Logo BPS
BPS REPUBLIK INDONESIA

Berita Statistik BPS Republik Indonesia

Upah Nominal harian Buruh Tani September 2015 Naik 0,23 Persen

Upah Nominal harian Buruh Tani September 2015 Naik 0,23 Persen

2015-10-15

Upah nominal harian buruh tani nasional pada September 2015 naik sebesar 0,23 persen dibanding upah buruh tani Agustus 2015, yaitu dari Rp46.629,00 menjadi Rp46.739,00 per hari. Upah riil mengalami kenaikan sebesar 0,26 persen1). Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada September 2015 naik 0,19 persen dibanding upah Agustus 2015, yaitu dari Rp80.342,00 menjadi Rp80.494,00 per hari. Upah riil mengalami kenaikan sebesar 0,24 persen1).

Download PDF
Ekspor September Mencapai US$ 12,5 Miliar

Ekspor September Mencapai US$ 12,5 Miliar

2015-10-15

Nilai ekspor Indonesia September 2015 mencapai US$12,5 miliar atau menurun 1,55 persen dibanding ekspor Agustus 2015. Demikian juga dibanding September 2014 menurun 17,98 persen. Ekspor nonmigas September 2015 mencapai US$11,1 miliar, turun 1,06 persen dibanding Agustus 2015, demikian juga dibanding ekspor September 2014 turun 12,45 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia JanuariSeptember 2015 mencapai US$115,1 miliar atau menurun 13,29 persen dibanding periode yang sama tahun 2014, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$100,7 miliar atau menurun 7,87 persen. Penurunan terbesar ekspor nonmigas September 2015 terhadap Agustus 2015 terjadi pada mesin-mesin/pesawat mekanik sebesar US$98,0 juta (18,18 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada perhiasan/permata sebesar US$127,4 juta (29,49 persen). Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat September 2015 mencapai angka terbesar yaitu US$1,3 miliar, disusul Jepang US$1,1 miliar dan Tiongkok US$1,1 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 30,93 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$1,2 miliar. Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan periode JanuariSeptember 2015 turun 7,57 persen dibanding periode yang sama tahun 2014, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 11,53 persen, sedangkan ekspor hasil pertanian naik 0,73 persen. Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada periode JanuariSeptember 2015 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$19,3 miliar (16,76 persen), diikuti Kalimantan Timur US$14,3 miliar (12,39 persen) dan Jawa Timur U$12,8 miliar (11,10 persen).

Download PDF
Kunjungan Wisatawan Mancanegara Agustus 2015 Mencapai 850,5 Ribu Kunjungan, Naik 2,87% dari Agustus 2014

Kunjungan Wisatawan Mancanegara Agustus 2015 Mencapai 850,5 Ribu Kunjungan, Naik 2,87% dari Agustus 2014

2015-10-01

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada Agustus 2015 mencapai 850,5 ribu kunjungan atau naik 2,87 persen dibandingkan jumlah kunjungan wisman Agustus 2014 yang tercatat sebanyak 826,8 ribu kunjungan. Begitu pula, jika dibandingkan dengan Juli 2015, jumlah kunjungan wisman Agustus 2015 naik sebesar 4,46 persen. Jumlah kunjungan wisman melalui Bandara Ngurah Rai, Bali pada Agustus 2015 turun 11,29 persen dibandingkan Agustus 2014, yaitu dari 336,6 ribu kunjungan menjadi 298,6 ribu kunjungan. Demikian pula jika dibanding Juli 2015, jumlah kunjungan wisman melalui Bandara Ngurah Rai, Bali turun cukup besar, yaitu 21,80 persen. Secara kumulatif (Januari–Agustus) 2015, jumlah kunjungan wisman mencapai 6,32 juta kunjungan atau naik 2,71 persen dibanding kunjungan wisman pada periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah 6,16 juta kunjungan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 27 provinsi pada Agustus 2015 mencapai rata-rata 55,61 persen atau naik 3,59 poin dibandingkan dengan TPK Agustus 2014 yang tercatat sebesar 52,02 persen. Begitu pula jika dibanding TPK Juli 2015, TPK hotel berbintang pada Agustus 2015 naik 4,36 poin. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 27 provinsi selama Agustus 2015 tercatat sebesar 1,93 hari, terjadi penurunan sebesar 0,08 poin, jika dibandingkan keadaan Agustus 2014.

Download PDF
Nilai Tukar Petani (NTP) September 2015 Sebesar 102,33 Atau Naik 1,04 Persen

Nilai Tukar Petani (NTP) September 2015 Sebesar 102,33 Atau Naik 1,04 Persen

2015-10-01

NTP nasional September 2015 sebesar 102,33 atau naik 1,04 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 1,09 persen lebih besar dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,05 persen.Pada September 2015, NTP Provinsi Sulawesi Selatan mengalami kenaikan tertinggi (2,05 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami penurunan terbesar (0,96 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Pada September 2015 terjadi deflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,02 persen disebabkan oleh turunnya indeks kelompok bahan makanan. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional September 2015 sebesar 108,66 atau naik 0,87 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.

Download PDF
September 2015 harga grosir turun 0,05%

September 2015 harga grosir turun 0,05%

2015-10-01

Pada September 2015 Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen turun sebesar 0,05 persen terhadap bulan sebelumnya. Penurunan IHPB terbesar terjadi pada Kelompok Barang Ekspor Nonmigas sebesar 1,24 persen.IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada September 2015 naik sebesar 0,15persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga komoditas tanah urug sebesar 5,03 persen, bak dan tangki 0,97 persen, pendingin ruangan 0,96 persen, perlengkapan listrik 0,74 persen, dan pasir0,65 persen.IHPB Bahan Baku, Barang Konsumsi, dan Barang Modal pada Agustus 2015 masing-masing mengalami kenaikan sebesar 0,87 persen, 2,89 persen, dan 0,58 persen.

Download PDF
September 2015 terjadi deflasi 0,05 persen

September 2015 terjadi deflasi 0,05 persen

2015-10-01

Pada September 2015 terjadi deflasi sebesar 0,05 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 121,67. Dari 82 kota IHK, tercatat 36 kota mengalami deflasi dan 46 kota mengalami Inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Sibolga 1,85 persen dengan IHK 120,15 dan terendah terjadi di Bandung 0,01 persen dengan IHK 120,61. Sementara inflasi tertinggi terjadi di Merauke 1,33 persen dengan IHK 123,20 dan terendah terjadi di Jakarta 0,01 persen dengan IHK 122,38. Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan 1,07 persen dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,40 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan indeks, yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,39 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,20 persen; kelompok sandang 0,83 persen; kelompok kesehatan 0,44 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,89 persen. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–September) 2015 sebesar 2,24 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2015 terhadap September 2014) sebesar 6,83 persen. Komponen inti pada September 2015 mengalami inflasi sebesar 0,44 persen; tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–September) 2015 sebesar 3,32 persen; dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (September 2015 terhadap September 2014) sebesar 5,07 persen.

Download PDF
Agustus 2015 Rupiah Terdepresiasi 4,69 Persen Terhadap Dolar Amerika

Agustus 2015 Rupiah Terdepresiasi 4,69 Persen Terhadap Dolar Amerika

2015-09-15

Rupiah terdepresiasi 4,69 persen terhadap dolar Amerika di Agustus 2015. Rupiah terdepresiasi 2,02 persen terhadap dolar Australia di Agustus 2015. Rupiah terdepresiasi 7,71 persen terhadap yen Jepang di Agustus 2015. Rupiah terdepresiasi 8,61 persen terhadap euro di Agustus 2015.

Download PDF
Upah nominal harian buruh tani nasional Agustus 2015 naik sebesar 0,12%

Upah nominal harian buruh tani nasional Agustus 2015 naik sebesar 0,12%

2015-09-15

Upah nominal harian buruh tani nasional pada Agustus 2015 naik sebesar 0,12 persen dibanding upah buruh tani Juli 2015, yaitu dari Rp46.572,00 menjadi Rp46.629,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,34 persenUpah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Agustus 2015 naik 0,06 persen dibanding upah Juli 2015, yaitu dari Rp80.293,00 menjadi Rp80.342,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,33 persen

Download PDF
Ekspor Agustus 2015 Mencapai US$12,70 Miliar

Ekspor Agustus 2015 Mencapai US$12,70 Miliar

2015-09-15

Nilai ekspor Indonesia Agustus 2015 mencapai US$12,70 miliar atau meningkat 10,79 persen dibanding ekspor Juli 2015. Sementara itu dibanding Agustus 2014 menurun 12,28 persen. Ekspor nonmigas Agustus 2015 mencapai US$11,17 miliar, naik 11,23 persen dibanding Juli 2015, sedangkan dibanding ekspor Agustus 2014 turun 5,99 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Agustus 2015 mencapai US$102,52 miliar atau menurun 12,70 persen dibanding periode yang sama tahun 2014, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$89,60 miliar atau menurun 7,30 persen. Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Agustus 2015 terhadap Juli 2015 terjadi pada perhiasan/permata sebesar US$237,1 juta (121,75 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada timah sebesar US$103,8 juta (99,96 persen). Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat Agustus 2015 mencapai angka terbesar yaitu US$1,33 miliar, disusul Tiongkok US$1,11 miliar dan Jepang US$1,05 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 31,24 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$1,23 miliar. Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan periode Januari-Agustus 2015 turun 7,36 persen dibanding periode yang sama tahun 2014, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 9,15 persen, sedangkan ekspor hasil pertanian naik 1,77 persen. Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada periode Januari-Agustus 2015 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$17,06 miliar (16,64 persen), diikuti Kalimantan Timur US$12,92 miliar (12,60 persen) dan Jawa Timur U$11,40 miliar (11,12 persen). Nilai impor Indonesia Agustus 2015 mencapai US$12,27 miliar atau naik 21,69 persen apabila dibandingkan Juli 2015. Akan tetapi turun 17,06 persen jika dibandingkan Agustus 2014. Impor nonmigas Agustus 2015 mencapai US$10,16 miliar atau naik 30,48 persen jika dibandingkan Juli 2015, namun turun 10,82 persen jika dibandingkan dibandingkan Agustus 2014. Impor migas Agustus 2015 mencapai US$2,11 miliar atau turun 8,12 persen jika dibandingkan Juli 2015. Demikian pula apabila dibandingkan Agustus 2014 turun 37,99 persen. Secara kumulatif nilai impor Januari–Agustus 2015 mencapai US$96,30 miliar atau turun 18,96 persen dibanding periode yang sama tahun 2014. Kumulatif nilai impor terdiri dari impor migas US$17,50 miliar (turun 40,41 persen) dan nonmigas US$78,80 miliar (turun 11,92 persen). Peningkatan impor nonmigas terbesar Agustus 2015 adalah mesin dan peralatan mekanik US$0,41 miliar (26,46 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan perhiasan/permata US$0,13 miliar (63,10 persen). Tiga negara asal barang impor nonmigas terbesar Januari–Agustus 2015 adalah Tiongkok dengan nilai US$19,02 miliar (24,13 persen), Jepang US$9,15 miliar (11,62 persen), dan Singapura US$5,81 miliar (7,37 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai pangsa pasar 21,93 persen, sementara dari Uni Eropa 9,54 persen. Nilai impor golongan barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari–Agustus 2015 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing sebesar 13,17 persen; 20,09 persen; dan 16,13 persen.

Download PDF
Persentase Penduduk Miskin Maret 2015 Mencapai 11,22 Persen

Persentase Penduduk Miskin Maret 2015 Mencapai 11,22 Persen

2015-09-15

Pada bulan Maret 2015, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,59 juta orang (11,22 persen), bertambah sebesar 0,86 juta orang dibandingkan dengan kondisi September 2014 yang sebesar 27,73 juta orang (10,96 persen). Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2014 sebesar 8,16 persen, naik menjadi 8,29 persen pada Maret 2015. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan naik dari 13,76 persen pada September 2014 menjadi 14,21 persen pada Maret 2015. Selama periode September 2014–Maret 2015, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebanyak 0,29 juta orang (dari 10,36 juta orang pada September 2014 menjadi 10,65 juta orang pada Maret 2015), sementara di daerah perdesaan naik sebanyak 0,57 juta orang (dari 17,37 juta orang pada September 2014 menjadi 17,94 juta orang pada Maret 2015). Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada Maret 2015 tercatat sebesar 73,23 persen, kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi September 2014 yaitu sebesar 73,47 persen. Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan relatif sama dengan di perdesaan, diantaranya adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, tempe, tahu, dan kopi. Sedangkan, untuk komoditi bukan makanan diantaranya adalah biaya perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi. Pada periode September 2014–Maret 2015, baik Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) cenderung mengalami kenaikan.

Download PDF