Logo BPS
BPS REPUBLIK INDONESIA

Berita Statistik BPS Republik Indonesia

Pada Januari 2013, terjadi Inflasi 1.03 Persen

Pada Januari 2013, terjadi Inflasi 1.03 Persen

2013-02-01

"Pada Januari 2013 terjadi inflasi sebesar 1,03 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 136,88. Dari 66 kota IHK, tercatat 62 kota mengalami inflasi dan 4 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sibolga 3,78 persen dengan IHK 145,96 dan terendah terjadi di Pontianak 0,01 persen dengan IHK 146,32 Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Sorong 0,98 persen dengan IHK 152,00 dan deflasi terendah terjadi di Ternate 0,20 persen dengan IHK 136,59. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks beberapa kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan 3,39 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,46 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,56 persen; kelompok sandang 0,25 persen; kelompok kesehatan 0,29 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,05 persen. Sedangkan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami penurunan indeks 0,28 persen. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari) 2013 sebesar 1,03 persen dan tingkat inflasi year on year (Januari 2013 terhadap Januari 2012) sebesar 4,57 persen. Komponen inti pada Januari 2013 mengalami inflasi sebesar 0,36 persen, tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari) 2013 sebesar 0,36 persen dan tingkat inflasi komponen inti year on year (Januari 2013 terhadap Januari 2012) sebesar 4,32 persen."

Download PDF
Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) Indonesia 2012 sebesar 3,55 dari skala 5

Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) Indonesia 2012 sebesar 3,55 dari skala 5

2013-01-02

"Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) Indonesia 2012 sebesar 3,55 dari skala 5. Artinya masyarakat Indonesia cenderung anti korupsi. (Catatan: nilai indeks 0-1,25 sangat permisif terhadap korupsi, 1,26-2,50 permisif, 2,51-3,75 anti korupsi, 3,76-5,00 sangat anti korupsi). IPAK di wilayah perkotaan sedikit lebih tinggi (3,66) dibanding di wilayah perdesaan (3,46). IPAK cenderung lebih tinggi pada responden usia kurang dari 60 tahun dibanding setelah usia 60 tahun ke atas. IPAK penduduk usia kurang dari 40 tahun sebesar 3,57, usia 40 sampai 59 tahun sebesar 3,58 dan 60 tahun ke atas sebesar 3,45. Artinya semangat anti korupsi antara usia tua dan usia muda tidak berbeda secara signifikan. Semakin tinggi pendidikan semakin tinggi IPAK. IPAK responden berpendidikan SLTP ke bawah sebesar 3,47, SLTA sebesar 3,78 dan di atas SLTA sebesar 3,93. Pendidikan berpengaruh cukup kuat pada semangat anti korupsi."

Download PDF
September 2012, Jumlah Penduduk Miskin Indonesia Mencapai 29,13 Juta Orang

September 2012, Jumlah Penduduk Miskin Indonesia Mencapai 29,13 Juta Orang

2013-01-02

"Pada bulan September 2012, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,59 juta orang (11,66 persen), berkurang sebesar 0,54 juta orang (0,30 persen) dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2012 yang sebesar 29,13 juta orang (11,96 persen). Selama periode Maret 2012-September 2012, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang 0,14 juta orang (dari 10,65 juta orang pada Maret 2012 menjadi 10,51 juta orang pada September 2012), sementara di daerah perdesaan berkurang 0,40 juta orang (dari 18,48 juta orang pada Maret 2012 menjadi 18,08 juta orang pada September 2012). Selama periode Maret 2012-September 2012, persentase penduduk miskin di daerah perkotaan dan perdesaan tercatat mengalami penurunan. Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2012 sebesar 8,78 persen, turun menjadi 8,60 persen pada September 2012. Sementara penduduk miskin di daerah perdesaan menurun dari 15,12 persen pada Maret 2012 menjadi 14,70 persen pada September 2012. Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada September 2012 tercatat sebesar 73,50 persen, kondisi ini tidak berbeda dengan kondisi Maret 2012 yang juga sebesar 73,50 persen. Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan relatif sama dengan di perdesaan, diantaranya adalah beras, rokok kretek filter, gula pasir, telur ayam ras, mie instan, tempe, dan tahu. Sedangkan, untuk komoditi bukan makanan diantaranya adalah biaya perumahan, pakaian jadi anak-anak, pakaian jadi perempuan dewasa, dan bensin. Pada periode Maret 2012-September 2012, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kenaikan. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin menjauhi Garis Kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin melebar."

Download PDF
Desember 2012, Harga Grosir Naik 0.03 Persen dibandingkan Bulan Sebelumnya

Desember 2012, Harga Grosir Naik 0.03 Persen dibandingkan Bulan Sebelumnya

2013-01-02

"Pada Desember 2012 Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas naik sebesar 0,03 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB terbesar terjadi pada Sektor Pertambangan dan Penggalian sebesar 0,19 persen. IHPB Bahan Baku, Barang Konsumsi, dan Barang Modal pada Desember 2012 masing-masing mengalami kenaikan sebesar 0,04 persen, 0,09 persen, dan 0,20 persen. IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Desember 2012 naik sebesar 0,10 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga barang barang-barang lainnya dari bahan bukan logam 0,58 persen, aspal 0,50 persen, bahan bangunan dari kayu 0,34 persen, dan barang galian segala jenis 0,33 persen."

Download PDF
Desember 2012, NTP Naik 0,14 Persen

Desember 2012, NTP Naik 0,14 Persen

2013-01-02

"Nilai Tukar Petani (NTP) nasional Desember 2012 sebesar 105,87 atau naik 0,14 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan naiknya NTP Subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,38 persen, NTP Subsektor Peternakan sebesar 0,20 persen, dan NTP Subsektor Perikanan sebesar 0,20 persen. Selama 2012 kenaikan NTP tertinggi pada Oktober 2012 yaitu naik sebesar 0,33 persen, sebaliknya penurunan NTP terbesar terjadi pada Februari 2012 yaitu sebesar 0,60 persen. Selama 2012 terjadi kenaikan NTP sebesar 0,11 persen. Pada Desember 2012, NTP Provinsi Banten mengalami kenaikan tertinggi (1,12 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Kalimantan Barat terjadi penurunan terbesar (1,08 persen) dibanding penurunan NTP provinsi lainnya. Pada Desember 2012 terjadi inflasi daerah perdesaan di Indonesia sebesar 0,43 persen. Hal ini disebabkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran konsumsi rumah tangga. Sedangkan inflasi perdesaan di Indonesia selama tahun 2012 sebesar 5,08 persen. Berdasarkan 992 transaksi penjualan gabah di 21 provinsi selama Desember 2012, didominasi transaksi gabah kering panen (GKP) 72,78 persen, gabah kualitas rendah 15,32 persen, dan gabah kering giling (GKG) 11,90 persen. Selama Desember 2012, rata-rata harga gabah kualitas GKP di petani Rp4.130,79 per kg (naik 2,04 persen) dan di penggilingan Rp4.210,90 per kg (naik 2,16 persen) dibandingkan kualitas yang sama November 2012. Sedangkan pada gabah kualitas GKG di petani Rp4.773,62 per kg (naik 4,09 persen) dan di penggilingan Rp4.851,92 per kg (naik 4,18 persen). Sebaliknya, pada gabah kualitas rendah di petani Rp3.780,99 per kg (turun 0,90 persen) dan di penggilingan Rp3.860,09 per kg (turun 0,83 persen). Dibandingkan Desember 2011, rata-rata harga keseluruhan kelompok kualitas gabah selama Desember 2012 meningkat. Di petani, harga gabah kualitas GKP naik 1,18 persen diikuti kualitas GKG 4,91 persen dan kualitas rendah 2,46 persen. Peningkatan harga juga terjadi di penggilingan yakni gabah kualitas GKP 1,57 persen, kualitas GKG 4,95 persen, dan kualitas rendah 2,26 persen. Selama Januari-Desember 2012, rata-rata harga tertinggi gabah kualitas GKP di petani Rp4.406,32 per kg terjadi di Januari 2012 dan terendah Rp3.621,41 per kg terjadi di Maret 2012."

Download PDF
November 2012, Jumlah Wisman Naik 5,94 Persen Dibandingkan November Tahun Lalu

November 2012, Jumlah Wisman Naik 5,94 Persen Dibandingkan November Tahun Lalu

2013-01-02

"Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada November 2012 mencapai 693,9 ribu orang atau naik 5,94 persen dibandingkan jumlah wisman November 2011, yang sebesar 654,9 ribu orang. Begitu pula, jika dibandingkan dengan Oktober 2012, jumlah kunjungan wisman November 2012 naik tipis sebesar 0,80 persen. Jumlah wisman yang datang melalui Bandara Ngurah Rai, Bali, selama November 2012 naik 7,96 persen dibandingkan November 2011, yaitu dari 220,3 ribu orang menjadi 237,9 ribu orang. Sementara itu, jika dibanding kedatangan wisman selama Oktober 2012, jumlah wisman ke Bali turun sebesar 5,87 persen. Secara kumulatif (Januari-November) 2012, jumlah kunjungan wisman mencapai 7,28 juta orang atau naik 5,09 persen dibanding kunjungan wisman pada periode yang sama tahun sebelumnya, yang berjumlah 6,93 juta orang. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 20 provinsi pada November 2012 mencapai rata-rata 55,28 persen, atau naik 2,31 poin dibandingkan dengan TPK November 2011, yang tercatat sebesar 52,97 persen. Demikian pula, bila dibanding TPK hotel pada Oktober 2012, TPK hotel berbintang pada November 2012 mengalami kenaikan 0,38 poin. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 20 provinsi selama November 2012 tercatat sebesar 1,91 hari, turun 0,02 hari dibanding keadaan November 2011. Jumlah penumpang angkutan udara domestik pada November 2012 sebanyak 4,7 juta orang atau turun 0,26 persen dibanding Oktober 2012. Demikian pula jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) turun 6,11 persen menjadi 944,3 ribu orang. Selama Januari-November 2012 jumlah penumpang domestik mencapai 49,7 juta orang atau naik 5,61 persen dan jumlah penumpang internasional mencapai 10,8 juta orang atau naik 9,81 persen dibanding periode yang sama tahun 2011. Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri yang diberangkatkan pada November 2012 tercatat 566,4 ribu orang atau naik 0,64 persen dibanding Oktober 2012. Pada saat yang sama jumlah barang yang diangkut naik 1,45 persen menjadi 16,6 juta ton. Selama Januari-November 2012 jumlah penumpang mencapai 6,3 juta orang atau turun 9,98 persen dibanding dengan periode yang sama tahun 2011 namun jumlah barang yang diangkut naik 12,02 persen atau mencapai 192,7 juta ton. Jumlah penumpang kereta api pada November 2012 sebanyak 15,8 juta orang atau turun 7,91 persen dibanding Oktober 2012. Hal yang sama terjadi pada angkutan barang turun 6,32 persen menjadi 2,0 juta ton. Selama Januari-November 2012 jumlah penumpang sebanyak 186,1 juta orang atau naik 1,95 persen dibanding periode yang sama tahun 2011. Hal yang sama, jumlah barang yang diangkut kereta api naik 16,47 persen menjadi 21,5 juta ton."

Download PDF
November 2012, Ekspor Indonesia Meningkat 7,30 Persen dan Impor Turun 1,67 Persen

November 2012, Ekspor Indonesia Meningkat 7,30 Persen dan Impor Turun 1,67 Persen

2013-01-02

"Nilai ekspor Indonesia November 2012 mencapai US$16,44 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 7,30 persen dibanding ekspor Oktober 2012. Sementara bila dibanding November 2011 mengalami penurunan sebesar 4,60 persen. Ekspor nonmigas November 2012 mencapai US$13,73 miliar, naik 8,36 persen dibanding Oktober 2012, demikian juga bila dibanding ekspor November 2011 naik 0,14 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-November 2012 mencapai US$174,76 miliar atau turun 6,25 persen dibanding periode yang sama tahun 2011, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$140,76 miliar atau turun 5,17 persen. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar November 2012 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$624,8 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada mesin/peralatan listrik sebesar US$66,1 juta. Ekspor nonmigas ke Cina November 2012 mencapai angka terbesar yaitu US$2,08 miliar, disusul Jepang US$1,51 miliar dan Singapura US$1,23 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 35,09 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$1,61 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari-November 2012 turun sebesar 4,64 persen dibanding periode yang sama tahun 2011, demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya turun 9,29 persen, sedangkan ekspor hasil pertanian naik sebesar 10,05 persen. Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada periode Januari-September 2012 berasal dari Kalimantan Timur dengan nilai US$25,31 miliar (17,70 persen), diikuti Jawa Barat sebesar US$20,90 miliar (14,62 persen) dan Riau sebesar U$20,37 miliar (14,25 persen). Nilai impor Indonesia November 2012 sebesar US$16,92 miliar atau turun 1,67 persen dibanding impor Oktober 2012 yang besarnya US$17,21 miliar. Dan jika dibanding impor November 2011 (US$15,39 miliar) juga naik 9,92 persen. Sementara itu, selama Januari-November 2012 nilai impor mencapai US$176,09 miliar atau meningkat 9,40 persen jika dibanding impor periode yang sama tahun sebelumnya (US$160,96 miliar). Impor nonmigas November 2012 sebesar US$12,85 miliar atau turun US$0,53 miliar (3,94 persen) dibanding Oktober 2012 (US$13,38 miliar), sedangkan selama Januari-November 2012 mencapai US$137,25 miliar atau naik 10,77 persen dibanding periode yang sama tahun 2011 (US$123,91 miliar). Impor migas November 2012 sebesar US$4,07 miliar atau naik US$0,24 miliar (6,27 persen) dibanding Oktober 2012 (US$3,83 miliar), sedangkan selama Januari-November 2012 mencapai US$38,85 miliar atau naik 4,84 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (US$37,05 miliar). Nilai impor nonmigas terbesar November 2012 adalah golongan barang mesin dan peralatan mekanik dengan nilai US$2,32 miliar atau turun 13,54 persen (US$0,37 miliar) dibanding impor golongan barang yang sama Oktober 2012 (US$2,69 miliar). Impor golongan barang tersebut selama Januari-November 2012 mencapai US$26,20 miliar atau meningkat 17,94 persen (US$3,99 miliar) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (US$22,21 miliar). Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-November 2012 masih ditempati oleh Cina dengan nilai US$26,42 miliar dengan pangsa 19,25 persen, diikuti Jepang US$21,11 miliar (15,38 persen) dan Amerika Serikat US$10,66 miliar (7,77 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai 21,31 persen, sementara dari Uni Eropa sebesar 9,26 persen. Nilai impor semua golongan penggunaan barang selama Januari-November 2012 dibanding impor periode yang sama tahun sebelumnya mengalami peningkatan untuk golongan bahan baku/penolong sebesar 7,87 persen dan barang modal sebesar 19,74 persen. Sedangkan golongan barang konsumsi turun 0,38 persen."

Download PDF
Pada Desember 2012, terjadi Inflasi 0.54 Persen

Pada Desember 2012, terjadi Inflasi 0.54 Persen

2013-01-02

"Pada Desember 2012 terjadi inflasi sebesar 0,54 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 135,49. Dari 66 kota IHK, pada bulan ini seluruhnya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jayapura 2,57 persen dengan IHK 132,71 dan terendah terjadi di Kendari 0,02 persen dengan IHK 141,15. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks seluruh kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan 1,59 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,29 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,17 persen; kelompok sandang 0,24 persen; kelompok kesehatan 0,18 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,05 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,26 persen. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Desember) 2012 dan tingkat inflasi year on year (Desember 2012 terhadap Desember 2011) sebesar 4,30 persen. Komponen inti pada Desember 2012 mengalami inflasi sebesar 0,28 persen, tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Desember) 2012 dan tingkat inflasi komponen inti year on year (Desember 2012 terhadap Desember 2011) sebesar 4,40 persen."

Download PDF
November 2012, Harga Grosir Turun 0.10 Persen dibandingkan Bulan Sebelumnya

November 2012, Harga Grosir Turun 0.10 Persen dibandingkan Bulan Sebelumnya

2012-12-03

"Pada November 2012 Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas turun sebesar 0,10 persen terhadap bulan sebelumnya. Penurunan IHPB terbesar terjadi pada Sektor Pertanian sebesar 0,72 persen. IHPB Barang Konsumsi dan Barang Modal pada November 2012 masing-masing mengalami penurunan sebesar 0,14 dan 0,05 persen, sedangkan IHPB Bahan Baku naik sebesar 0,10 persen. IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada November 2012 naik sebesar 0,26persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga barang galian segala jenis 0,69 persen, aspal 0,56 persen, dan semen 0,53 persen."

Download PDF
NTP Turun 0.03 Persen  dan Harga Gabah (GKP) Naik 3,00 Persen

NTP Turun 0.03 Persen dan Harga Gabah (GKP) Naik 3,00 Persen

2012-12-03

"Nilai Tukar Petani (NTP) nasional November 2012 sebesar 105,72 atau turun 0,03 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Penurunan NTP dikarenakan turunnya NTP Subsektor Hortikultura sebesar 0,73 persen, NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,42 persen, NTP Subsektor Peternakan sebesar 0,50 persen, dan NTP Subsektor Perikanan sebesar 0,22 persen. Pada November 2012, NTP Provinsi Maluku mengalami kenaikan tertinggi (0,52 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Gorontalo terjadi penurunan terbesar (1,02 persen) dibanding penurunan NTP provinsi lainnya. Pada November 2012 terjadi inflasi daerah perdesaan di Indonesia sebesar 0,22 persen terutama disebabkan oleh naiknya indeks Kelompok Makanan Jadi dan Kelompok Kesehatan. Berdasarkan 942 transaksi penjualan gabah di 19 provinsi selama November 2012, didominasi transaksi gabah kering panen (GKP) 74,84 persen, gabah kualitas rendah 14,12 persen, dan gabah kering giling (GKG) 11,04 persen. Selama November 2012, rata-rata harga gabah kualitas GKP di petani dan penggilingan masing-masing naik 3,00 persen menjadi Rp4.048,23 per kg dan Rp4.121,85 per kg dibandingkan kualitas yang sama Oktober 2012. Rata-rata harga gabah kualitas GKG di petani Rp4.585,88 per kg (naik 2,64 persen) dan di penggilingan Rp4.657,33 per kg (naik 2,47 persen). Sedangkan gabah kualitas rendah di petani Rp3.815,32 per kg (naik 4,03 persen) dan di penggilingan Rp3.892,54 per kg (naik 3,73 persen). Dibandingkan November 2011, rata-rata harga keseluruhan kelompok kualitas gabah selama November 2012 meningkat. Di petani, harga gabah kualitas GKP naik 2,60 persen diikuti kualitas GKG 4,27 persen dan kualitas rendah 5,03 persen. Peningkatan harga juga terjadi di penggilingan, yakni gabah kualitas GKP 2,86 persen, kualitas GKG 4,34 persen, dan kualitas rendah 5,09 persen."

Download PDF