,44 ribu hektar (18,69 persen) dan produktivitas sebesar 0,05 kuintal/hektar (0,38 persen). Kenaikan produksi kedelai tahun 2009 diperkirakan terjadi terutama di Provinsi Jawa Timur, Nanggroe Aceh Darussalam, Nusa Tenggara Barat, Banten, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan.

Download PDF
Nilai Tukar Petani (NTP)   Bulan Mei 2009 Naik 0,15 Persen.

Nilai Tukar Petani (NTP) Bulan Mei 2009 Naik 0,15 Persen.

2009-07-01

Pada Mei 2009, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional sebesar 99,41, atau naik 0,15 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) tercatat sebesar 94,88, Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 101,80, Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 103,61, Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 104,29, dan untuk Nilai Tukar Nelayan (NTN) 105,64. Dari 32 provinsi (tanpa DKI) pada Mei 2009, NTP 19 provinsi naik, sedangkan 13 provinsi turun. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Lampung (2,43 persen), terutama disebabkan harga produsen Jagung yang naik 11,93 persen. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Jambi (1,71 persen), terutama disebabkan harga produsen karet yang turun 2,50 persen. Pada Mei 2009, terjadi inflasi di daerah perdesaan di Indonesia sebesar 0,03 persen. inflasi perdesaan Mei 2009 ini dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga subkelompok makanan jadi, perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, rekreasi & olah raga serta transportasi dan komunikasi naik masing-masing sebesar 0,69 persen; 0,27 persen; 0,26 persen; 0,47 persen; 0,42 persen; 0,11 persen sedangkan subkelompok bahan makanan turun sebesar 0,39 persen. Dari 984 transaksi gabah di 19 provinsi selama bulan Juni 2009, jumlah observasi didominasi oleh Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 73,88 persen, diikuti oleh gabah kualitas rendah sebesar 19,72 persen, dan Gabah Kering Giling (GKG) sebesar 6,40 persen. Rata-rata harga gabah kualitas GKP di tingkat petani naik 0,34 persen menjadi Rp2.682,- per kg dan di tingkat penggilingan naik 0,22 persen menjadi Rp2.738,- per kg (berada di atas HPP) dibandingkan Bulan Mei 2009. Sebaliknya, rata-rata harga gabah kualitas GKG di tingkat petani turun 4,20 persen menjadi Rp2.959,- per kg dan di tingkat penggilingan turun 3,91 persen menjadi Rp3.016,- per kg (berada di atas HPP). Sementara itu, rata-rata harga gabah kualitas rendah di tingkat petani juga relatif turun yakni sebesar 4,64 persen menjadi Rp2.229,- per kg. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp1.800,- per kg, berasal dari gabah kualitas rendah yang terjadi di Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat). Sedangkan harga tertinggi sebesar Rp3.500,- per kg, berasal dari gabah kualitas GKP dan GKG yang terjadi di 3 provinsi yakni Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Utara. Dibandingkan Mei 2009, persentase harga gabah di bawah HPP di tingkat penggilingan naik dari 6,84 persen menjadi 11,65 persen selama Juni 2009. Kenaikan juga terjadi pada harga gabah kualitas rendah dari 18,71 persen menjadi 19,72 persen.

Download PDF
Jumlah Wisatawan Mancanegara Bulan Mei 2009 Naik 6,85 Persen.

Jumlah Wisatawan Mancanegara Bulan Mei 2009 Naik 6,85 Persen.

2009-07-01

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia pada Mei 2009 mencapai 520,5 ribu orang atau naik 2,27 persen dibanding jumlah wisman Mei 2008 sebanyak 509,0 ribu orang. Begitu pula jika dibanding April 2009, jumlah wisman Mei 2009 naik 6,85 persen. Jumlah wisman yang datang melalui 11 pintu masuk utama pada Mei 2009 naik 3,03 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari 428,3 ribu orang menjadi 441,3 ribu orang. Jika dibanding April 2009, wisman yang datang melalui 11 pintu masuk naik 7,87 persen. Jumlah wisman ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai pada Mei 2009 naik 13,96 persen dibanding Mei 2008. Dibanding April 2009, jumlah wisman ke Bali mengalami kenaikan sebesar 1,33 persen, yaitu dari 188,2 ribu orang menjadi 190,7 ribu orang pada Mei 2009. Selama periode Januari-Mei 2009, jumlah wisman mencapai 2,41 juta orang atau naik 1,69 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2008 sebanyak 2,37 juta orang. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 14 provinsi pada Mei 2009 mencapai rata-rata 47,81 persen, atau naik 2,11 poin dibanding TPK April 2009 sebesar 45,70 persen. TPK hotel berbintang di Bali pada Mei 2009 naik 1,31 poin bila dibanding April 2009, yaitu dari 58,95 persen menjadi 60,26 persen. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 14 provinsi selama Mei 2009 adalah 2,14 hari tidak mengalami pergeseran bila dibanding keadaan April 2009 Jumlah penumpang kereta api yang diberangkatkan pada Bulan Mei 2009 mencapai 17,8 juta orang, yang berarti naik 6,25 persen dibanding Bulan April 2009, demikian juga jumlah barang yang diangkut kereta api naik 3,14 persen menjadi 1,5 juta ton. Selama Januari-Mei 2009, jumlah penumpang mencapai 83,6 juta orang atau naik 7,76 persen, sebaliknya jumlah barang mencapai 7,6 juta ton atau turun 4,50 persen dibanding periode yang sama tahun 2008. Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri yang diberangkatkan pada Bulan Mei 2009 tercatat 439,7 ribu orang atau naik tipis 0,58 persen dibanding Bulan April 2009. Sebaliknya, jumlah barang yang diangkut turun 1,99 persen menjadi 8,3 juta ton. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2008, selama Januari-Mei 2009 jumlah penumpang mencapai 2,3 juta orang atau turun 3,97 persen dan jumlah barang yang diangkut 45,5 juta ton atau turun 35,41 persen. Jumlah penumpang angkutan udara domestik yang diberangkatkan pada Bulan Mei 2009 mencapai 2,9 juta orang atau naik 12,21 persen dibanding Bulan April 2009. Demikian juga jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) naik 6,66 persen menjadi 629,2 ribu orang. Selama Januari-Mei 2009 jumlah penumpang domestik mencapai 13,5 juta orang atau naik 0,55 persen, dan jumlah penumpang internasional mencapai 2,9 juta orang atau naik 3,85 persen dibanding periode yang sama tahun 2008.

Download PDF
Nilai Ekspor Indonesia  Mei 2009 Naik 9,52 Persen, Nilai Impor Naik 17,00 Persen.

Nilai Ekspor Indonesia Mei 2009 Naik 9,52 Persen, Nilai Impor Naik 17,00 Persen.

2009-07-01

Nilai ekspor Indonesia Mei 2009 mencapai US$9,26 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 9,52 persen dibanding ekspor April 2009. Sebaliknya bila dibanding Mei 2008 mengalami penurunan sebesar 28,28 persen. Ekspor nonmigas Mei 2009 mencapai US$8,16 miliar, naik 13,30 persen dibanding April 2009 sedangkan dibanding ekspor Mei 2008 menurun 15,77 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Mei 2009 mencapai US$40,74 miliar atau menurun 29,24 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, sementara ekspor nonmigas mencapai US$35,05 miliar atau menurun 21,19 persen. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar Mei 2009 terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$448,5 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$154,4 juta. Ekspor nonmigas ke Jepang Mei 2009 mencapai angka terbesar yaitu US$937,7 juta, disusul Amerika Serikat US$845,7 juta dan Singapura US$779,2 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 31,41 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 27 negara ) sebesar US$1,16 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari-Mei 2009 turun sebesar 26,98 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, demikian juga ekspor hasil pertanian menurun 10,18 persen, sebaliknya ekspor hasil tambang dan lainnya naik sebesar 15,15 persen. Nilai impor Indonesia Mei 2009 mencapai US$7,85 miliar atau meningkat 17,00 persen dibanding April 2009 sebesar US$6,71 miliar, sedangkan selama Januari-Mei 2009 nilai impor mencapai US$33,65 miliar atau menurun 36,56 persen dibanding periode yang sama tahun 2008. Impor nonmigas Mei 2009 mencapai US$6,55 miliar atau meningkat 19,57 persen dibanding impor April 2009, sedangkan selama Januari-Mei 2009 mencapai US$27,94 miliar atau menurun sebesar 29,94 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor migas Mei 2009 mencapai US$1,30 miliar atau meningkat 5,54 persen dibanding impor April 2009, sedangkan selama Januari-Mei 2009 mencapai US$5,71 miliar atau menurun 56,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai impor nonmigas terbesar Mei 2009 masih sama seperti April 2009 yaitu golongan barang mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$1,11 miliar, yang mengalami peningkatan sebesar 8,72 persen dibanding bulan sebelumnya. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Mei 2009 masih ditempati oleh Cina dengan nilai US$4,85 miliar dengan pangsa 17,36 persen, diikuti Jepang US$3,50 miliar (12,54 persen) dan Singapura US$3,15 miliar (11,28 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 22,36 persen dan Uni Eropa sebesar 11,94 persen. Impor menurut golongan penggunaan barang selama Januari-Mei 2009 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya mengalami penurunan untuk semua golongan, yaitu impor barang konsumsi sebesar 33,77 persen, bahan baku/penolong sebesar 42,58 persen, dan barang modal sebesar 5,21 persen.

Download PDF
Inflasi Juni 2009 Sebesar 0,11 Persen

Inflasi Juni 2009 Sebesar 0,11 Persen

2009-07-01

Pada bulan Juni 2009 terjadi inflasi sebesar 0,11 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,10. Dari 66 kota, tercatat 47 kota mengalami inflasi dan 19 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tarakan 1,44 persen dengan IHK 124,85 dan terendah terjadi di Medan, Bekasi dan Depok masing-masing 0,01 persen dengan IHK masing-masing 112,61; 112,43 dan 112,69. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Ambon 2,70 persen dengan IHK 110,45 dan terendah terjadi di Banda Aceh 0,02 persen dengan IHK 114,16. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,29 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,04 persen; kelompok sandang 0,30 persen; kelompok kesehatan 0,23 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,09 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,25 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok bahan makanan 0,18 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-Juni) 2009 sebesar 0,21 persen, sedangkan laju inflasi year on year (Juni 2009 terhadap Juni 2008) sebesar 3,65 persen. Komponen inti pada bulan Juni 2009 mengalami inflasi sebesar 0,20 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Juni) 2009 sebesar 1,88 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti year on year(Juni 2009 terhadap Juni 2008) sebesar 5,56 persen.

Download PDF
Pada Bulan April 2009 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Turun 0,41 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya

Pada Bulan April 2009 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Turun 0,41 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya

2009-06-01

Pada bulan April 2009 Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum turun 0,41 persen dibanding bulan sebelumnya. Penurunan IHPB terbesar terjadi pada barang Ekspor sebesar 2,45 persen, utamanya logam dasar bukan besi, batubara, dan barang-barang dari besi dan baja dasar yang memberi andil masing-masing sebesar -0,08; -0,08 dan -0,04 persen. IHPB barang Impor turun 1,24 persen. Sedangkan Sektor Pertanian, Pertambangan & Penggalian, dan Industri masing-masing naik 0,62; 0,59 dan 0,33 persen. Selama April 2009, komoditas yang harga grosirnya turun antara lain: barang ekspor bijih nikel (-12,56%), batubara (-5.55%), barang impor minyak bumi (-5,07%), dan alat-alat berat (-1,25%). Sedangkan yang naik dari Sektor Pertanian antara lain karet (7,20%), kapuk (7,12%), dari Sektor Pertambangan & Penggalian: koral/kerikil (1,40%), dan dari Sektor Industri: minyak kelapa (7,32%), minyak diesel (17,48%), dan minyak bakar (14,69%). IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi di April 2009 naik 0,12 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga grosir mesin pembangkit dan motor listrik(1,48%), bahan bangunan dari kayu (0,83%), dan barang galian segala jenis ( 0,76%). Namun yang mengalami penurunan harga grosir antara lain barang-barang dari besi dan baja dasar (-1,40%), kayu gelondongan (-0,55%), dan kayu lapis (-0,41%).

Download PDF
Pada April 2009, Nilai Tukar Petani (NTP) Nasional Sebesar 99,26, Atau Naik 0,49 Persen Dibandingkan Bulan Sebelumnya.

Pada April 2009, Nilai Tukar Petani (NTP) Nasional Sebesar 99,26, Atau Naik 0,49 Persen Dibandingkan Bulan Sebelumnya.

2009-06-01

Pada April 2009, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional sebesar 99,26, atau naik 0,49 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) tercatat sebesar 94,36, Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 102,27, Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 103,98, Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 104,15, dan untuk Nilai Tukar Nelayan (NTN) 105,50. Dari 32 provinsi (tanpa DKI) pada April 2009, NTP 18 provinsi naik, sedangkan 14 provinsi turun. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Jambi (2,26 persen), terutama disebabkan harga produsen Karet yang naik 7,89 persen. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Kepulauan Riau (2,92 persen), terutama disebabkan harga produsen ikan tongkol yang turun 20,00 persen. Pada April 2009, terjadi deflasi di daerah pedesaan di Indonesia sebesar 0,31 persen. Deflasi pedesaan April 2009 ini dipengaruhi oleh penurunan indeks harga subkelompok bahan makanan sebesar 0,98 persen sedangkan subkelompok makanan jadi, perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, rekreasi & olah raga serta transportasi dan komunikasi naik masing-masing sebesar 0,29 persen; 0,32 persen; 0,24 persen; 0,64 persen; 0,52 persen; 0,01persen. Berdasarkan hasil observasi terhadap 791 transaksi gabah di 17 provinsi selama bulan Mei 2009, didominasi oleh Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 74,84 persen, diikuti oleh gabah kualitas rendah sebesar 18,71 persen, dan Gabah Kering Giling (GKG) sebesar 6,45 persen Dibandingkan April 2009, rata-rata harga gabah kualitas GKP di tingkat petani sebesar Rp2.673,- per kg atau naik 2,66 persen dan di tingkat penggilingan sebesar Rp2.732,- per kg atau naik 2,63 persen (berada di atas HPP). Sedangkan rata-rata harga gabah kualitas GKG di tingkat petani sebesar Rp3.089,- per kg atau naik 17,36 persen dan di tingkat penggilingan sebesar Rp3.139,- per kg atau naik 16,49 persen (berada di atas HPP). Sementara itu, rata-rata harga gabah kualitas rendah di tingkat petani sebesar Rp2.337,- per kg atau naik 1,31 persen. Harga gabah terendah di tingkat petani berasal dari gabah kualitas rendah sebesar Rp1.850,- per kg yang terjadi di Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat). Sedangkan harga tertinggi berasal dari gabah kualitas GKP sebesar Rp3.635,- per kg yang terjadi di Kabupaten Batubara (Sumatera Utara). Persentase harga gabah di bawah HPP di tingkat penggilingan turun dari 19,55 persen (April 2009) menjadi 6,84 persen (Mei 2009), sedangkan gabah kualitas rendah naik dari 18,02 persen (April 2009) menjadi 18,71 persen (Mei 2009). Upah nominal harian buruh tani Nasional pada April 2009 naik sebesar 0,29 persen dibanding upah Maret 2009, yaitu dari Rp36.526,- menjadi Rp36.632,- per hari. Secara riil mengalami peningkatan sebesar 0,60 persen1). Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Mei 2009 naik 0,06 persen dibanding upah April 2009, yaitu dari Rp55.025,- menjadi Rp55.059,- per hari. Secara riil naik sebesar 0,02 persen1). Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan III 2008 naik sebesar 0,25 persen dibanding upah triwulan II 2008 yaitu dari Rp1.106.883,- menjadi Rp1.109.680,-, secara riil turun 2,56 persen1). Dibanding upah triwulan III 2007 (year on year), upah nominal naik 9,25 persen.

Download PDF
Jumlah Wisatawan Mancanegara (wisman) Pada April 2009 Naik 6,10 Persen Dibanding Jumlah Wisman April 2008

Jumlah Wisatawan Mancanegara (wisman) Pada April 2009 Naik 6,10 Persen Dibanding Jumlah Wisman April 2008

2009-06-01

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia pada April 2009 mencapai 487,1 ribu orang atau naik 6,10 persen dibanding jumlah wisman April 2008 sebanyak 459,1 ribu orang. Sebaliknya jika dibanding Maret 2009, jumlah wisman April 2009 turun 4,73 persen. Jumlah wisman yang datang melalui 11 pintu masuk utama pada April 2009 naik 7,72 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari 379,7 ribu orang menjadi 409,1 ribu orang. Jika dibanding Maret 2009, wisman yang datang melalui 11 pintu masuk turun 4,52 persen. Jumlah wisman ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai pada April 2009 naik 21,59 persen dibanding April 2008. Dibanding Maret 2009, jumlah wisman ke Bali mengalami kenaikan sebesar 11,99 persen, yaitu dari 168,0 ribu orang menjadi 188,2 ribu orang pada April 2009. Selama periode Januari-April 2009, jumlah wisman mencapai 1,89 juta orang atau naik 1,53 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2008 sebanyak 1,86 juta orang. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 14 provinsi pada April 2009 mencapai rata-rata 45,70 persen, atau turun 1,57 poin dibanding TPK Maret 2009 sebesar 47,27 persen. TPK hotel berbintang di Bali pada April 2009 naik 1,23 poin bila dibanding Maret 2009, yaitu dari 57,72 persen menjadi 58,95 persen. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 14 provinsi selama April 2009 adalah 2,14 hari atau mengalami kenaikan 0,03 poin bila dibanding Maret 2009.

Download PDF
Nilai Ekspor Indonesia  April 2009 Turun  Sebesar 1,81 Persen Dibanding Maret 2009

Nilai Ekspor Indonesia April 2009 Turun Sebesar 1,81 Persen Dibanding Maret 2009

2009-06-01

Nilai ekspor Indonesia April 2009 mencapai US$8,46 miliar atau mengalami penurunan sebesar 1,81 persen dibanding ekspor Maret 2009. Bila dibanding April 2008 juga mengalami penurunan sebesar 22,55 persen. Ekspor nonmigas April 2009 mencapai US$7,21 miliar, turun 1,74 persen dibanding Maret 2009 sedangkan dibanding ekspor April 2008 menurun 14,63 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-April 2009 mencapai US$31,49 miliar atau menurun 29,51 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, sementara ekspor nonmigas mencapai US$26,90 miliar atau menurun 22,68 persen. Penurunan ekspor nonmigas terbesar April 2009 terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$592,3 juta, sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$238,6 juta. Ekspor nonmigas ke Cina April 2009 mencapai angka terbesar yaitu US$830,3 juta, disusul Amerika Serikat US$768,4 juta dan Jepang US$687,4 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 31,73 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 27 negara ) sebesar US$869,3 juta. Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari-April 2009 turun sebesar 28,29 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, demikian juga ekspor hasil pertanian menurun 7,38 persen, sebaliknya ekspor hasil tambang dan lainnya naik sebesar 11,63 persen. Nilai impor Indonesia April 2009 mencapai US$6,38 miliar atau menurun 2,58 persen dibanding Maret 2009 sebesar US$6,55 miliar, sedangkan selama Januari-April 2009 nilai impor mencapai US$25,48 miliar atau menurun 38,42 persen dibanding periode yang sama tahun 2008. Impor nonmigas April 2009 mencapai US$5,25 miliar atau menurun 6,62 persen dibanding impor Maret 2009, sedangkan selama Januari-April 2009 mencapai US$21,17 miliar atau menurun sebesar 32,86 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor migas April 2009 mencapai US$1,13 miliar atau meningkat 21,85 persen dibanding impor Maret 2009, sedangkan selama Januari-April 2009 mencapai US$4,31 miliar atau menurun 56,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai impor nonmigas terbesar April 2009 masih sama seperti Maret 2009 yaitu golongan barang mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$1,02 miliar, yang mengalami penurunan sebesar 10,54 persen dibanding bulan sebelumnya. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-April 2009 masih ditempati oleh Cina dengan nilai US$3,77 miliar dengan pangsa 17,80 persen, diikuti Jepang US$2,79 miliar (13,18 persen) dan Singapura US$2,47 miliar (11,68 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 22,26 persen dan Uni Eropa sebesar 11,91 persen. Impor menurut golongan penggunaan barang selama Januari-April 2009 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya mengalami penurunan, yaitu impor barang konsumsi sebesar 34,27 persen, bahan baku/penolong sebesar 44,42 persen, dan barang modal sebesar 8,68 persen.

Download PDF