Berita Statistik BPS Republik Indonesia
Kondisi Bisnis dan Ekonomi Konsumen Meningkat
2015-11-05
Penjelasan Umum Indeks Tendensi Bisnis (ITB) adalah indikator perkembangan ekonomi usaha terkini yang datanya diperoleh dari Survei Tendensi Bisnis (STB) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik bekerja sama dengan Bank Indonesia. ITB merupakan indeks yang menggambarkan kondisi bisnis dan perekonomian pada triwulan berjalan dan perkiraan pada triwulan mendatang. STB dilakukan setiap triwulan di beberapa kota besar terpilih di seluruh provinsi di Indonesia. Jumlah sampel STB triwulan III-2015 sebesar 3.981 perusahaan besar dan sedang, dengan responden pimpinan perusahaan. Kondisi Bisnis Triwulan III-2015 Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada triwulan III-2015 sebesar 106,04, berarti kondisi bisnis meningkat dari triwulan sebelumnya. Pelaku bisnis lebih optimis jika dibandingkan dengan triwulan II-2015 (nilai ITB sebesar 105,46). Peningkatan kondisi bisnis pada triwulan III-2015 terjadi pada sebagian besar lapangan usaha, kecuali lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (nilai ITB sebesar 99,57), Pertambangan dan Penggalian (nilai ITB sebesar 96,18), dan Industri Pengolahan (nilai ITB sebesar 99,26). Peningkatan tertinggi terjadi pada lapangan usaha Transportasi dan Pergudangan (nilai ITB sebesar 112,02), sedangkan peningkatan kondisi bisnis terendah terjadi pada lapangan usaha Real Estat (nilai ITB sebesar 101,65). Kondisi bisnis pada triwulan III-2015 meningkat karena adanya peningkatan pendapatan usaha (nilai indeks sebesar 108,20), kapasitas produksi/usaha (nilai indeks sebesar 104,95), dan rata-rata jumlah jam kerja (nilai indeks sebesar 104,71). Prospek Bisnis Triwulan IV-2015 Nilai ITB pada triwulan IV-2015 diprediksi sebesar 103,72 berarti kondisi bisnis diperkirakan akan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun, tingkat optimisme pelaku bisnis diperkirakan lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan III-2015 (nilai ITB sebesar 106,04). Kondisi bisnis di semua lapangan usaha pada triwulan IV-2015 diperkirakan mengalami peningkatan, kecuali lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (nilai ITB sebesar 98,80), dan Pertambangan dan Penggalian (nilai ITB sebesar 97,53). Peningkatan kondisi bisnis tertinggi diperkirakan terjadi pada lapangan usaha Informasi dan Komunikasi (nilai ITB sebesar 118,37), dan peningkatan terendah diperkirakan terjadi pada lapangan usaha Jasa Pendidikan (nilai ITB sebesar 101,06).
Download PDFEkonomi Indonesia Triwulan III-2015 Tumbuh 4,73 Persen Meningkat Dibanding Triwulan II-2015
2015-11-05
Perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan III-2015 mencapai Rp2.982,6 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.311,2 triliun.Ekonomi Indonesia triwulan III-2015 terhadap triwulan III-2014 (y-on-y) tumbuh 4,73 persen meningkat dibanding triwulan II-2015 yang tumbuh 4,67 persen, namun melambat dibanding capaian triwulan III-2014 yang tumbuh 4,92 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai Informasi dan Komunikasi yang tumbuh 10,83 persen. Dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 6,56 persen diikuti oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi LNPRT dan Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga.Ekonomi Indonesia triwulan III-2015 terhadap triwulan sebelumnya (q-to-q) tumbuh 3,21 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 7,03 persen, sedangkan dari sisi Pengeluaran pada Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 9,27 persen. Ekonomi Indonesia sampai dengan triwulan III-2015 (c-to-c) tumbuh 4,71 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha kecuali Pertambangan dan Penggalian yang mengalami penurunan sebesar 4,48 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran didorong oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang tumbuh 4,98 persen dan Komponen PMTB yang tumbuh 4,23 persen. Struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan III-2015 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 58,27 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 22,37 persen, dan Pulau Kalimantan 7,99 persen.
Download PDFAgustus 2015: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sebesar 6,18 Persen
2015-11-05
Angkatan kerja Indonesia pada Agustus 2015 sebanyak 122,4 juta orang, berkurang sebanyak 5,9 juta orang dibanding Februari 2015 dan bertambah sebanyak 510 ribu orang dibanding Agustus 2014. Penduduk bekerja pada Agustus 2015 sebanyak 114,8 juta orang, berkurang 6,0 juta orang dibanding keadaan Februari 2015 dan bertambah 190 ribu orang dibanding keadaan Agustus 2014.Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Agustus 2015 sebesar 6,18 persen meningkat dibanding TPT Februari 2015 (5,81 persen) dan TPT Agustus 2014 (5,94 persen).Selama setahun terakhir (Agustus 2014–Agustus 2015) kenaikan penyerapan tenaga kerja terjadi terutama di Sektor Konstruksi sebanyak 930 ribu orang (12,77 persen), Sektor Perdagangan sebanyak 850 ribu orang (3,42 persen), dan Sektor Keuangan sebanyak 240 ribu orang (7,92 persen).Penduduk bekerja di atas 35 jam per minggu (pekerja penuh) pada Agustus 2015 sebanyak 80,5 juta orang (70,12 persen), sedangkan penduduk yang bekerja kurang dari 15 jam per minggu sebanyak 6,5 juta orang (5,63 persen).Pada Agustus 2015, penduduk bekerja masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan SD ke bawah sebesar 44,27 persen, sementara penduduk bekerja dengan pendidikan Sarjana ke atas hanya sebesar 8,33 persen.
Download PDFProduksi Padi diperkirakan naik 5,85% dari produksi tahun 2014
2015-11-02
PADI Produksi padi tahun 2015 diperkirakan sebanyak 74,99 juta ton gabah kering giling (GKG) atau mengalami kenaikan sebanyak 4,15 juta ton (5,85 persen) dibandingkan tahun 2014. Kenaikan produksi diperkirakan terjadi karena kenaikan luas panen seluas 380,87 ribu hektar (2,76 persen) dan peningkatan produktivitas sebesar 1,54 kuintal/hektar (3,00 persen). JAGUNG Produksi jagung tahun 2015 diperkirakan sebanyak 19,83 juta ton pipilan kering atau mengalami kenaikan sebanyak 0,82 juta ton (4,34 persen) dibandingkan tahun 2014. Kenaikan produksi diperkirakan terjadi karena kenaikan produktivitas sebesar 1,85 kuintal/hektar (3,73 persen) dan kenaikan luas panen seluas 22,61 ribu hektar (0,59 persen). KEDELAI Produksi kedelai tahun 2015 diperkirakan sebanyak 982,97 ribu ton biji kering atau meningkat sebanyak 27,97 ribu ton (2,93 persen) dibandingkan tahun 2014. Peningkatan produksi kedelai diperkirakan terjadi karena kenaikan luas panen seluas 9,16 ribu hektar (1,49 persen) dan kenaikan produktivitas sebesar 0,22 kuintal/hektar (1,42 persen).
Download PDFPertumbuhan produksi IBS naik sebesar 4,22% dan IMK naik 6,87% pada QIII-2015 dari QIII-2014
2015-11-02
Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan III tahun 2015 naik sebesar 4,22 persen (y-on-y) terhadap triwulan III tahun 2014. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional, naik 15,31 persen, industri pengolahan lainnya, naik 13,53 persen dan industri mesin dan perlengkapan ytdl, naik 8,28 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri pakaian jadi, turun 12,01 persen, industri minuman, turun 7,38 persen, dan industri alat angkutan lainnya, turun 5,71 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan III tahun 2015 naik sebesar 1,04 persen (q-to-q) terhadap triwulan II tahun 2015. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan terbesar adalah industri mesin dan perlengkapan ytdl, naik 6,96 persen, industri alat angkutan lainnya, naik 5,81 persen, dan industri pengolahan lainnya, naik 4,87 persen. Sedangkan jenis-jenis industri yang mengalami penurunan produksi adalah industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, turun 2,91 persen, industri karet, barang dari karet dan plastik, turun 2,80 persen dan industri minuman, turun 2,78 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan III tahun 2015 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Aceh, naik 15,44 persen Provinsi Maluku, naik 12,21 persen, dan Provinsi D.K.I Jakarta, naik 11,30 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi D.I Yogyakarta, turun 9,15 persen, Provinsi Sumatera Barat, turun 3,96 persen , dan Jawa Tengah turun 3,11 persen.Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan III tahun 2015 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Bengkulu, naik 6,56 persen, Provinsi Bangka Belitung, naik 6,55 persen, dan Provinsi Sumatera Utara, naik 6,31 persen. Provinsi-provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Papua, turun 3,63 persen, Provinsi Jawa Tengah, turun 2,38 persen, dan Provinsi Sulawei Utara, turun 1,27 persen.
Download PDFWisman September 2015 Mencapai 869,2 Ribu. Naik 9,84% dibanding September 2014
2015-11-02
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada September 2015 mencapai 869,2 ribu kunjungan atau naik 9,84 persen dibandingkan jumlah kunjungan wisman September 2014 yang tercatat sebanyak 791,3 ribu kunjungan. Begitu pula, jika dibandingkan dengan Agustus 2015, jumlah kunjungan wisman September 2015 naik sebesar 2,19 persen. Jumlah kunjungan wisman melalui Bandara Ngurah Rai, Bali pada September 2015 naik 7,78 persen dibandingkan September 2014, yaitu dari 352,0 ribu kunjungan menjadi 379,4 ribu kunjungan. Demikian pula jika dibanding Agustus 2015, jumlah kunjungan wisman melalui Bandara Ngurah Rai, Bali naik cukup besar, yaitu 27,04 persen. Secara kumulatif (Januari–September) 2015, jumlah kunjungan wisman mencapai 7,19 juta kunjungan atau naik 3,53 persen dibanding kunjungan wisman pada periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah 6,95 juta kunjungan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 27 provinsi pada September 2015 mencapai rata-rata 56,26 persen atau naik 2,05 poin dibandingkan dengan TPK September 2014 yang tercatat sebesar 54,21 persen. Begitu pula jika dibanding TPK Agustus 2015, TPK hotel berbintang pada September 2015 naik 0,65 poin. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 27 provinsi selama September 2015 tercatat sebesar 1,96 hari, terjadi penurunan sebesar 0,06 poin, jika dibandingkan keadaan September 2014.
Download PDFNilai Tukar Petani (NTP) Oktober 2015 Sebesar 102,46 Atau Naik 0,13 Persen
2015-11-02
NTP nasional Oktober 2015 sebesar 102,46 atau naik 0,13 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,13 persen lebih besar dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,01 persen.Pada Oktober 2015, NTP Provinsi Bengkulu mengalami kenaikan tertinggi (1,31 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Kepulauan Riau mengalami penurunan terbesar (1,13 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Pada Oktober 2015 terjadi deflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,04 persen disebabkan oleh turunnya indeks kelompok bahan makanan.Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Oktober 2015 sebesar 108,69 atau naik 0,03 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.
Download PDFOktober 2015 harga grosir turun 0,33%
2015-11-02
Pada Oktober 2015 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen turun sebesar 0,33 persen terhadap bulan sebelumnya. Penurunan IHPB tertinggi terjadi pada Kelompok Barang Ekspor Nonmigas sebesar 1,98 persen. IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Oktober 2015 naik sebesar 0,25 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga komoditas perlengkapan listrik sebesar 1,02 persen, kaca lembaran 0,63 persen, pendingin ruangan 0,62 persen, bak dan tangki 0,62 persen, dan bahan bangunan dari aluminium 0,60 persen.IHPB Barang Konsumsi dan Barang Modal pada September 2015 masing-masing mengalami kenaikan sebesar 0,66 persen dan 0,74 persen, sedangkan IHPB Bahan Baku mengalami penurunan sebesar 0,05 persen.
Download PDFOktober 2015 terjadi deflasi 0,08 persen
2015-11-02
Pada Oktober 2015 terjadi deflasi sebesar 0,08 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 121,57. Dari 82 kota IHK, tercatat 44 kota mengalami deflasi dan 38 kota mengalami Inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan 1,95 persen dengan IHK 127,18 dan terendah terjadi di Padangsidimpuan 0,01 persen dengan IHK 118,04. Sementara inflasi tertinggi terjadi di Manado 1,49 persen dengan IHK 123,07 dan terendah terjadi di Yogyakarta 0,01 persen dengan IHK 119,15.Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan 1,06 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan indeks, yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,40 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,09 persen; kelompok sandang 0,25 persen; kelompok kesehatan 0,29 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,16 persen, dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,02 persen.Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Oktober) 2015 sebesar 2,16 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Oktober 2015 terhadap Oktober 2014) sebesar 6,25 persen.Komponen inti pada Oktober 2015 mengalami inflasi sebesar 0,23 persen; tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–Oktober) 2015 sebesar 3,55 persen; dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Oktober 2015 terhadap Oktober 2014) sebesar 5,02 persen.
Download PDFRupiah terdepresiasi 4,02 persen terhadap dolar Amerika pada September 2015
2015-10-15
Rupiah terdepresiasi 4,02 persen terhadap dolar Amerika pada September 2015. Level terendah rata-rata kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Amerika di 34 provinsi terjadi pada minggu kelima September 2015 yaitu Rp14.613,63 per dolar Amerika. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar Rp14.705,00 per dolar Amerika pada minggu kelima September 2015. Rupiah terdepresiasi 2,00 persen terhadap dolar Australia pada September 2015. Level terendah rata-rata kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Australia di 34 provinsi terjadi pada minggu kelima September 2015 yang mencapai Rp10.250,62 per dolar Australia. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Sulawesi Barat yang mencapai Rp10.406,00 per dolar Australia pada minggu ketiga September 2015. Rupiah terdepresiasi 4,13 persen terhadap yen Jepang pada September 2015. Level terendah rata-rata kurs tengah eceran rupiah terhadap yen Jepang di 34 provinsi terjadi pada minggu kelima September 2015 yang mencapai Rp121,44 per yen Jepang. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Sumatera Utara yang mencapai Rp122,72 per yen Jepang pada minggu kelima September 2015. Rupiah terdepresiasi 2,16 persen terhadap euro pada September 2015. Level terendah rata-rata kurs tengah eceran rupiah terhadap euro di 34 provinsi terjadi pada minggu kelima September 2015 yang mencapai Rp16.426,31 per euro. Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Sulawesi Barat yang mencapai Rp16.524,75 per euro pada minggu kelima September 2015.
Download PDF