Logo BPS
BPS REPUBLIK INDONESIA

Berita Statistik BPS Republik Indonesia

Februari 2009 Harga Grosir atau IHPB Naik 1,94  Persen

Februari 2009 Harga Grosir atau IHPB Naik 1,94 Persen

2009-04-01

Pada bulan Februari 2009 Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum naik 1,94 persen dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB terbesar terjadi pada barang-barang Impor sebesar 3,98 persen, utamanya minyak bumi yang memberi andil sebesar 1,26 persen. IHPB Sektor Pertanian, Pertambangan & Penggalian, Industri,dan barang Ekspor masing-masing naik 1,43 persen; 0,50 persen; 0,78 persen; dan 3,58 persen. Selama Februari 2009, komoditas yang harga grosirnya naik antara lain: kelapa sawit (12,95%), beras (2,8%); barang ekspor bijih tembaga (19,31%), gas alam cair (10,66%), dan minyak bumi (9,11%). Sedangkan yang IHPB-nya turun antara lain minyak diesel (-4,87%), solar industri (-3,52% ) dan timah ekspor (-4,44%). IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi di Februari 2009 naik sebesar 0,16 persen terhadap bulan sebelumnya, terutama disebabkan kenaikan harga grosir aspal (1,93%), cat tembok (0,60%), dan kaca lembaran (0,23%). Namun yang mengalami penurunan harga grosir antara lain besi beton (-2,25%), asbes gelombang (-1,27%), dan kayu lapis (-0,50%).

Download PDF
Jumlah Wisatawan Mancanegara (wisman) Pada Februari 2009 Mencapai 421,6 Ribu Orang Atau Turun 9,43 Persen Dibanding Februari 2008

Jumlah Wisatawan Mancanegara (wisman) Pada Februari 2009 Mencapai 421,6 Ribu Orang Atau Turun 9,43 Persen Dibanding Februari 2008

2009-04-01

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia pada Februari 2009 mencapai 421,6 ribu orang atau turun 9,43 persen dibanding jumlah wisman Februari 2008 sebanyak 465,4 ribu orang. Begitu pula jika dibanding Januari 2009, jumlah wisman Februari 2009 turun 10,91 persen. Jumlah wisman yang datang melalui 11 pintu masuk utama pada Februari 2009 turun 11,53 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari 398,5 ribu orang menjadi 352,6 ribu orang. Jika dibanding Januari 2009, wisman yang datang melalui 11 pintu masuk turun 10,47 persen. Jumlah wisman ke Bali pada Februari 2009 turun 8,45 persen dibanding Februari 2008. Dibanding Januari 2009, jumlah wisman ke Bali mengalami penurunan sebesar 15,94 persen, yaitu dari 173,9 ribu orang menjadi 146,2 ribu orang pada Februari 2009. Secara kumulatif (Januari-Februari), jumlah wisman tahun 2009 mencapai 894,7 ribu orang atau turun 0,96 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2008 sebanyak 903,4 ribu orang. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 14 provinsi pada Februari 2009 mencapai rata-rata 44,54 persen, atau turun 0,56 poin dibanding TPK Januari 2009 sebesar 45,10 persen. TPK hotel berbintang di Bali turun 2,38 poin pada Februari 2009 bila dibanding Januari 2009, yaitu dari 53,37 persen pada Januari 2009 menjadi 50,99 persen pada Februari 2009. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 14 Provinsi selama Februari 2009 adalah 2,08 hari atau mengalami penurunan 0,14 poin bila dibanding bulan Januari 2009

Download PDF
Februari 2009 Nilai Ekspor Indonesia Turun 1,02 Persen, Nilai Impor Indonesia Turun 11,89 Persen Dibanding Januari 2009

Februari 2009 Nilai Ekspor Indonesia Turun 1,02 Persen, Nilai Impor Indonesia Turun 11,89 Persen Dibanding Januari 2009

2009-04-01

Nilai ekspor Indonesia Februari 2009 mencapai US$7,08 miliar atau mengalami penurunan sebesar 1,02 persen dibanding ekspor Januari 2009. Sementara bila dibanding Februari 2008 juga mengalami penurunan sebesar 32,86 persen. Ekspor nonmigas Februari 2009 mencapai US$6,06 miliar, turun 2,42 persen dibanding Januari 2009 sedangkan dibanding ekspor Februari 2008 menurun 25,83 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Februari 2009 mencapai US$14,23 miliar atau menurun 34,52 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, sementara ekspor nonmigas mencapai US$12,26 miliar atau menurun 28,34 persen. Penurunan ekspor nonmigas terbesar Februari 2009 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$247,2 juta, sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada mesin/peralatan listrik sebesar US$110,9 juta. Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat Februari 2009 mencapai angka terbesar yaitu US$802,4 juta, disusul Jepang US$726,4 juta dan Singapura US$699,4 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 36,79 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 27 negara ) sebesar US$814,4 juta. Menurut sektor, ekspor hasil pertanian periode Januari-Februari 2009 meningkat 2,42 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, ekspor hasil industri turun sebesar 32,01 persen, demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya turun sebesar 10,81 persen. Nilai impor Indonesia Februari 2009 mencapai US$5,82 miliar atau menurun 11,89 persen dibanding Januari 2009 yang terdiri dari impor migas sebesar US$0,77 miliar (13,25 persen) dan impor nonmigas sebesar US$5,04 miliar (86,75 persen). Sedangkan selama Januari-Februari 2009 nilai impor Indonesia mencapai US$12,42 miliar dengan impor migas sebesar US$2,05 miliar (16,53 persen) dan impor nonmigas sebesar US$10,36 miliar (83,47 persen). Nilai impor Kawasan Berikat Februari 2009 mencapai US$1,25 miliar atau meningkat 4,90 persen dibanding Januari 2009, sedangkan selama Januari-Februari 2009 nilai impornya mencapai US$2,44 miliar terdiri dari impor migas sebesar US$12,1 juta (0,50 persen) dan impor nonmigas sebesar US$2,43 miliar (99,50 persen). Nilai impor di Luar Kawasan Berikat Februari 2009 mencapai US$4,56 miliar atau menurun 15,60 persen dibanding Januari 2009 yang besarnya US$5,41 miliar, sedangkan selama Januari-Februari 2009 nilai impor di Luar Kawasan Berikat mencapai US$9,97 miliar atau menurun 35,13 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selama Januari-Februari 2009 impor nonmigas terbesar adalah mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$2,38 miliar atau 22,96 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ditempati oleh Cina dengan nilai US$1,79 miliar dengan pangsa 17,25 persen, diikuti Jepang US$1,44 miliar (13,92 persen) dan Singapura US$1,24 miliar (11,93 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 22,49 persen dan Uni Eropa sebesar 11,90 persen. Menurut golongan penggunaan barang, peranan impor untuk barang konsumsi dan bahan baku/penolong selama Januari-Februari 2009 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yaitu dari 6,75 persen menjadi 6,74 persen dan dari 77,56 persen menjadi 72,01 persen. Sedangkan peranan impor barang modal meningkat dari 15,69 persen menjadi 21,25 persen.

Download PDF
Inflasi Maret 2009 Sebesar 0,22 Persen

Inflasi Maret 2009 Sebesar 0,22 Persen

2009-04-01

Pada bulan Maret 2009 terjadi inflasi sebesar 0,22 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 114,27. Dari 66 kota, tercatat 44 kota mengalami inflasi dan 22 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jayapura 1,67 persen dengan IHK 115,25 dan terendah terjadi di Depok dan Sumenep masing-masing 0,03 persen dengan IHK masing-masing 112,92 dan 111,44. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Maumere 1,34 persen dengan IHK 120,23 dan terendah terjadi di Tegal 0,01 persen dengan IHK 113,57. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok kelompok sebagai berikut : kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,52 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,20 persen, kelompok sandang 1,02 persen, kelompok kesehatan 0,73 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,06 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,25 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok bahan makanan 0,26 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-Maret) 2009 sebesar 0,36 persen, sedangkan laju inflasi year on year (Maret 2009 terhadap Maret 2008) sebesar 7,92 persen. Inflasi komponen inti pada bulan Maret 2009 sebesar 0,46 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Maret) 2009 sebesar 1,59 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti year on year (Maret 2009 terhadap Maret 2008) sebesar 7,15 persen.

Download PDF
Februari 2009, Nilai Tukar Petani (NTP) Nasional Sebesar 98,77, Atau Naik 0,48 Persen Dibandingkan Bulan Sebelumnya

Februari 2009, Nilai Tukar Petani (NTP) Nasional Sebesar 98,77, Atau Naik 0,48 Persen Dibandingkan Bulan Sebelumnya

2009-04-01

Pada bulan Februari 2009, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional sebesar 98,77, atau naik 0,48 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) tercatat sebesar 94,41, Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 101,45, Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 101,24, Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 104,01, dan untuk Nilai Tukar Nelayan (NTN) 105,82. Dari 32 provinsi (tanpa DKI) pada Februari 2009, NTP 22 provinsi naik, sedangkan 10 provinsi turun. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Lampung (3,51 persen), terutama disebabkan harga produsen padi yang naik 3,02 persen. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Bali (1,16 persen), terutama disebabkan harga ikan layur yang turun 12,00 persen. Pada bulan Februari 2009, terjadi Inflasi di daerah pedesaan di Indonesia sebesar 0,93 persen. Inflasi pedesaan Februari 2009 ini dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga di 5 (lima) subkelompok, yaitu subkelompok bahan makanan 1,51 persen, makanan jadi 1,28 persen, sandang 1,26 persen, kesehatan 0,33 persen, serta pendidikan, rekreasi & olah raga 0,36 persen. Sedangkan subkelompok perumahan dan subkelompok transportasi dan komunikasi turun masing-masing sebsesar 0,04 persen dan 1,97 persen. Pada bulan Maret 2009 rata-rata harga gabah di tingkat petani untuk Gabah Kering Giling (GKG) adalah sebesar Rp3.116,- per kg atau turun 0,99 persen (dibanding Februari 2009) dan Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp2.541,- per kg atau turun 8,55 persen. Keduanya berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Sedangkan untuk kualitas rendah/di luar kelompok kualitas sebesar Rp2.248,- per kg atau naik 0,51 persen. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp1.800,- per kg dijumpai di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten (kualitas GKP dan kualitas Rendah), dan di Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur (kualitas Rendah). Harga tertinggi sebesar Rp3.778,- per kg dijumpai di Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat (kualitas GKP). Di tingkat penggilingan, rata-rata harga GKG di bulan Maret 2009 adalah sebesar Rp3.180,- dan GKP Rp2.598,- per kg atau masih di atas HPP. Persentase harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP naik dari 10,57 persen di Februari 2009 menjadi 31,96 persen di bulan Maret 2009, demikian juga persentase gabah berkualitas rendah naik dari 23,38 persen di bulan Februari 2009 menjadi 31,26 persen di bulan Maret 2009. Upah nominal harian buruh tani Nasional pada bulan Februari 2009 naik sebesar 0,56 persen dibanding upah Januari 2009, yaitu dari Rp36.190,- menjadi Rp36.392,- per hari. Secara riil mengalami penurunan sebesar 0,37 persen1). Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada bulan Maret 2009 naik 1,75 persen dibanding upah bulan Februari 2009, yaitu dari Rp53.934,- menjadi Rp 54.878,- per hari. Secara riil naik sebesar 1,53 persen1).

Download PDF
Tahun 2008 ASEM Produksi Padi Sebesar 60,25 Juta Ton GKG, Produksi Jagung 16,32 Juta Ton Pipilan Kering, Produksi Kedelai 776,49 Ribu Ton Biji Kering.

Tahun 2008 ASEM Produksi Padi Sebesar 60,25 Juta Ton GKG, Produksi Jagung 16,32 Juta Ton Pipilan Kering, Produksi Kedelai 776,49 Ribu Ton Biji Kering.

2009-03-02

PADI Angka Sementara (ASEM) produksi padi tahun 2008 sebesar 60,25 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Dibandingkan produksi tahun 2007 (ATAP), terjadi peningkatan sebanyak 3,09 juta ton (5,41 persen). Kenaikan produksi terjadi karena peningkatan luas panen seluas 161,52 ribu hektar (1,33 persen) dan juga produktivitas sebesar 1,90 kuintal/hektar (4,04 persen). Kenaikan produksi padi tahun 2008 terdapat di beberapa provinsi, terutama di Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan Sulawesi Tengah. Angka Ramalan I (ARAM I) produksi padi tahun 2009 diperkirakan sebesar 60,93 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Dibandingkan produksi tahun 2008 (ASEM), terjadi peningkatan sebanyak 0,68 juta ton (1,13 persen). Kenaikan produksi diperkirakan terjadi karena peningkatan luas panen seluas 113,00 ribu hektar (0,92 persen) dan juga produktivitas sebesar 0,10 kuintal/hektar (0,20 persen). Kenaikan produksi padi tahun 2009 diperkirakan terdapat di beberapa provinsi, terutama di Provinsi Jawa Barat, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Riau. JAGUNG Angka Sementara (ASEM) produksi jagung tahun 2008 sebesar 16,32 juta ton pipilan kering. Dibandingkan produksi tahun 2007 (ATAP), terjadi kenaikan sebesar 3,04 juta ton (22,85 persen). Kenaikan produksi terjadi karena peningkatan luas panen seluas 372,99 ribu hektar (10,27 persen) dan produktivitas sebesar 4,18 kuintal/hektar (11,42 persen). Kenaikan produksi jagung tahun 2008 terutama terjadi di Provinsi Jawa Timur, Lampung, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera Barat. Angka Ramalan I (ARAM I) produksi jagung tahun 2009 diperkirakan sebesar 16,48 juta ton pipilan kering. Dibandingkan produksi tahun 2008 (ASEM), terjadi kenaikan sebesar 154,32 ribu ton (0,95 persen). Kenaikan produksi tahun 2009 diperkirakan terjadi karena naiknya luas panen seluas 5,87 ribu hektar (0,15 persen) dan produktivitas sebesar 0,32 kuintal/hektar (0,78 persen). Kenaikan produksi jagung tahun 2009 diperkirakan terdapat di beberapa provinsi, terutama di Provinsi Jawa Tengah, Sulawesi Utara, Gorontalo, Nanggroe Aceh Darussalam, Lampung, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Barat. KEDELAI Angka Sementara (ASEM) produksi kedelai tahun 2008 sebesar 776,49 ribu ton biji kering. Dibandingkan produksi tahun 2007 (ATAP), terjadi kenaikan sebesar 183,96 ribu ton (31,05 persen). Kenaikan produksi terjadi karena peningkatan luas panen seluas 132,78 ribu hektar (28,92 persen) dan produktivitas sebesar 0,21 kuintal/hektar (1,63 persen). Kenaikan produksi kedelai tahun 2008 terdapat di beberapa provinsi terutama di Provinsi Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara. Angka Ramalan I (ARAM I) produksi kedelai tahun 2009 diperkirakan sebesar 850,23 ribu ton biji kering. Dibandingkan produksi tahun 2008 (ASEM), terjadi kenaikan sebesar 73,74 ribu ton (9,50 persen). Kenaikan produksi tahun 2009 diperkirakan terjadi karena naiknya luas panen seluas 46,20 ribu hektar (7,81 persen) dan produktivitas sebesar 0,20 kuintal/hektar (1,52 persen). Kenaikan produksi kedelai tahun 2009 diperkirakan terdapat di beberapa provinsi, terutama di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Banten, Sumatera Selatan, dan Lampung.

Download PDF
Pada Januari 2009, NTPP 94,39, NTPH 99,75, NTPR 100,26, NTPT 103,98, dan NTN 105,34. Secara Gabungan, NTP Nasional 98,30. GKG Naik Sebesar 6,11 Persen dan GKP Naik Sebesar 1,27 Persen.

Pada Januari 2009, NTPP 94,39, NTPH 99,75, NTPR 100,26, NTPT 103,98, dan NTN 105,34. Secara Gabungan, NTP Nasional 98,30. GKG Naik Sebesar 6,11 Persen dan GKP Naik Sebesar 1,27 Persen.

2009-03-02

Pada Januari 2009, Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) tercatat sebesar 94,39, Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 99,75, Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 100,26, Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 103,98, dan untuk Nilai Tukar Nelayan (NTN) 105,34. Secara gabungan, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional sebesar 98,30. Ini berarti mengalami penurunan bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu sebesar 0,70 persen. Dari 32 provinsi yang dilaporkan pada Januari 2009, terdapat 18 provinsi mengalami kenaikan, 12 provinsi mengalami penurunan dan 2 provinsi cenderung stabil. Kenaikan tertinggi NTP Januari 2009 terjadi di Provinsi Kalimantan Tengah, yaitu sebesar 2,66 persen, karena indeks yang diterima naik hingga 2,59 persen (didominasi komoditi cabe rawit), sedang indeks yang dibayar hanya turun 0,07 persen. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Jawa Tengah yang turun sebesar 4,32 persen, disebabkan indeks yang diterima turun sebesar 4,16 persen (didominasi komoditi padi dan jagung) sedangkan indeks yang dibayar naik sebesar 0,16 persen. Pada Januari 2009, terjadi Inflasi di daerah pedesaan di Indonesia sebesar 0,45 persen. Inflasi pedesaan Januari 2009 ini dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga di 6 (enam) subkelompok, yaitu subkelompok bahan makanan 0,59 persen, makanan jadi 1,20 persen, perumahan 0,20 persen, sandang 0,96 persen, kesehatan 0,86 persen, serta pendidikan, rekreasi & olah raga 1,20 persen. Sedangkan subkelompok transportasi dan komunikasi turun 3,07 persen yang diakibatkan oleh penurunan bahan bakar minyak. Berdasarkan observasi sebanyak 864 transaksi gabah di 18 provinsi, rata-rata harga gabah di tingkat petani pada Februari 2009 dibandingkan keadaan Januari 2009 untuk kualitas Gabah Kering Giling (GKG) dan Gabah Kering Panen (GKP) mengalami kenaikan, yaitu GKG naik sebesar 6,11 persen dan GKP naik sebesar 1,27 persen. Sedangkan kualitas rendah/diluar kelompok kualitas mengalami penurunan sebesar 0,64 persen. Rata-rata harga gabah di tingkat penggilingan untuk kualitas GKG mencapai Rp3.219,- per kg, berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Rata-rata harga gabah untuk kualitas GKP mencapai Rp2.778,- per kg di tingkat petani dan Rp2.839,- per kg di tingkat penggilingan, keduanya berada di atas HPP. Persentase observasi harga gabah di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP mengalami penurunan, yaitu dari 18,43 persen pada Januari 2009 menjadi 10,57 persen pada Februari 2009. Persentase observasi gabah berkualitas rendah mengalami kenaikan, yaitu dari 14,03 persen pada Januari 2009 menjadi 23,38 persen pada Februari 2009. Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp1.800,- per kg dijumpai di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten (kualitas GKP). Harga tertinggi sebesar Rp3.800,- per kg dijumpai di Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat (kualitas GKG).

Download PDF
Pada Bulan Januari 2009 Jumlah Wisman 473,2 ribu orang atau naik 8,04%, Penumpang KA 4,49 juta orang, Penumpang angkutan laut DN 488,48 ribu orang atau turun 3,40 %, Penumpang angkutan udara domestik 2,72 juta orang atau turun 3,76 %

Pada Bulan Januari 2009 Jumlah Wisman 473,2 ribu orang atau naik 8,04%, Penumpang KA 4,49 juta orang, Penumpang angkutan laut DN 488,48 ribu orang atau turun 3,40 %, Penumpang angkutan udara domestik 2,72 juta orang atau turun 3,76 %

2009-03-02

Secara keseluruhan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia pada Januari 2009 mencapai 473,2 ribu orang atau naik 8,04 persen dibanding jumlah wisman Januari 2008 sebanyak 438,0 ribu orang. Sedangkan jika dibanding Desember 2008, jumlah wisman Januari 2009 turun 22,49 persen. Jumlah wisman yang datang melalui 11 pintu masuk utama pada Januari 2009 naik 9,23 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari 360,5 ribu orang menjadi 393,8 ribu orang. Sebaliknya jika dibanding Desember 2008, wisman yang datang melalui 11 pintu masuk turun 21,99 persen. Jumlah wisman ke Bali pada Januari 2009 naik 18,06 persen dibanding Januari 2008. Dibanding Desember 2008, jumlah wisman ke Bali mengalami penurunan sebesar 1,69 persen, yaitu dari 176,9 ribu orang menjadi 173,9 ribu orang pada Januari 2009. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 14 provinsi pada Januari 2009 mencapai rata-rata 45,10 persen, atau turun 4,59 poin dibanding TPK Desember 2008 yang sebesar 49,69 persen. TPK hotel berbintang di Bali turun 8,86 poin pada Januari 2009 bila dibanding Desember 2008, yaitu dari 62,23 persen pada Desember 2008 menjadi 53,37 persen pada Januari 2009. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 14 provinsi selama Januari 2009 adalah 2,22 hari, mengalami kenaikan 0,17 hari dibanding bulan Desember 2008 Mulai Desember 2008 lalu, penyajian statistik hotel telah berhasil diperpendek time lagnya menjadi satu bulan, sehingga time reference menjadi sama dengan penyajian statistik wisman. Jumlah penumpang kereta api bulan Januari 2009 mencapai 14,49 juta orang, yang berarti turun 5,47 persen dibanding bulan Desember 2008. Hal yang sama terjadi untuk barang yang diangkut kereta api turun 5,80 persen menjadi 1,53 juta ton. Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri bulan Januari 2009 tercatat sebesar 488,48 ribu orang atau turun 3,40 persen dibanding bulan Desember 2008. Pada saat yang sama, jumlah barang yang diangkut turun 6,74 persen menjadi 12,33 juta ton. Jumlah penumpang angkutan udara domestik bulan Januari 2009 mencapai 2,72 juta orang atau turun 3,76 persen dibanding bulan Desember 2008. Demikian juga jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) turun 12,11 persen menjadi 544,2 ribu orang.

Download PDF
Pada Januari 2009 Nilai Ekspor Indonesia Mencapai US$7,15 miliar atau Turun 17,70 Persen, Nilai Impor Indonesia Mencapai US$6,34 miliar atau Turun 17,63 Persen

Pada Januari 2009 Nilai Ekspor Indonesia Mencapai US$7,15 miliar atau Turun 17,70 Persen, Nilai Impor Indonesia Mencapai US$6,34 miliar atau Turun 17,63 Persen

2009-03-02

Nilai ekspor Indonesia Januari 2009 mencapai US$7,15 miliar atau mengalami penurunan sebesar 17,70 persen dibanding ekspor Desember 2008. Sementara bila dibanding Januari 2008 juga mengalami penurunan sebesar 36,08 persen. Ekspor nonmigas Januari 2009 mencapai US$6,21 miliar, turun 16,67 persen dibanding Desember 2008 sedangkan dibanding ekspor Januari 2008 menurun 30,64 persen. Penurunan ekspor nonmigas terbesar Januari 2009 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$191,9 juta, sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada timah sebesar US$47,5 juta. Ekspor nonmigas ke Jepang Januari 2009 mencapai angka terbesar yaitu US$788,0 juta, disusul Amerika Serikat US$772,3 juta dan Singapura US$594,5 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,72 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 27 negara ) sebesar US$1,03 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil pertanian periode Januari 2009 menurun 8,24 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, ekspor hasil industri turun sebesar 35,52 persen, demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya turun sebesar 1,24 persen. Nilai impor Indonesia Januari 2009 mencapai US$6,34 miliar atau menurun 17,63 persen dibanding Desember 2008 yang terdiri dari impor migas sebesar US$1,04 miliar (16,45 persen) dan impor nonmigas sebesar US$5,30 miliar (83,55 persen). Namun jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, nilainya menurun sebesar US$3,27 miliar atau 33,99 persen, dengan penurunan migas dan nonmigas masing-masing sebesar US$0,88 miliar (45,61 persen) dan US$2,39 miliar (31,09 persen). Nilai impor Kawasan Berikat Januari 2009 mencapai US$1,17 miliar atau menurun 16,63 persen dibanding Desember 2008, sedangkan dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya terjadi penurunan sebesar US$0,93 miliar atau 44,35 persen. Nilai impor di Luar Kawasan Berikat Januari 2009 mencapai US$5,17 miliar atau menurun 17,85 persen dibanding Desember 2008, sedangkan dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya menurun US$2,33 miliar atau 31,08 persen. Selama Januari 2009 impor nonmigas terbesar adalah mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$1,26 miliar atau 23,74 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ditempati oleh Cina dengan nilai US$1,03 miliar dengan pangsa 19,47 persen, diikuti Jepang US$0,76 miliar (14,37 persen) dan Singapura US$0,66 miliar (12,39 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 22,90 persen dan Uni Eropa sebesar 10,80 persen. Menurut golongan penggunaan barang, peranan impor untuk barang konsumsi dan barang modal selama Januari 2009 mengalami peningkatan dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya yaitu dari 6,75 persen menjadi 7,54 persen dan dari 16,71 persen menjadi 20,95 persen. Sedangkan peranan impor bahan baku/penolong menurun dari 76,54 persen menjadi 71,51 persen.

Download PDF
Pada Bulan Februari 2009 Terjadi Inflasi Sebesar 0,21 Persen

Pada Bulan Februari 2009 Terjadi Inflasi Sebesar 0,21 Persen

2009-03-02

Pada bulan Februari 2009 terjadi inflasi sebesar 0,21 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 114,02. Dari 66 kota, tercatat 53 kota mengalami inflasi dan 13 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Samarinda 1,62 persen dengan IHK 118,23 dan terendah terjadi di Manokwari 0,02 persen dengan IHK 127,44. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang 1,06 persen dengan IHK 118,53 dan terendah terjadi di Tangerang dan Banjarmasin masing-masing 0,03 persen dengan IHK 115,92 dan 114,78. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok- kelompok sebagai berikut : kelompok bahan makanan 0,95 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,91 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,28 persen, kelompok sandang 2,85 persen, kelompok kesehatan 0,17 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,04 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 2,43 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-Februari) 2009 sebesar 0,14 persen, sedangkan laju inflasi “year on year” (Februari 2009 terhadap Februari 2008) sebesar 8,60 persen. Inflasi komponen inti pada bulan Februari 2009 sebesar 0,68 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Februari) 2009 sebesar 1,12 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti ”year on year” (Februari 2009 terhadap Februari 2008) sebesar 7,42 persen.

Download PDF