Berita Statistik BPS Republik Indonesia
Inflasi Agustus 2009 Sebesar 0,56 Persen
2009-09-01
Pada bulan Agustus 2009 terjadi inflasi sebesar 0,56 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 115,25. Dari 66 kota, tercatat 63 kota mengalami inflasi dan 3 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Manokwari 2,00 persen dengan IHK 130,26 dan terendah terjadi di Singkawang 0,03 persen dengan IHK 117,77. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Sorong 0,76 persen dengan IHK 134,01 dan terendah terjadi di Palembang 0,14 persen dengan IHK 116,27. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok bahan makanan 1,29 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,73 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,21 persen; kelompok sandang 0,01 persen; kelompok kesehatan 0,35 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 1,26 persen. Sedangkan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan mengalami penurunan indeks 0,02 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-Agustus) 2009 sebesar 1,22 persen, sedangkan laju inflasi year on year (Agustus 2009 terhadap Agustus 2008) sebesar 2,75 persen. Komponen inti pada bulan Agustus 2009 mengalami inflasi sebesar 0,43 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Agustus) 2009 sebesar 2,64 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti year on year (Agustus 2009 terhadap Agustus 2008) sebesar 4,84 persen.
Download PDFIndeks Tendensi Bisnis (ITB) Triwulan II-2009 Sebesar 110,43. Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan II-2009 di Jabodetabek Sebesar 106,42
2009-08-10
Kondisi Bisnis Triwulan II-2009 Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada Triwulan II-2009 sebesar 110,43, mengindikasikan kondisi bisnis pada triwulan tersebut secara umum meningkat dibandingkan pada Triwulan I-2009 (nilai ITB sebesar 96,91). Semua sektor ekonomi mengalami peningkatan nilai indeks. Sektor Transportasi & Telekomunikasi mengalami peningkatan bisnis tertinggi dengan nilai indeks sebesar 115,66, sedangkan Sektor Industri Pengolahan mengalami peningkatan bisnis terendah dengan nilai indeks sebesar 102,48. Peningkatan kondisi bisnis terjadi karena adanya peningkatan pendapatan usaha, kapasitas produksi dan rata-rata jam kerja. Sektor Jasa-jasa mengalami peningkatan pendapatan usaha terbesar, sedangkan Sektor Industri Pengolahan mengalami peningkatan pendapatan usaha terendah. Prospek Bisnis Triwulan III-2009 Nilai ITB Triwulan III-2009 diperkirakan sebesar 107,80, berarti secara umum kondisi bisnis pada triwulan tersebut diperkirakan akan meningkat, namun peningkatannya lebih lambat dibandingkan Triwulan II-2009. Semua sektor ekonomi pada Triwulan III-2009 diperkirakan mengalami peningkatan nilai indeks, kecuali Sektor Keuangan, Persewaan, & Jasa Perusahaan yang diperkirakan mengalami penurunan. Indeks Tendensi Konsumen adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang dihasilkan Badan Pusat Statistik melalui Survei Tendensi Konsumen (STK). Survei ini dilakukan setiap triwulan di wilayah Jabodetabek dengan jumlah sampel 1.500 rumah tangga. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan II-2009 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan II-2009 di Jabodetabek sebesar 106,42, artinya kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan II-2009 meningkat bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (ITK sebesar 102,15). Kondisi ekonomi konsumen membaik karena adanya peningkatan pendapatan rumah tangga; rendahnya pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan sehari-hari; dan meningkatnya konsumsi beberapa komoditi makanan dan bukan makanan seperti biaya perumahan (listrik, telepon dan air), pendidikan, dan transportasi. C. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan III-2009 Nilai ITK di Jabodetabek pada Triwulan III-2009 diperkirakan 109,05, artinya kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan III-2009 diprediksi akan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Perbaikan kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan III-2009 diperkirakan terjadi karena adanya peningkatan pendapatan, meskipun rencana pembelian barang-barang tahan lama diperkirakan menurun.
Download PDFPertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II-2009 Mencapai 2,3 Persen (q-to-q)
2009-08-10
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan II-2009 mencapai 2,3 persen dibanding triwulan I-2009 (q-to-q) dan apabila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2008 mengalami pertumbuhan 4,0 persen (y-on-y). Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I-2009 dibandingkan dengan semester I-2008 tumbuh sebesar 4,2 persen. Besaran PDB atas dasar harga berlaku pada triwulan II-2009 mencapai Rp1.365,5 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan 2000 pada triwulan yang sama adalah Rp540,1 triliun. Tiga sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi (q-to-q) adalah Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih 8,1 persen, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 4,7 persen dan Sektor Pertanian 3,5 persen. Sementara untuk pertumbuhan (y-on-y) Sektor Pengangkutan dan Komunikasi tumbuh 17,5 persen, Sektor Listrik, Gas dan Air bersih 15,4 persen dan Sektor Jasa-jasa 7,4 persen. Struktur PDB triwulan II-2009 masih didominasi oleh Sektor Industri Pengolahan, Sektor Pertanian dan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran masing-masing memberikan kontribusi sebesar 26,6 persen, 15,6 persen dan 13,3 persen. Pertumbuhan PDB pada triwulan II-2009 dibandingkan dengan triwulan I-2009 (q-to-q) sebesar 2,3 persen ditopang oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga yang meningkat sebesar 0,2 persen, sementara pengeluaran konsumsi pemerintah meningkat 23,7 persen, pembentukan modal tetap bruto 2,4 persen, ekspor barang dan jasa 7,4 persen, serta impor barang dan jasa 7,8 persen. Dibandingkan dengan triwulan II-2008 (y-on-y), pertumbuhan ekonomi tumbuh 4,0 persen didukung pengeluaran konsumsi rumah tangga yang meningkat 4,8 persen, pengeluaran konsumsi pemerintah 17,0 persen, pembentukan modal tetap bruto 2,7 persen. Namun, lain halnya dengan ekspor dan impor barang dan jasa yang menurun masing-masing sebesar 15,7 persen, serta impor barang dan jasa 23,9 persen. Pertumbuhan ekonomi semester I-2009 terhadap semester I-2008 (c-to-c) sebesar 4,2 persen. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,4 persen, konsumsi pemerintah tumbuh 18,0 persen, pembentukan modal tetap bruto tumbuh 3,0 persen, sedangkan ekspor dan impor tumbuh negatif masing-masing 17,2 persen dan 24,9 persen Struktur perekonomian Indonesia secara spasial masih didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 57,8 persen, kemudian diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 23,4 persen, Pulau Kalimantan 9,4 persen, dan Pulau Sulawesi 4,5 persen dan sisanya 4,9 persen di pulau-pulau lainnya.
Download PDFIndeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Pada Bulan Juni 2009 Naik 1,37 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya
2009-08-03
Pada bulan Juni 2009 Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum naik 1,37 persen dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB terbesar terjadi pada kelompok barang Ekspor sebesar 3,28 persen, utamanya minyak bumi, gas alam cair, bijih tembaga, dan pakaian jadi yang memberi andil masing-masing sebesar 0,35; 0,13; 0,09 dan 0,05 persen. IHPB kelompok barang Impor, Sektor Pertanian, dan Industri, naik masing-masing 3,21; 0,28; dan 0,43 persen. Sedangkan Sektor Pertambangan & Penggalian turun 0,84 persen. Selama Juni 2009, komoditas yang harganya naik antara lain: minyak bakar industri (15,96%), minyak bumi impor (15,78%), minyak diesel industri (14,48%), bijih nikel ekspor (14,06%), dan avigas industri (7,52%). Sedangkan yang mengalami penurunan harga antara lain: kelapa (6,07%), kapas impor (5,33%), batubara (5,04%), dan batubara ekspor (4,07%). IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi di Juni 2009 naik 0,42 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga barang-barang hasil kilang minyak lainnya (1,87%), kayu gelondongan (0,60%), dan kayu gergajian dan awetan (0,51%). Sedangkan yang mengalami penurunan harga antara lain: barang-barang dari logam dasar bukan besi (0,91%), kayu lapis (0,27%), barang-barang dari besi dan baja dasar (0,17%), dan aspal (0,04%).
Download PDFPertumbuhan Produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang (q-to-q) Triwulan II/2009 Naik 2,11 Persen
2009-08-03
Pertumbuhan Produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang (y-on-y) triwulan II tahun 2009 mengalami kenaikan 0,38 persen, melambat dibandingkan triwulan II tahun 2008 yang mencapai 3,30 persen. Industri yang memberikan kontribusi peningkatan produksi, yaitu Industri Pengolahan Tembakau yang naik mencapai 27,97 persen, Industri Makanan dan Minuman naik sebesar 16,81 persen, dan Industri Kimia dan Barang-Barang dari Bahan Kimia yang naik sebesar 3,75 persen. Pertumbuhan Produksi Industri Pengolahan Besar dan Sedang (q-to-q) pada triwulan II tahun 2009 naik sebesar 2,11 persen dari produksi industri triwulan I tahun 2009, berarti lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2008 sebesar 1,92 persen. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan produksi terbesar adalah Industri Tekstil sebesar 6,48 persen, Industri Makanan dan Minuman sebesar 4,12 persen, Industri Kendaraan Bermotor sebesar 4,05 persen, Industri Kulit dan Barang dari Kulit dan Alas sebesar 3,93 persen dan Industri Barang Galian Bukan Logam sebesar 3,62 persen. Pertumbuhan produksi industri bulanan terus meningkat sejak Februari 2009 sampai bulan Juni 2009. Pertumbuhan bulanan tertinggi antar bulan (m-to-m) terjadi pada bulan Juni 2009 sebesar 0,93 persen, sedangkan terhadap tahun sebelumnya (y-on-y) kenaikan tertinggi terjadi pada bulan Maret 2009 sebesar 1,40 persen.
Download PDFNilai Tukar Petani (NTP) Pada Juni 2009 Naik 0,16 Persen Dibandingkan Bulan Sebelumnya
2009-08-03
Pada Juni 2009, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional sebesar 99,56, atau naik 0,16 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) tercatat sebesar 95,07, Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 101,97, Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 103,73, Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 104,34, dan untuk Nilai Tukar Nelayan (NTN) 105,83. Dari 32 provinsi (tanpa DKI) pada Juni 2009, NTP 20 provinsi naik, 1 provinsi relatif stabil, sedangkan 11 provinsi turun. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Sulawesi Selatan (1,49 persen), terutama disebabkan harga produsen coklat yang naik 1,36 persen. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Sumatera Barat (1,29 persen), terutama disebabkan harga produsen padi yang turun 3,43 persen. Pada Juni 2009, terjadi inflasi di daerah perdesaan di Indonesia sebesar 0,35 persen. Inflasi perdesaan Juni 2009 ini dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga subkelompok bahan makanan, makanan jadi, perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, rekreasi & olah raga serta transportasi dan komunikasi naik masing-masing sebesar 0,30 persen; 0,57 persen; 0,53 persen; 0,31 persen; 0,21 persen; 0,27 dan 0.02 persen. Berdasarkan hasil observasi terhadap 978 transaksi gabah di 18 provinsi selama Juli 2009, didominasi oleh Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 76,99 persen, diikuti oleh gabah kualitas rendah sebesar 19,12 persen, dan Gabah Kering Giling (GKG) sebesar 3,89 persen Meskipun relatif masih di atas HPP, rata-rata harga gabah kualitas GKP di tingkat petani turun 1,37 persen menjadi Rp2.645,- per kg dan di tingkat penggilingan turun 1,41 persen menjadi Rp2.700,- per kg dibandingkan Juni 2009. Sedangkan rata-rata harga gabah kualitas GKG di tingkat petani naik 0,49 persen menjadi Rp2.974,- per kg dan di tingkat penggilingan naik 0,75 persen menjadi Rp3.039,- per kg. Sementara itu, rata-rata harga gabah kualitas rendah di tingkat petani Rp2.366,- per kg atau naik 6,16 persen. Harga gabah terendah di tingkat petani berasal dari gabah kualitas rendah sebesar Rp1.800,- per kg yang terjadi di Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat). Sedangkan harga tertinggi berasal dari gabah kualitas GKP sebesar Rp3.800,- per kg yang terjadi di Kabupaten Kapuas (Kalimantan Tengah). Dibandingkan Juni 2009, persentase observasi harga gabah di bawah HPP di tingkat penggilingan meningkat dari 11,65 persen menjadi 16,43 persen selama Juli 2009. Sebaliknya, terjadi penurunan persentase observasi harga gabah kualitas rendah dari 19,72 persen menjadi 19,12 persen. Upah nominal harian buruh tani Nasional pada Juni 2009 naik sebesar 0,23 persen dibanding upah Mei 2009, yaitu dari Rp36.742,- menjadi Rp36.827,- per hari. Secara riil mengalami penurunan sebesar 0,12 persen1). Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Juli 2009 naik 0,31 persen dibanding upah Juni 2009, yaitu dari Rp55.090,- menjadi Rp55.258,- per hari. Secara riil turun sebesar 0,14 persen1). Upah nominal bulanan buruh industri pada triwulan IV 2008 naik sebesar 0,07 persen dibanding upah triwulan III 2008 yaitu dari Rp1.099.282,- menjadi Rp1.100.033,-, secara riil turun 0,45 persen1). Dibanding upah triwulan IV 2007 (year on year), upah nominal naik 4,72 persen.
Download PDFJumlah Wisatawan Mancanegara Pada Bulan Juni 2009 Naik 5,53 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya
2009-08-03
Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia pada Juni 2009 mencapai 550,6 ribu orang atau naik 4,07 persen dibanding jumlah wisman Juni 2008 sebanyak 529,1 ribu orang. Begitu pula jika dibanding Mei 2009, jumlah wisman Juni 2009 naik 5,53 persen. Jumlah wisman yang datang melalui 11 pintu masuk utama pada Juni 2009 naik 4,95 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari 444,9 ribu orang menjadi 466,9 ribu orang. Jika dibanding Mei 2009, wisman yang datang melalui 11 pintu masuk naik 5,51 persen. Jumlah wisman ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai pada Juni 2009 naik 12,48 persen dibanding Juni 2008. Dibanding Mei 2009, jumlah wisman ke Bali mengalami kenaikan sebesar 5,14 persen, yaitu dari 190,7 ribu orang menjadi 200,5 ribu orang pada Juni 2009. Selama Semester I (Januari-Juni) 2009, jumlah wisman mencapai 2,97 juta orang atau naik 2,17 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2008 sebanyak 2,90 juta orang. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 14 provinsi pada Juni 2009 mencapai rata-rata 52,65 persen, atau naik 4,84 poin dibanding TPK Mei 2009 sebesar 47,81 persen. TPK hotel berbintang di Bali pada Juni 2009 naik 2,51 poin bila dibanding Mei 2009, yaitu dari 60,26 persen menjadi 62,77 persen. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 14 provinsi selama Juni 2009 adalah 2,01 hari turun 0,13 poin dibanding keadaan Mei 2009. Jumlah penumpang kereta api yang diberangkatkan pada bulan Juni 2009 mencapai 18,1 juta orang, yang berarti naik 1,80 persen dibanding bulan Mei 2009, demikian juga jumlah barang yang diangkut kereta api naik 8,50 persen menjadi 1,7 juta ton. Selama Januari-Juni 2009, jumlah penumpang mencapai 101,7 juta orang atau naik 7,56 persen, sebaliknya jumlah barang mencapai 9,2 juta ton atau turun 3,21 persen dibanding periode yang sama tahun 2008. Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri yang diberangkatkan pada bulan Juni 2009 tercatat 482,3 ribu orang atau naik 9,69 persen dibanding bulan Mei 2009. Sebaliknya, jumlah barang yang diangkut turun 2,70 persen menjadi 8,1 juta ton. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2008, selama Januari-Juni 2009 jumlah penumpang mencapai 2,7 juta orang atau turun 4,29 persen dan jumlah barang yang diangkut 53,6 juta ton atau turun 35,57 persen. Jumlah penumpang angkutan udara domestik yang diberangkatkan pada bulan Juni 2009 mencapai 3,0 juta orang atau naik 4,76 persen dibanding bulan Mei 2009. Demikian juga jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) naik 11,72 persen menjadi 702,9 ribu orang. Selama Januari-Juni 2009 jumlah penumpang domestik mencapai 16,5 juta orang atau naik 3,27 persen, dan jumlah penumpang internasional mencapai 3,6 juta orang atau naik 5,29 persen dibanding periode yang sama tahun 2008.
Download PDFNilai Ekspor Indonesia Juni 2009 Naik 1,32 Persen, Nilai Impor Naik 4,08 Persen Dibanding Bulan Sebelumnya
2009-08-03
Nilai ekspor Indonesia Juni 2009 mencapai US$9,33 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 1,32 persen dibanding ekspor Mei 2009. Sebaliknya bila dibanding Juni 2008 mengalami penurunan sebesar 27,21 persen. Ekspor nonmigas Juni 2009 mencapai US$7,88 miliar, turun 2,41 persen dibanding Mei 2009 sedangkan dibanding ekspor Juni 2008 menurun 19,81 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Juni 2009 mencapai US$50,02 miliar atau menurun 28,94 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, sementara ekspor nonmigas mencapai US$42,85 miliar atau menurun 21,10 persen. Penurunan ekspor nonmigas terbesar Juni 2009 terjadi pada lemak & minyak hewan/nabati sebesar US$473,8 juta, sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada kertas/karton sebesar US$30,2 juta. Ekspor nonmigas ke Jepang Juni 2009 mencapai angka terbesar yaitu US$1,03 milyar, disusul Amerika Serikat US$876,4 juta dan Singapura US$778,1 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,03 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 27 negara ) sebesar US$1,03 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari-Juni 2009 turun sebesar 26,90 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, demikian juga ekspor hasil pertanian menurun 10,69 persen, sebaliknya ekspor hasil tambang dan lainnya naik sebesar 15,28 persen. Nilai impor Indonesia Juni 2009 mencapai US$7,95 miliar atau meningkat 4,08 persen dibanding Mei 2009 sebesar US$7,64 miliar, sedangkan selama semester I 2009 nilai impor mencapai US$41,40 miliar atau menurun 36,46 persen dibanding periode yang sama tahun 2008. Impor nonmigas Juni 2009 mencapai US$6,51 miliar atau meningkat 7,08 persen dibanding impor Mei 2009, sedangkan selama semester I 2009 mencapai US$33,99 miliar atau menurun 29,64 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Impor migas Juni 2009 mencapai US$1,44 miliar atau menurun 7,60 persen dibanding impor Mei 2009, sedangkan selama semester I 2009 mencapai US$7,41 miliar atau menurun 56,02 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai impor nonmigas terbesar Juni 2009 masih sama seperti Mei 2009 yaitu golongan barang mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$1,24 miliar, yang mengalami peningkatan sebesar 12,28 persen dibanding bulan sebelumnya. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama semester I 2009 masih ditempati oleh Cina dengan nilai US$5,90 miliar dengan pangsa 17,36 persen, diikuti Jepang US$4,33 miliar (12,74 persen) dan Singapura US$3,84 miliar (11,31 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 22,12 persen dan Uni Eropa sebesar 11,99 persen. Impor menurut golongan penggunaan barang selama semester I 2009 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya mengalami penurunan untuk semua golongan, yaitu impor barang konsumsi sebesar 33,41 persen, bahan baku/penolong sebesar 42,44 persen, dan barang modal sebesar 4,65 persen.
Download PDFPada bulan Juli 2009 terjadi inflasi sebesar 0,45 persen
2009-08-03
Pada bulan Juli 2009 terjadi inflasi sebesar 0,45 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,61. Dari 66 kota, tercatat 62 kota mengalami inflasi dan 4 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sorong 2,19 persen dengan IHK 135,04 dan terendah terjadi di Purwokerto 0,01 persen dengan IHK 114,57. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Jayapura 0,56 persen dengan IHK 114,20 dan terendah terjadi di Samarinda dan Mamuju masing-masing 0,18 persen dengan IHK masing- masing 118,88 dan 118,69. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok bahan makanan 1,14 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,29 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,08 persen; kelompok kesehatan 0,13 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 1,21 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,28 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok sandang 0,23 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-Juli) 2009 sebesar 0,66 persen, sedangkan laju inflasi year on year (Juli 2009 terhadap Juli 2008) sebesar 2,71 persen. Komponen inti pada bulan Juli 2009 mengalami inflasi sebesar 0,31 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Juli) 2009 sebesar 2,20 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti year on year (Juli 2009 terhadap Juli 2008) sebesar 4,91 persen.
Download PDFJumlah Penduduk Miskin Pada Bulan Maret 2009 Sebesar 32,53 Juta (14,15 Persen)
2009-07-01
"Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan di Indonesia) pada Bulan Maret 2009 sebesar 32,53 juta (14,15 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Bulan Maret 2008 yang berjumlah 34,96 juta (15,42 persen), berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 2,43 juta. Selama periode Maret 2008-Maret 2009, penduduk miskin di daerah perdesaan berkurang 1,57 juta, sementara di daerah perkotaan berkurang 0,86 juta orang. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. Pada Bulan Maret 2009, sebagian besar (63,38 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan. Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada Bulan Maret 2009, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 73,57 persen. Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan adalah beras, gula pasir, telur, mie instan, tahu dan tempe. Untuk komoditi bukan makanan adalah biaya perumahan, biaya listrik, angkutan dan minyak tanah. Pada periode Maret 2008-Maret 2009, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit."
Download PDF