Berita Statistik BPS Republik Indonesia
Ekonomi Indonesia Triwulan II 2020 Turun 5,32 Persen
2020-08-05
• Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2020 mencapai Rp3.687,7 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.589,6 triliun.• Ekonomi Indonesia triwulan II-2020 terhadap triwulan II-2019 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 5,32 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mengalami kontraksi pertumbuhan tertinggi sebesar 30,84 persen. Dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa serta Impor Barang dan Jasa mengalami kontraksi pertumbuhan masing-masing sebesar 11,66 persen dan 16,96 persen.• Ekonomi Indonesia triwulan II-2020 terhadap triwulan sebelumnya mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 4,19 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mengalami kontraksi pertumbuhan tertinggi sebesar 29,22 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa serta Impor Barang dan Jasa mengalami kontraksi pertumbuhan masing-masing sebesar 12,81 persen dan 14,16 persen.• Ekonomi Indonesia semester I-2020 terhadap semester I-2019 mengalami kontraksi sebesar 1,26 persen (c-to-c). Dari sisi produksi, kontraksi pertumbuhan terbesar terjadi pada Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 15,07 persen. Sementara dari sisi pengeluaran semua komponen terkontraksi, dengan kontraksi tertinggi terjadi pada Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 6,44 persen.• Struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan II-2020 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa sebesar 58,55 persen, dengan kinerja ekonomi yang mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 6,69 persen. Sementara itu kelompok Pulau Maluku dan Papua mencapai pertumbuhan tertinggi sebesar 2,36 persen, walaupun kontribusinya terkecil (kurang dari tiga persen) dibanding kelompok pulau lainnya.
Download PDFIDI Nasional 2019 Mengalami Peningkatan Dibandingkan dengan IDI Nasional 2018
2020-08-03
• Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) adalah indikator komposit yang menunjukkan tingkat perkembangan demokrasi di Indonesia. Tingkat capaiannya diukur berdasarkan pelaksanaan dan perkembangan 3 aspek, 11 variabel, dan 28 indikator demokrasi. • Metodologi penghitungan IDI menggunakan 4 sumber data yaitu: (1) review surat kabar lokal; (2) review dokumen (Perda, Pergub, dll); (3) Focus Group Discussion (FGD); dan (4) wawancara mendalam. • IDI 2019 mencapai angka 74,92 dalam skala 0 sampai 100. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan Angka IDI 2018 yang sebesar 72,39. Capaian kinerja demokrasi Indonesia tersebut masih berada pada kategori “sedang”. • IDI 2018–2019 dipengaruhi oleh penurunan aspek Kebebasan Sipil sebesar 1,26 poin (dari 78,46 menjadi 77,20), kenaikan aspek Hak-hak Politik sebesar 4,92 poin (dari 65,79 menjadi 70,71) dan kenaikan aspek Lembaga Demokrasi sebesar 3,48 poin (dari 75,25 menjadi 78,73).
Download PDFJumlah kunjungan wisman ke Indonesia Juni 2020 mencapai 160,28 ribu kunjungan.
2020-08-03
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia Juni 2020 mengalami penurunan sebesar 88,82 persen dibanding jumlah kunjungan pada Juni 2019. Selain itu, jika dibandingkan dengan Mei 2020, jumlah kunjungan wisman pada Juni 2020 juga mengalami penurunan sebesar 2,06 persen. Secara kumulatif (Januari–Juni 2020), jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 3,09 juta kunjungan atau turun 59,96 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun 2019 yang berjumlah 7,72 juta kunjungan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Juni 2020 mencapai rata-rata 19,70 persen atau turun 32,57 poin dibandingkan dengan TPK Juni 2019 yang tercatat sebesar 52,27 persen. Selain itu, jika dibanding TPK Mei 2020, TPK hotel klasifikasi bintang pada Juni 2020 mengalami kenaikan sebesar 5,25 poin. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel klasifikasi bintang selama Juni 2020 tercatat sebesar 1,69 hari, terjadi penurunan sebesar 0,08 poin jika dibandingkan keadaan Juni 2019.
Download PDFNilai Tukar Petani (NTP) Juli 2020 sebesar 100,09 atau naik 0,49 persen
2020-08-03
Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib).NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.NTP nasional Juli 2020 sebesar 100,09 atau naik 0,49 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,47 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) mengalami penurunan sebesar 0,02 persen.Secara nasional, NTP Januari–Juli 2020 sebesar 101,29 dengan nilai It sebesar 106,92 sedangkan Ib sebesar 105,55.Pada Juli 2020, NTP Provinsi Riau mengalami kenaikan tertinggi (3,57 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Aceh mengalami penurunan terbesar (1,23 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya.Pada Juli 2020 terjadi penurunan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Indonesia sebesar 0,13 persen yang disebabkan oleh turunnya indeks kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau.Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Juli 2020 sebesar 100,53 atau naik 0,28 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.Harga Gabah Kering Panen di Tingkat Petani naik 1,44 persen dan Harga Beras Premium di Penggilingan naik 0,13 persenDari 1.629 transaksi penjualan gabah di 28 provinsi selama Juli 2020, tercatat transaksi gabah kering panen (GKP) 60,28 persen, gabah kering giling (GKG) 20,81 persen, dan gabah luar kualitas 18,91 persen.Selama Juli 2020, rata-rata harga GKP di tingkat petani Rp4.788,- per kg atau naik 1,44 persen dan di tingkat penggilingan Rp4.883,- per kg atau naik 1,32 persen dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada bulan sebelumnya. Rata-rata harga GKG di tingkat petani Rp5.451,- per kg atau turun 6,74 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.601,- per kg atau turun 5,99 persen. Harga gabah luar kualitas di tingkat petani Rp4.387,- per kg atau naik 0,29 persen dan di tingkat penggilingan Rp4.487,- per kg atau naik 0,39 persen.Dibandingkan Juli 2019, rata-rata harga gabah pada Juli 2020 di tingkat petani untuk kualitas GKP, GKG, dan gabah luar kualitas masing-masing naik sebesar 3,68 persen, 3,30 persen, dan 3,11 persen. Di tingkat penggilingan, rata-rata harga pada Juli 2020 dibandingkan dengan Juli 2019 untuk kualitas GKP, GKG, dan gabah luar kualitas masing-masing naik sebesar 3,62 persen, 4,01 persen, dan 2,90 persen.Pada Juli 2020, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp9.932,- per kg, naik sebesar 0,13 persen dibandingkan bulan sebelumnya, sedangkan beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp9.316,- per kg atau turun sebesar 1,37 persen, dan rata-rata harga beras luar kualitas di penggilingan sebesar Rp8.920,- per kg atau turun sebesar 0,07 persen.Selama Juli 2020, survei harga produsen beras di penggilingan dilakukan terhadap 1.041 observasi beras di penggilingan pada 803 perusahaan penggilingan di 31 provinsi.Dibandingkan dengan Juli 2019, rata-rata harga beras di penggilingan pada Juli 2020 untuk kualitas premium dan kualitas medium masing-masing naik sebesar 4,33 persen, dan 1,14 persen, sedangkan untuk beras luar kualitas turun 0,13 persen.
Download PDFIndeks Harga Perdagangan Besar IHPB Juli 2020 Umum Nasional turun 0,08 persen
2020-08-03
Pada Juli 2020, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nasional turun sebesar 0,08 persen terhadap Juni 2020. Penurunan IHPB tertinggi terjadi pada Sektor Pertanian sebesar 0,38 persen. Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga pada Juli 2020 antara lain kelapa, bawang merah, ayam ras, bawang putih, gula pasir, dan daging ayam ras. Perubahan IHPB di tahun kalender 2020 adalah sebesar 0,68 persen dan perubahan IHPB tahun ke tahun sebesar 0,81 persen. IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Juli 2020 turun sebesar 0,01 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan oleh penurunan harga komoditas kayu gelondongan, kayu kaso, aspal, besi beton, dan rangka atap baja.
Download PDFHarga Produsen Mengalami Deflasi 1,44 Persen di Triwulan II 2020
2020-08-03
Indeks Harga Produsen (IHP) gabungan tiga sektor (Sektor Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, dan Industri Pengolahan) pada triwulan II-2020 turun 1,44 persen terhadap triwulan I-2020 (q-to-q) dan turun 0,73 persen terhadap triwulan II-2019 (y-on-y).IHP Sektor Pertanian triwulan II-2020 turun 1,47 persen terhadap triwulan I-2020 (q-to-q) dan naik 2,67 persen terhadap triwulan II-2019 (y-on-y). IHP Sektor Pertambangan dan Penggalian triwulan II-2020 turun 12,13 persen dibandingkan triwulan I-2020 (q-to-q) dan turun 20,79 persen terhadap triwulan II-2019 (y-on-y). IHP Sektor Industri Pengolahan triwulan II-2020 turun 0,01 persen terhadap triwulan I-2020 (q-to-q) dan naik 1,26 persen terhadap triwulan II-2019 (y-on-y). IHP Sektor Pengadaan Listrik dan Gas triwulan II-2020 turun 0,01 persen dibandingkan dengan triwulan I-2020 (q-to-q) dan terhadap triwulan II- 2019 (y-on-y) naik 0,06 persen. IHP Sektor Pengelolaan Air triwulan II-2020 tidak mengalami perubahan jika dibandingkan dengan triwulan I-2020 (q-to-q) dan naik 0,57 persen terhadap triwulan II-2019 (y-on-y). IHP Sektor Angkutan Penumpang triwulan II-2020 turun 1,31 persen terhadap triwulan I-2020 (q-to-q) dan terhadap triwulan II-2019 (y-on-y) turun 4,55 persen. IHP Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makanan Minuman triwulan II- 2020 turun 0,24 persen terhadap triwulan I-2020 (q-to-q) dan naik 0,30 persen terhadap triwulan II-2020 (y-on-y). IHP Sektor Jasa Pendidikan triwulan II-2020 turun 0,68 persen terhadap triwulan I-2020 (q-to-q) sedangkan terhadap triwulan II-2019 (y-on-y) naik 2,33 persen. IHP Sektor Jasa Kesehatan triwulan II-2020 naik 0,34 persen terhadap triwulan I-2020 (q-to-q) dan naik 1,29 persen terhadap triwulan II-2020 (y-on-y).
Download PDFDeflasi terjadi pada Juli 2020 sebesar 0,10 persen. Deflasi tertinggi terjadi di Manokwari sebesar 1,09 persen.
2020-08-03
Pada Juli 2020 terjadi deflasi sebesar 0,10 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 104,95. Dari 90 kota IHK, 61 kota mengalami deflasi dan 29 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Manokwari sebesar 1,09 persen dengan IHK sebesar 107,21 dan terendah terjadi di Gunungsitoli, Bogor, Bekasi, Luwuk, dan Bulukumba masing-masing sebesar 0,01 persen dengan IHK masing-masing sebesar 103,29; 106,22; 106,98; 107,22; dan 106,05. Sementara inflasi tertinggi terjadi di Timika sebesar 1,45 persen dengan IHK sebesar 106,95 dan terendah terjadi di Jember dan Banyuwangi masing-masing sebesar 0,01 persen dengan IHK masing-masing sebesar 104,77 dan 103,50.Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,73 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,01 persen; dan kelompok transportasi sebesar 0,17 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks, yaitu: kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,09 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,10 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,29 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,15 persen; kelompok pendidikan sebesar 0,16 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,15 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,93 persen.Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Juli) 2020 sebesar 0,98 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Juli 2020 terhadap Juli 2019) sebesar 1,54 persen.Komponen inti pada Juli 2020 mengalami inflasi sebesar 0,16 persen. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari– Juli) 2020 sebesar 1,03 persen dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Juli 2020 terhadap Juli 2019) sebesar 2,07 persen.
Download PDFGini Ratio Maret 2020 tercatat sebesar 0,381
2020-07-15
Pada Maret 2020, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh Gini Ratio adalah sebesar 0,381. Angka ini meningkat 0,001 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2019 yang sebesar 0,380 dan menurun 0,001 poin dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2019 yang sebesar 0,382.Gini Ratio di daerah perkotaan pada Maret 2020 tercatat sebesar 0,393, naik dibanding Gini Ratio September 2019 yang sebesar 0,391 dan Gini Ratio Maret 2019 yang sebesar 0,392. Gini Ratio di daerah perdesaan pada Maret 2020 tercatat sebesar 0,317, naik dibanding Gini Ratio September 2019 yang sebesar 0,315 dan tidak berubah dibanding Gini Ratio Maret 2019 yang sebesar 0,317.Berdasarkan ukuran ketimpangan Bank Dunia, distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 17,73 persen. Hal ini berarti pengeluaran penduduk pada Maret 2020 berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah. Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 16,93 persen yang berarti tergolong pada kategori ketimpangan sedang. Sementara untuk daerah perdesaan, angkanya tercatat sebesar 20,62 persen, yang berarti tergolong dalam kategori ketimpangan rendah.
Download PDFPersentase Penduduk Miskin Maret 2020 naik menjadi 9,78 persen
2020-07-15
Persentase penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 9,78 persen, meningkat 0,56 persen poin terhadap September 2019 dan meningkat 0,37 persen poin terhadap Maret 2019. Jumlah penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 26,42 juta orang, meningkat 1,63 juta orang terhadap September 2019 dan meningkat 1,28 juta orang terhadap Maret 2019. Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2019 sebesar 6,56 persen, naik menjadi 7,38 persen pada Maret 2020. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2019 sebesar 12,60 persen, naik menjadi 12,82 persen pada Maret 2020. Dibanding September 2019, jumlah penduduk miskin Maret 2020 di daerah perkotaan naik sebanyak 1,3 juta orang (dari 9,86 juta orang pada September 2019 menjadi 11,16 juta orang pada Maret 2020). Sementara itu, daerah perdesaan naik sebanyak 333,9 ribu orang (dari 14,93 juta orang pada September 2019 menjadi 15,26 juta orang pada Maret 2020). Garis Kemiskinan pada Maret 2020 tercatat sebesar Rp454.652,-/ kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp335.793,- (73,86 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp118.859,- (26,14 persen). Pada Maret 2020, secara rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,66 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp2.118.678,-/rumah tangga miskin/bulan.
Download PDFUpah Nominal Harian Buruh Tani Nasional Juni 2020 Naik Sebesar 0,19 Persen
2020-07-15
• Upah nominal buruh/pekerja adalah rata-rata upah harian yang diterima buruh sebagai balas jasa pekerjaan yang telah dilakukan. • Upah riil buruh/pekerja menggambarkan daya beli dari pendapatan/upah yang diterima buruh/pekerja. • Upah riil buruh tani adalah perbandingan antara upah nominal buruh tani dengan indeks konsumsi rumah tangga perdesaan, sedangkan upah riil buruh bangunan adalah perbandingan upah nominal buruh bangunan terhadap indeks harga konsumen perkotaan. • Upah nominal harian buruh tani nasional pada Juni 2020 naik sebesar 0,19 persen dibanding upah buruh tani Mei 2020, yaitu dari Rp55.396,00 menjadi Rp55.503,00 per hari. Sementara itu, upah riil buruh tani mengalami kenaikan sebesar 0,11 persen. • Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Juni 2020 naik 0,06 persen dibanding upah Mei 2020, yaitu dari Rp89.684,00 menjadi Rp89.737,00 per hari. Sementara upah riil mengalami penurunan sebesar 0,12 persen.
Download PDF