Berita Statistik BPS Republik Indonesia
Kunjungan wisman Juli 2015 mencapai 814,2 ribu, naik 4,76% dibanding Juli 2014
2015-09-01
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada Juli 2015 mencapai 814,2 ribu kunjungan atau naik 4,76 persen dibandingkan jumlah kunjungan wisman Juli 2014 yang tercatat sebanyak 777,2 ribu kunjungan. Sementara itu, jika dibandingkan dengan Juni 2015, jumlah kunjungan wisman Juli 2015 turun sebesar 0,11 persen. Jumlah kunjungan wisman melalui Bandara Ngurah Rai, Bali pada Juli 2015 naik 6,40 persen dibandingkan Juli 2014, yaitu dari 358,9 ribu kunjungan menjadi 381,9 ribu kunjungan. Begitu pula, jika dibanding Juni 2015, jumlah kunjungan wisman melalui Bandara Ngurah Rai, Bali naik sebesar 6,76 persen. Secara kumulatif (Januari–Juli) 2015, jumlah kunjungan wisman mencapai 5,47 juta kunjungan atau naik 2,69 persen dibanding kunjungan wisman pada periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah 5,33 juta kunjungan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 27 provinsi pada Juli 2015 mencapai rata-rata 51,25 persen atau naik 2,16 poin dibandingkan dengan TPK Juli 2014 yang tercatat sebesar 49,09 persen. Jika dibanding TPK Juni 2015, TPK hotel berbintang pada Juli 2015 turun 2,89 poin. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 27 provinsi selama Juli 2015 tercatat sebesar 1,90 hari, terjadi penurunan sebesar 0,20 poin, jika dibandingkan keadaan Juli 2014.
Download PDFNilai Tukar Petani (NTP) Agustus 2015 Sebesar 101,28 Atau Naik 0,31 Persen
2015-09-01
NTP nasional Agustus 2015 sebesar 101,28 atau naik 0,31 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,66 persen lebih besar dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,36 persen.Pada Agustus 2015, NTP Provinsi Jawa Timur mengalami kenaikan tertinggi (1,22 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Riau mengalami penurunan terbesar (2,00 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Pada Agustus 2015 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,47 persen disebabkan oleh naiknya indeks seluruh kelompok konsumsi. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Agustus 2015 sebesar 107,72 atau naik 0,54 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.
Download PDFAgustus 2015 harga grosir naik 1,65%
2015-09-01
Pada Agustus 2015, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen naik sebesar 1,65 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB tertinggi terjadi pada Sektor Pertanian sebesar 6,90 persen.IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Agustus 2015 naik sebesar 0,03 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga komoditas aspal sebesar 1,26 persen, pendingin ruangan 1,03 persen, batu split/pecah 0,65 persen, batu hias dan batu bangunan 0,51 persen, dan alat konstruksi 0,44 persen.IHPB Bahan Baku, Barang Konsumsi, dan Barang Modal pada Juli 2015 masing-masing mengalami kenaikan sebesar 0,29 persen, 1,07 persen, dan 0,09 persen.
Download PDFAgustus 2015 terjadi inflasi 0,39 persen
2015-09-01
Pada Agustus 2015 terjadi inflasi sebesar 0,39 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 121,73. Dari 82 kota IHK, tercatat 59 kota mengalami inflasi dan 23 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan 2,29 persen dengan IHK 128,17 dan terendah terjadi di Sumenep, Kediri, dan Probolinggo masing-masing 0,02 persen dengan IHK masing-masing 118,76, 119,65, dan 120,36. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Ambon 1,77 persen dengan IHK 119,95 dan terendah terjadi di Singkawang 0,01 persen dengan IHK 120,88. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan 0,91 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,71 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,16 persen; kelompok sandang 0,01 persen; kelompok kesehatan 0,70 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 1,72 persen. Sedangkan subkelompok yang mengalami penurunan indeks, yaitu kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,58 persen. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Agustus) 2015 sebesar 2,29 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Agustus 2015 terhadap Agustus 2014) sebesar 7,18 persen. Komponen inti pada Agustus 2015 mengalami inflasi sebesar 0,52 persen; tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Agustus) 2015 sebesar 2,87 persen; dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Agustus 2015 terhadap Agustus 2014) sebesar 4,92 persen.
Download PDFJuli 2015 Rupiah Terdepresiasi 1,25 Persen Terhadap Dolar Amerika
2015-08-18
Rupiah terdepresiasi 1,25 persen terhadap dolar Amerika di Juli 2015.Rupiah mencatat apresiasi 3,93 persen terhadap dolar Australia di Juli 2015.Rupiah terdepresiasi 1,52 persen terhadap yen Jepang di Juli 2015.Rupiah mencatat apresiasi 0,10 persen terhadap euro di Juli 2015.
Download PDFUpah nominal harian buruh tani nasional Juli 2015 naik sebesar 0,24%
2015-08-18
Upah nominal harian buruh tani nasional pada Juli 2015 naik sebesar 0,24 persen dibanding upah buruh tani Juni 2015, yaitu dari Rp46.458,00 menjadi Rp46.572,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,64 persen1).Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Juli 2015 naik 0,07 persen dibanding upah Juni 2015, yaitu dari Rp80.237,00 menjadi Rp80.293,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,85 persen1)
Download PDFEkspor Juli 2015 Mencapai US$11,41 Miliar
2015-08-18
Nilai ekspor Indonesia Juli 2015 mencapai US$11,41 miliar atau mengalami penurunan sebesar 15,53 persen dibanding ekspor Juni 2015. Sementara bila dibanding Juli 2014 mengalami penurunan sebesar 19,23 persen. Ekspor nonmigas Juli 2015 mencapai US$9,99 miliar, turun 17,23 persen dibanding Juni 2015, sementara bila dibanding ekspor Juli 2014 turun 14,11 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Juli 2015 mencapai US$89,76 miliar atau menurun 12,81 persen dibanding periode yang sama tahun 2014, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$78,37 miliar atau menurun 7,55 persen. Penurunan terbesar ekspor nonmigas Juli 2015 terhadap Juni 2015 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$339,0 juta (18,84 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$43,3 juta (3,42 persen). Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat Juli 2015 mencapai angka terbesar yaitu US$1,17 miliar, disusul Tiongkok US$1,10 miliar dan Jepang US$1,01 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 32,84 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$1,10 miliar. Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan periode Januari-Juli 2015 turun sebesar 7,65 persen dibanding periode yang sama tahun 2014, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 8,84 persen, sementara ekspor hasil pertanian naik sebesar 0,02 persen. Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada periode Januari-Juli 2015 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$14,84 miliar (16,53 persen), diikuti Kalimantan Timur sebesar US$11,42 miliar (12,72 persen) dan Jawa Timur sebesar U$10,09 miliar (11,24 persen). Nilai impor Indonesia Juli 2015 mencapai US$10,08 miliar atau turun 22,36 persen dibanding Juni 2015. Demikian pula apabila dibanding Juli 2014 turun 28,44 persen. Impor nonmigas Juli 2015 mencapai US$7,78 miliar atau turun 25,18 persen dibanding Juni 2015, juga turun 21,46 persen dibanding Juli 2014. Impor migas Juli 2015 mencapai US$2,29 miliar atau turun 10,99 persen dibanding Juni 2015, demikian juga jika dibanding Juli 2014 turun 45,02 persen. Secara kumulatif nilai impor Januari–Juli 2015 mencapai US$84,03 miliar atau turun 19,23 persen dibanding periode yang sama tahun 2014. Kumulatif nilai impor terdiri dari impor migas US$15,39 miliar (turun 40,73 persen) dan nonmigas US$68,63 miliar (turun 12,08 persen). Peningkatan impor nonmigas terbesar Juli 2015 adalah perhiasan/permata sebesar US$0,20 miliar (3.298,36 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan mesin dan peralatan mekanik US$0,47 miliar (23,61 persen). Tiga negara asal barang impor nonmigas terbesar Januari–Juli 2015 adalah Tiongkok dengan nilai US$16,50 miliar (24,04 persen), Jepang US$8,03 miliar (11,69 persen), dan Singapura US$5,01 miliar (7,31 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai pangsa pasar 21,86 persen, sementara dari Uni Eropa 9,44 persen. Nilai impor golongan barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari–Juli 2015 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing sebesar 14,10 persen; 20,45 persen; dan 15,66 persen.
Download PDFIndeks Demokrasi Indonesia (IDI) Nasional 2014 sebesar 73,04 naik dibandingkan dengan IDI 2013 sebesar 63,72
2015-08-13
Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) 2014 mencapai angka 73,04 dalam skala 0 sampai 100. Angka ini naik 9,32 poin dibandingkan dengan angka IDI 2013 yang sebesar 63,72. Capaian kinerja demokrasi Indonesia tersebut masih berada pada kategori “sedang” untuk klasifikasi tingkat demokrasi dikelompokkan menjadi tiga kategori, yakni: “baik” (indeks > 80), “sedang” (indeks 60–80), dan “buruk” (indeks < 60).Kenaikan IDI dari 2013–2014 dipengaruhi perubahan tiga aspek demokrasi yakni (1) Kebebasan Sipil naik 3,62 poin (dari 79,00 menjadi 82,62), (2) Hak-Hak Politik yang naik 17,47 poin (dari 46,25 menjadi 63,72), dan (3) Lembaga-lembaga Demokrasi yang naik 3,57 poin (dari 72,24 menjadi 75,81).Metodologi penghitungan IDI menggunakan 4 sumber data yaitu: (1) review surat kabar lokal, (2) review dokumen (Perda, Pergub, dll), (3) Focus Group Discussion (FGD), dan (4) wawancara mendalam.
Download PDFKondisi Bisnis dan Ekonomi Konsumen Meningkat.
2015-08-05
Penjelasan Umum Indeks Tendensi Bisnis (ITB) adalah indikator perkembangan ekonomi usaha terkini yang datanya diperoleh dari Survei Tendensi Bisnis (STB) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik bekerja sama dengan Bank Indonesia. ITB merupakan indeks yang menggambarkan kondisi bisnis dan perekonomian pada triwulan berjalan dan perkiraan pada triwulan mendatang. STB dilakukan setiap triwulan di beberapa kota besar terpilih di seluruh provinsi di Indonesia. Jumlah sampel STB triwulan II-2015 sebesar 3.280 perusahaan besar dan sedang, dengan responden pimpinan perusahaan. Kondisi Bisnis Triwulan II-2015 Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada triwulan II-2015 sebesar 105,46, berarti kondisi bisnis meningkat dari triwulan sebelumnya. Pelaku bisnis lebih optimis jika dibandingkan dengan triwulan I-2015 (nilai ITB sebesar 96,30).Peningkatan kondisi bisnis pada triwulan II-2015 terjadi pada semua lapangan usaha, kecuali lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian (nilai ITB sebesar 94,39). Peningkatan tertinggi terjadi pada lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (nilai ITB sebesar 111,90), sedangkan peningkatan kondisi bisnis terendah terjadi pada lapangan usaha Real Estat (nilai ITB sebesar 102,63). Kondisi bisnis pada triwulan II-2015 meningkat karena adanya peningkatan pendapatan usaha (nilai indeks sebesar 107,04), kapasitas produksi/usaha (nilai indeks sebesar 107,36), dan rata-rata jumlah jam kerja (nilai indeks sebesar 103,35). Prospek Bisnis Triwulan III-2015 Nilai ITB pada triwulan III-2015 diprediksi sebesar 106,09 berarti kondisi bisnis diperkirakan akan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Tingkat optimisme pelaku bisnis diperkirakan lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan II-2015 (nilai ITB sebesar 105,46).Kondisi bisnis di semua lapangan usaha pada triwulan III-2015 diperkirakan mengalami peningkatan, kecuali Pertambangan dan Penggalian (nilai ITB sebesar 91,31). Peningkatan kondisi bisnis tertinggi diperkirakan terjadi pada lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (nilai ITB sebesar 110,71), dan peningkatan terendah diperkirakan terjadi pada lapangan usaha Real Estat (nilai ITB sebesar 104,50).
Download PDFEkonomi Indonesia Triwulan II-2015 Tumbuh 4,67 Persen Sedikit Melambat Dibandingkan Triwulan I-2015
2015-08-05
Perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2015 mencapai Rp2.866,9 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.239,3 triliun.Ekonomi Indonesia triwulan II-2015 terhadap triwulan II-2014 (y-on-y) tumbuh 4,67 persen, melambat dibanding capaian triwulan II-2014 yang tumbuh 5,03 persen dan triwulan I-2015 yang tumbuh 4,72 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai Jasa Pendidikan yang tumbuh 12,16 persen. Dari sisi pengeluaran didukung oleh hampir semua komponen dengan pertumbuhan tertinggi dicapai Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang tumbuh 4,97 persen.Ekonomi Indonesia triwulan II-2015 terhadap triwulan sebelumnya tumbuh 3,78 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 10,09 persen, sedangkan dari sisi Pengeluaran pada Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 32,17 persen.Pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I-2015 (c-to-c) tumbuh 4,70 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha kecuali Pertambangan dan Penggalian yang mengalami penurunan sebesar 3,58 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran didorong oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang tumbuh 4,99 persen.Struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan II-2015 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 58,35 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 22,31 persen, dan Pulau Kalimantan 8,22 persen.
Download PDF