Berita Statistik BPS Republik Indonesia
Nilai Tukar Petani (NTP) Februari 2020 sebesar 103,35 atau turun 0,78 persen
2020-03-02
Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib).NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.NTP nasional Februari 2020 sebesar 103,35 atau turun 0,78 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun sebesar 0,38 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik sebesar 0,40 persen.Pada Februari 2020, NTP Provinsi Sulawesi Barat mengalami kenaikan tertinggi (2,05 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Riau mengalami penurunan terbesar (4,86 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya.Pada Februari 2020 terjadi perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Indonesia sebesar 0,48 persen disebabkan oleh naiknya indeks di sebelas kelompok penyusun IKRT, terutama Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau.Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Februari 2020 sebesar 104,13 atau turun 0,57 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.Harga Gabah Kering Panen di Tingkat Petani turun 1,84 persen dan Harga Beras Premium di Penggilingan naik 0,48 persenDari 1.303 transaksi penjualan gabah di 26 provinsi selama Februari 2020, tercatat transaksi gabah kering panen (GKP) 57,87 persen, gabah kering giling (GKG) 27,55 persen, dan gabah luar kualitas 14,58 persen.Selama Februari 2020, rata-rata harga GKP di tingkat petani Rp5.176,00 per kg atau turun 1,84 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.276,00 per kg atau turun 1,77 persen dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada bulan sebelumnya. Rata-rata harga GKG di tingkat petani Rp5.826,00 per kg atau naik 0,50 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.944,00 per kg atau naik 0,56 persen. Harga gabah luar kualitas di tingkat petani Rp4.774,00 per kg atau naik 1,80 persen dan di tingkat penggilingan Rp4.883,00 per kg atau naik 1,27 persen.Dibandingkan Februari 2019, rata-rata harga gabah pada Februari 2020 di tingkat petani untuk kualitas GKP dan gabah luar kualitas masing-masing mengalami kenaikan sebesar 1,22 persen dan 3,42 persen, sedangkan GKG mengalami penurunan sebesar 0,02 persen. Di tingkat penggilingan, rata-rata harga pada Februari 2020 dibandingkan dengan Februari 2019 untuk kualitas GKP dan gabah luar kualitas masing-masing mengalami kenaikan sebesar 1,04 persen dan 3,42 persen, sedangkan kualitas GKG mengalami penurunan sebesar 0,13 persen.Pada Februari 2020, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp10.081,00 per kg, naik sebesar 0,48 persen dibandingkan bulan sebelumnya, kualitas medium sebesar Rp9.844,00 per kg atau naik sebesar 0,39 persen, dan rata-rata harga beras luar kualitas di penggilingan sebesar Rp9.522,00 per kg atau naik sebesar 0,03 persen.Selama Februari 2020, survei harga produsen beras di penggilingan dilakukan terhadap 1.031 observasi beras di penggilingan pada 896 perusahaan penggilingan di 31 provinsi.Dibandingkan dengan Februari 2019, rata-rata harga beras di penggilingan pada Februari 2020 untuk kualitas premium, kualitas medium, dan luar kualitas masing-masing naik sebesar 0,73 persen, 0,45 persen dan 0,50 persen.
Download PDFFebruari 2020, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nasional naik 0,24 persen
2020-03-02
Pada Februari 2020, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nasional naik sebesar 0,24 persen terhadap Januari 2020. Kenaikan IHPB tertinggi terjadi pada Sektor Pertanian sebesar 0,59 persen. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Februari 2020 antara lain bawang putih, ayam ras, daging ayam ras, gula pasir, dan rokok kretek dengan filter. Perubahan IHPB di tahun kalender 2020 adalah sebesar 0,53 persen dan perubahan IHPB tahun ke tahun sebesar 1,86 persen. IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Februari 2020 turun sebesar 0,18 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan oleh penurunan harga komoditas solar, atap dan sejenisnya, besi beton, besi konstruksi bangunan, dan rangka atap baja.
Download PDFFebruari 2020 inflasi sebesar 0,28 persen. Inflasi tertinggi terjadi di Sintang sebesar 1,21 persen.
2020-03-02
Pada Februari 2020 terjadi inflasi sebesar 0,28 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 104,62. Dari 90 kota IHK, 73 kota mengalami inflasi dan 17 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sintang sebesar 1,21 persen dengan IHK sebesar 109,73 dan terendah terjadi di Pare-pare sebesar 0,02 persen dengan IHK sebesar 103,82. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan sebesar 1,20 persen dengan IHK sebesar 103,66 dan terendah terjadi di Padangsidimpuan sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 104,01.Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,95 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,21 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,09 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,06 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,34 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,07 persen; kelompok pendidikan sebesar 0,02 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,17 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,41 persen. Sementara kelompok yang mengalami deflasi, yaitu kelompok transportasi sebesar 0,37 persen; dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen.Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Februari) 2020 sebesar 0,66 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Februari 2020 terhadap Februari 2019) sebesar 2,98 persen.Komponen int pada Februari 2020 mengalami inflasi sebesar 0,14 persen. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–Februari) 2020 sebesar 0,33 persen dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Februari 2020 terhadap Februari 2019) sebesar 2,76 persen.
Download PDFUpah Nominal Harian Buruh Tani Nasional Januari 2020 Naik Sebesar 0,59 Persen
2020-02-17
• Upah nominal buruh/pekerja adalah rata-rata upah harian yang diterima buruh sebagai balas jasa pekerjaan yang telah dilakukan.• Upah riil buruh/pekerja menggambarkan daya beli dari pendapatan/upah yang diterima buruh/pekerja.• Upah riil buruh tani adalah perbandingan antara upah nominal buruh tani dengan indeks konsumsi rumah tangga perdesaan, sedangkan upah riil buruh bangunan adalah perbandingan upah nominal buruh bangunan terhadap indeks harga konsumen perkotaan.• Upah nominal harian buruh tani nasional pada Januari 2020 naik sebesar 0,59 persen dibanding upah buruh tani Desember 2019, yaitu dari Rp54.723,00 menjadi Rp55.046,00 per hari. Sementara itu, upah riil buruh tani mengalami penurunan sebesar 0,29 persen.• Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Januari 2020 naik 0,34 persen dibanding upah Desember 2019, yaitu dari Rp89.179,00 menjadi Rp89.478,00 per hari. Upah riil mengalami penurunan sebesar 0,05 persen.
Download PDFEkspor Januari 2020 Mencapai US$13,41 Miliar dan Impor Januari 2020 sebesar US$14,28 Miliar
2020-02-17
Nilai ekspor Indonesia Januari 2020 mencapai US$13,41 miliar atau menurun 7,16 persen dibanding ekspor Desember 2019. Demikian juga dibanding Januari 2019 menurun 3,71 persen. Ekspor nonmigas Januari 2020 mencapai US$12,61 miliar, turun 5,33 persen dibanding Desember 2019. Sementara itu dibanding ekspor nonmigas Januari 2019, turun 0,69 persen.Penurunan terbesar ekspor nonmigas Januari 2020 terhadap Desember 2019 terjadi pada lemak dan minyak hewani/nabati sebesar US$703,2 juta (34,08 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada logam mulia dan perhiasan/permata sebesar US$219,0 juta (57,84 persen). Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari 2020 naik 3,16 persen dibanding bulan yang sama tahun 2019, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 4,54 persen, sementara ekspor hasil tambang dan lainnya turun 19,15 persen. Ekspor nonmigas Januari 2020 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$2,10 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,62 miliar dan Jepang US$1,12 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 38,41 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,18 miliar. Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari 2020 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$2,34 miliar (17,47 persen), diikuti Jawa Timur US$1,58 miliar (11,76 persen) dan Kalimantan Timur US$1,26 miliar (9,38 persen).Nilai impor Indonesia Januari 2020 mencapai US$14,28 miliar atau turun 1,60 persen dibanding Desember 2019. Demikian pula jika dibanding Januari 2019 turun 4,78 persen Impor nonmigas Januari 2020 mencapai US$12,29 miliar atau turun 0,69 persen dibanding Desember 2019. Demikian pula dibanding Januari 2019 turun 7,85 persen. Impor migas Januari 2020 mencapai US$1,99 miliar atau turun 6,85 persen dibanding Desember 2019. Sebaliknya jika dibanding Januari 2019 meningkat 19,95 persen. Jika dibanding Desember 2019, penurunan impor nonmigas terbesar selama Januari 2020 adalah golongan buah-buahan US$180,4 juta (76,21 persen), sedangkan peningkatan terbesar adalah golongan kendaraan dan bagiannya sebesar US$189,9 juta (43,36 persen). Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari 2020 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai US$3,95 miliar (32,11 persen), Jepang US$1,09 miliar (8,90 persen), dan Singapura US$0,79 miliar (6,42 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 19,29 persen, sementara dari Uni Eropa 9,32 persen. Nilai impor golongan penggunaan barang baik barang konsumsi dan barang modal selama Januari 2020 mengalami penurunan dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu 11,19 persen dan 8,99 persen. Sebaliknya nilai impor golongan bahan baku/penolong meningkat 1,67 persen.
Download PDFIndeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2019 mencapai 71,92
2020-02-17
Pembangunan manusia di Indonesia terus mengalami kemajuan. Pada tahun 2019, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia mencapai 71,92. Angka ini meningkat sebesar 0,53 poin atau tumbuh sebesar 0,74 persen dibandingkan tahun 2018.Bayi yang lahir pada tahun 2019 memiliki harapan untuk dapat hidup hingga 71,34 tahun, lebih lama 0,14 tahun dibandingkan dengan mereka yang lahir tahun sebelumnya.Anak-anak yang pada tahun 2019 berusia 7 tahun memiliki harapan dapat menikmati pendidikan selama 12,95 tahun (hampir setara dengan masa pendidikan untuk menamatkan jenjang Diploma I), lebih lama 0,04 tahun dibandingkan dengan yang berumur sama pada tahun 2018.Penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 8,34 tahun (hampir setara dengan masa pendidikan untuk menamatkan jenjang kelas IX), lebih lama 0,17 tahun dibandingkan tahun sebelumnya.Pada tahun 2019, masyarakat Indonesia memenuhi kebutuhan hidup dengan rata-rata pengeluaran per kapita yang disesuaikan (PPP) sebesar 11,30 juta rupiah per tahun, meningkat 240 ribu rupiah dibandingkan pengeluaran tahun sebelumnya.
Download PDFEkonomi Indonesia 2019 Tumbuh 5,02 Persen
2020-02-05
• Perekonomian Indonesia tahun 2019 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp15 833,9 triliun dan PDB Perkapita mencapai Rp59,1 Juta atau US$4 174,9.• Ekonomi Indonesia tahun 2019 tumbuh 5,02 persen, lebih rendah dibanding capaian tahun 2018 sebesar 5,17 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 10,55 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 10,62 persen.• Ekonomi Indonesia triwulan IV-2019 dibanding triwulan IV-2018 tumbuh 4,97 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 10,78 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar 4,97 persen.• Ekonomi Indonesia triwulan IV-2019 dibanding triwulan III-2019 mengalami kontraksi sebesar 1,74 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, hal ini disebabkan oleh efek musiman pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang mengalami penurunan 20,52 persen. Dari sisi pengeluaran, disebabkan oleh komponen Ekspor Barang dan Jasa yang mengalami kontraksi sebesar 2,55 persen.• Struktur ekonomi Indonesia secara spasial tahun 2019 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 59,00 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 21,32 persen, dan Pulau Kalimantan 8,05 persen.
Download PDFIndeks Tendensi Bisnis dan Indeks Tendensi Konsumen Triwulan IV-2019 dan Perkiraan Triwulan I-2020
2020-02-05
Indeks Tendensi Bisnis (ITB) triwulan IV-2019 sebesar 104,82 menunjukkan tumbuhnya kondisi bisnis, walaupun dengan optimisme pelaku bisnis yang lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (ITB triwulan III-2019 sebesar 105,33).Pada triwulan I-2020 kondisi bisnis diperkirakan masih tumbuh, tetapi dengan tingkat optimisme yang lebih rendah dibandingkan dengan triwulan IV-2019. Nilai ITB triwulan I-2020 diperkirakan sebesar 102,90.Indeks Tendensi Konsumen (ITK) triwulan IV-2019 sebesar 107,86 menunjukkan bahwa secara umum kondisi ekonomi dan optimisme konsumen meningkat jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (ITK triwulan III-2019 sebesar 101,03).Ekonomi konsumen triwulan I-2020 diperkirakan masih meningkat, meskipun tingkat optimismenya lebih rendah jika dibandingkan triwulan sebelumnya (ITK triwulan I-2020 sebesar 103,23).
Download PDFLuas panen dan produksi padi pada tahun 2019 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2018 masing-masing sebesar 6,15 dan 7,76 persen
2020-02-04
Luas panen padi pada 2019 diperkirakan sebesar 10,68 juta hektar atau mengalami penurunan sebanyak 700,05 ribu hektar atau 6,15 persen dibandingkan tahun 2018.Produksi padi pada 2019 diperkirakan sebesar 54,60 juta ton GKG atau mengalami penurunan sebanyak 4,60 juta ton atau 7,76 persen dibandingkan tahun 2018.Jika produksi padi pada tahun 2019 dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras pada 2019 sebesar 31,31 juta ton atau mengalami penurunan sebanyak 2,63 juta ton atau 7,75 persen dibandingkan tahun 2018.
Download PDFPertumbuhan Produksi IBS Tahun 2019 Naik 4,01 Persen dibandingkan Tahun 2018
2020-02-03
• Pertumbuhan industri manufaktur besar dan sedang tahun 2019 naik sebesar 4,01 persen terhadap tahun 2018. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri pencetakan dan reproduksi media rekaman, naik 19,58 persen. Sedangkan industri yang mengalami penurunan produksi terbesar adalah industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya, turun 18,49 persen. • Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV tahun 2019 naik sebesar 3,62 persen (y-on-y) terhadap triwulan IV tahun 2018. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional, naik 18,58 persen. Sedangkan industri yang mengalami penurunan produksi terbesar adalah industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya, turun 19,78 persen. • Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV tahun 2019 naik sebesar 0,09 persen (q-to-q) terhadap triwulan III tahun 2019. Industri yang mengalami kenaikan produksi tertinggi adalah industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, naik 13,07 persen. Sedangkan industri yang mengalami penurunan terbesar adalah industri komputer, barang elektronik dan optik, turun 11,85 persen. • Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV tahun 2019 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Maluku Utara, naik 41,84 persen. Sedangkan provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Provinsi Jambi, turun 35,58 persen. • Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV tahun 2019 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur, naik 27,83 persen. Sedangkan provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Provinsi Papua, turun 24,60 persen.
Download PDF